Arsip tema sepekan

Bagikan artikel ini :

Shaped by Listening: The God Who Call and the Heart That Hears (Dibentuk Melalui Pendengaran: Allah yang Memanggil dan Hati yang Mendengar)

1 Samuel 3:1-10, 19-21

 

EKSPRESI PRIBADI

Jika kita berbicara tentang kepekaan, sebenarnya manusia memiliki berbagai macam kepekaan dalam hidupnya. Ada orang yang sangat peka terhadap perubahan suasana. Baru masuk ke sebuah ruangan, dia bisa langsung merasakan: “Sepertinya ada sesuatu yang berbeda.” Tidak ada yang mengatakan apa-apa, tetapi dia bisa merasakan bahwa suasananya sedang tidak baik. Ada orang yang peka terhadap perasaan orang lain. Dia bisa melihat seseorang tersenyum, tetapi dia tahu: “Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja. Ada juga orang yang sangat peka terhadap bau. Sedikit saja ada bau yang berbeda, dia langsung sadar. Dan tentu saja ada kepekaan pendengaran. Ada orang yang bisa mendengar suara yang sangat kecil. Bahkan ada orang tua yang mungkin sedang tidur, tetapi ketika anaknya menangis sedikit saja, langsung terbangun.

 

Jadi sebenarnya hidup kita sangat dipengaruhi oleh kepekaan. Kepekaan membuat kita mampu menangkap sesuatu yang mungkin tidak ditangkap oleh orang lain. Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: Bagaimana dengan kepekaan rohani kita? Apakah kita peka terhadap apa yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidup kita?

 

EKSPLORASI FIRMAN

Menarik di dalam 1 Samuel 3:1 mengatakan: “Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering.” Kemudian Tuhan memanggil: “Samuel! Samuel!” Samuel mendengar. Artinya, telinganya berfungsi. Tetapi ada masalah: bahwa Samuel belum mengenali siapa yang sedang berbicara. Ia mengira Eli yang memanggilnya. Ini menunjukkan bahwa mendengar dan mengenali adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa mendengar Firman Tuhan setiap minggu, tetapi belum tentu kita mengenali bahwa Tuhan sedang berbicara secara pribadi kepada kita. Kita bisa mendengar: “Ampunilah.” Tetapi hati kita berkata: “Tidak bisa.” Atau kita bisa mendengar: “Percayalah kepada Tuhan.” Tetapi kita tetap ingin mengendalikan semuanya sendiri.

  

Karena itu penting bagi kita memahami bahwa Tuhan memanggil, tetapi kita harus belajar mengenali suara-nya. Samuel mendengar: “Samuel! Samuel!” Ia langsung bangun dan datang kepada Eli. Samuel berpikir Nabi Eli yang memanggilnya. Dan hal itu terjadi sampai tiga kali. Samuel mendengar, tetapi belum mengenali. Ini juga bisa terjadi dalam kehidupan rohani kita. Kita mungkin mengalami sesuatu dan langsung berkata: “Ini pasti Tuhan.” Tetapi pertanyaannya: Apakah kita benar-benar mengenal suara Tuhan? Karena, kehidupan Kristen bukan hanya tentang mendengar lebih banyak, tetapi tentang belajar mengenali suara yang benar.

 

Kebenaran kedua yang kita bisa lihat dari bagian ini bahwa Tuhan tidak selalu sulit didengar; sering kali kita yang terlalu bising. Jika kita memperhatikan bersama Eli akhirnya memahami bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel. Lalