Arsip tema sepekan

Bagikan artikel ini :

The Courage To Begin: Breaking The Illusion Of Perfect Timing (Berani Memulai: Mengalahkan Ilusi Waktu Yang Tepat)

Pengkhotbah 11:4-6; Efesus 2:10

 

EKSPRESI PRIBADI

Di era informasi digital, orang bukan hanya menerima lebih banyak informasi, tetapi juga dihadapkan pada lebih banyak pilihan. Salah satu contohnya adalah ketika seseorang hendak mencari tempat makan. Saat tempat favorit tutup atau ketika berada di daerah baru, tidak sedikit orang menghabiskan waktu lama menelusuri restoran demi restoran, membandingkan rating, membaca ulasan, hingga melihat foto-fotonya Ironisnya, pencarian itu tetap bisa berakhir dengan kekecewaan. Sebab, sebanyak apa pun informasi yang dimiliki, tidak ada jaminan bahwa pilihan tersebut benar-benar yang terbaik.

Mencari yang terbaik ternyata bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal waktu. Banyak orang berkata, “Saya hanya ingin menunggu waktu yang tepat.” Kalimat itu terdengar bijaksana. Memang tidak ada yang salah dengan tidak bertindak gegabah. Namun, sering kali yang sebenarnya ditunggu bukanlah waktu yang tepat, melainkan waktu yang bebas dari risiko. Manusia menginginkan kepastian sebelum melangkah, seolah-olah akan datang suatu hari ketika tidak ada lagi alasan untuk ragu dan tidak ada lagi risiko yang perlu dihadapi.

 

EKSPLORASI FIRMAN

Pengkhotbah 11:4–6 bukan melarang seseorang mempertimbangkan waktu dengan bijaksana. Yang dikritik adalah sikap yang terus menunda karena menuntut kepastian sebelum bertindak. “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur, dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai” (ay. 4). Bukan berarti angin dan awan tidak penting bagi seorang petani. Justru sebaliknya, seorang petani harus mengerti kondisi cuaca dan memperhatikannya. Namun, jika ia terus menunggu kondisi yang sempurna, ia tidak akan pernah mulai menabur. Keinginan menghilangkan semua risiko justru berpotensi melumpuhkan tindakan.

Pengkhotbah kemudian menjelaskan alasan di balik perkataannya. “Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan bagaimana tulang-tulang terbentuk dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu” (ay. 5). Manusia memang memiliki kemampuan untuk merencanakan dan mempertimbangkan banyak kemungkinan. Namun, pada akhirnya selalu ada batas yang tidak dapat ditembus oleh pengetahuan manusia. Ada hal-hal yang memang akan tetap berada dalam kedaulatan Allah dan di luar kendali manusia.

Karena itu, solusi Pengkhotbah bukanlah menunggu sampai semua ketidakpastian hilang. Sebaliknya, ia berkata, “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan jangan memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari” (ay. 6). Ajakan ini bukan untuk bertindak secara gegabah, melainkan untuk tetap setia mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan meskipun hasil akhirnya belum dapat diketahui. Pengkhotbah mengingatkan bahwa manusia tidak pernah mengetahui benih mana yang akan bertumbuh atau pekerjaan mana yang akan menghasilkan buah. Tanggung jawab manusia adalah menabur, bukan menentukan hasil akhir.

Orang Kristen masa kini hidup dalam realitas yang sama dengan Pengkhotbah. Dalam Efesus 2:10, Rasul Paulus menuliskan bahwa orang percaya adalah “buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.” Perhatikan bahwa Allah tidak hanya menyelamatkan manusia berdosa (ay. 8–9), tetapi juga memanggil umat-Nya untuk melakukan pekerjaan yang telah dipersiapkan oleh-Nya. Allah menghendaki agar orang percaya hidup dalam pekerjaan-pekerjaan itu. Dengan kata lain, kehidupan Kristen bukanlah kehidupan yang pasif. Kehidupan Kristen tidak menunggu sampai segala sesuatu menjadi sempurna, tetapi setiap hari melangkah dalam ketaatan kepada panggilan Allah.

Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, masalah utama manusia bukanlah masa depan yang tidak dapat diprediksi. Yang lebih mendasar adalah kecenderungan manusia menjadikan kepastian sebagai syarat bagi ketaatan. Dengan cara ini, manusia berusaha mengendalikan apa yang sebenarnya hanya berada di dalam tangan Allah.

Pengkhotbah membongkar cara berpikir tersebut. Allah tidak pernah menjanjikan bahwa manusia akan mengetahui seluruh masa depannya sebelum bertindak. Sebaliknya, Allah memanggil umat-Nya untuk hidup dengan iman di tengah realitas sebagai ciptaan yang terbatas. Orang percaya tidak dipanggil untuk berjalan berdasarkan kepastian tentang masa depan, melainkan berdasarkan kepastian akan Pribadi Allah yang memegang masa depan.

 

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Mengapa keinginan untuk mengendalikan hasil sering kali membuat seseorang gagal memulai pekerjaan yang telah Tuhan percayakan? Lalu, apa perbedaan antara bertindak dengan hikmat dan menunda karena menginginkan kepastian?

Penerapan

Apakah saat ini ada keputusan, pelayanan, tanggung jawab, atau langkah ketaatan yang terus ditunda karena menunggu “waktu yang tepat”? Keputusan dan tindakan apa yang dapat dilakukan minggu ini untuk mulai mengerjakan pekerjaan baik yang telah Allah percayakan, sambil menyerahkan hasilnya kepada kedaulatan Tuhan?

 

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group dengan saling mendoakan satu dengan yang lain. [PC]