SHAPED BY WISDOM: Responding Wisely Under Pressure
1 Samuel 25:2–35
Ekspresi Pribadi
Pernahkah Anda mengirim pesan saat sedang marah, lalu beberapa menit kemudian Anda menyesal dan berharap bisa menariknya kembali? Atau mengucapkan sesuatu yang tidak pantas ketika konflik terjadi yang sebenarnya tidak akan pernah Anda katakan kalau kita punya waktu untuk berpikir lebih lama?
Banyak konflik dalam keluarga, gereja, tempat kerja, atau pertemanan sebenarnya bukan terjadi karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena terlalu depat dalam bereaksi. Ketika tertekan dalam kondisi terpojok, manusia cenderung bersikap menyerang, membela diri, menyalahkan, atau bahkan membalas. Apalagi kita hidup dalam budaya yang sering menganggap reaksi spontan sebagai kejujuran: “Saya cuma mengatakan apa yang saya rasakan.” Padahal tidak selalu harus demikian. Pada saat demikianlah kita butuh hikmat untuk dapat memilih respons yang tepat sehingga tidak salah dalam melangkah. Kisah Abigail dalam 1 Samuel 25 menunjukkan seperti apa hikmat itu bekerja ketika keadaan benar-benar berada di luar kendali.
Eksplorasi Firman
Abigail berada di tengah situasi yang sangat berbahaya. Ia berada di tengah dua laki-laki yang sama-sama sulit dikendalikan. Di satu sisi ada Nabal, suaminya, yang digambarkan sebagai orang yang berperangai kikir dan juga “kasar serta jahat kelakuannya” (ay. 3). Kasar disini artinya keras kepala dan suka bertengkar. Sedangkan jahat disini artinya tidak jujur atau suka menipu. Suatu kombinasi yang buruk! Sesuai dengan arti dari namanya, “bebal.” Maka tidak heran, ketika Daud meminta bagian yang layak bagi orang-orangnya yang selama ini turut menjaga para gembala Nabal, Nabal menjawab dengan penghinaan dan merendahkan Daud (ay. 10–11). Di sisi lain ada Daud yang sedang sangat marah dan bereaksi keras terhadap perlakuan Nabal. Daud bahkan berangkat bersama empat ratus orang untuk melakukan pembalasan terhadapnya (ay. 13). Dalam ayat 21–22 terlihat jelas bahwa Daud bukan lagi sekadar ingin menuntut keadilan; ia sudah dikuasai oleh keinginan membalas dendam.
Abigail tidak menciptakan konflik tersebut, tetapi ia harus berada di tengah akibatnya. Yang menarik adalah bagaimana cara ia merespons. Sangat menarik jika kita mengamati bagaimana wanita ini menangani konflik. Sikap dan keputusannya menunjukkan bahwa ia seorang yang berhikmat. Tindakannya itu secantik dari parasnya.
Hikmat Mengendalikan Respons, Bukan Dikuasai Reaksi
Ketika mendengar apa yang terjadi, Abigail “segera” bertindak (ay. 18). Kata “segera” muncul beberapa kali dalam kisah ini dan menunjukkan bahwa Abigail memahami gentingnya situasi. Namun cepat disini tidak sama dengan gegabah. Abigail bertindak dengan terukur, masuk akal dan penuh perhitungan. Artinya ia cepat sekaligus cermat. Ia tidak dikuasai oleh emosinya tetapi oleh pemikirannya logis yang baik. Cukup mencerminkan bahwa ia adalah seorang wanita pemikir kritis dan bijak. Buktinya, ia segera menyiapkan makanan dalam jumlah besar, mengatur langkah dan para bujangnya, lalu pergi menemui Daud (ay. 18–20). Disini kita melihat bagaimana Abigail tidak membuang waktu hanya untuk mengeluh tentang Nabal atau menyalahkan keadaan. Ia bertindak dengan penuh hikmat. Semuanya sudah dipikirkan masak-masak, apa yang harus ia lakukan dan katakan.
Dia tahu betul pendekatan apa yang tepat ketika ia bertemu dengan Daud. Bukan dengan konfrontasi, kemarahan buta dan sikap menantang. Sebaliknya ia merendahkan diri dengan bersikap sujud di hadapannya (ay. 23), serta berbicara penuh hormat, “Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu” (ay. 24). Perhatikan Abigail menyebut Daud sebagai tuanku sebanayk 8 kali dan dirinya sebagai hambamu sebanyak 6 kali. Pada dasarnya Abigail tidak sedang mengakui bahwa kesalahan Nabal sebenarnya adalah kesalahannya. Ia sedang mengambil tanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusi. Ia berusaha meredakan ketegangan. Inilah salah satu bentuk hikmat yang paling sulit yaitu tidak bertanya terlebih dahulu siapa yang salah atau berupaya menyalahkan, tetapi bertanya apa yang benar untuk dilakukan sekarang.
Disini Abigail mengajarkan bahwa kita mungkin tidak dapat mengendalikan tindakan orang lain, tetapi kita bisa mengendalikan respons kita sendiri dengan dewasa, penuh perhitungan dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, sebelum merespons, belajarlah berhenti dan bertanya: “Apakah saya sedang bereaksi karena emosi, atau merespons dengan hikmat?” Jangan biarkan emosi mengambil alih kemudi hidup kita dalam mengambil respons atau keputusan. Tapi biarlah hikmat Tuhan yang mengendalikannya. Pasti kita tidak asal dan salah melangkah serta mengambil keputusan.
Hikmat Membawa Kepada Perspektif Tuhan
Abigail tidak berhenti pada usaha meredakan kemarahan Daud. Ia membawa Daud melihat situasinya dari perspektif yang lebih besar. Abigail berkata bahwa Tuhan akan membangun keturunan yang teguh bagi Daud karena Daud melakukan peperangan Tuhan (ay. 28). Lalu Ia mengingatkan Daud tentang siapa dirinya di hadapan Tuhan. Ia adalah seorang raja yang dipilih atas Israel. Kemudian dengan tegas ia mengingatkannya agar jangan sampai kelak Daud menanggung penyesalan karena menumpahkan darah tanpa alasan dan membalas dengan tangannya sendiri (ay. 30–31). Dengan kata lain Abigail sedang berkata: “Daud, jangan biarkan kemarahan sesaat membuatmu bertindak bertentangan dengan panggilan Tuhan atas hidupmu.” Sebab pembunuhan yang dilakukan oleh Daud dapat menodai panggilan dan riwayat kehidupannya yang mentereng itu. Daud akhirnya sadar. Ia berkata: “Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini.” (ay. 32) Daud menyadari bahwa melalui Abigail, Tuhan sedang menyelamatkannya dari dosa yang hampir ia lakukan
Di sinilah kita melihat bahwa hikmat dapat menjadi sarana anugerah Tuhan bagi orang lain. Orang berhikmat bukan hanya mampu mengendalikan dirinya; tetapi menjadi berkat dengan menolong orang lain melihat hidupnya dari perspektif Tuhan.
Saat berada di tengah konflik, Tuhan menghendaki kita menjadi seperti Abigail. Hadir bukan untuk menambah panasnya konflik, tetapi membawa ketenangan, damai dan perspektif Tuhan ke dalamnya. Itulah respons yang didasarkan pada adanya hikmat. Dimana semua itu dapat terjadi ketika melibatkan dan bergantung pada Tuhan, Sang Sumber Hikmat!
Aplikasi Kehidupan
Pendalaman
Dari cara Abigail menghadapi konflik dalam ayat 18–31, bagian mana yang paling menunjukkan bahwa hikmat bukan sekadar ketenangan, tetapi kemampuan memilih tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan? Mengapa?
Penerapan
Pikirkan satu konflik atau relasi yang sedang menekan Anda saat ini. Selama ini Anda lebih banyak bereaksi atau merespons? Satu langkah konkret apa yang Tuhan ingin Anda lakukan minggu ini untuk membawa hikmat dan damai ke dalam situasi tersebut?
Saling Mendoakan
Akhirilah Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain. [DA]
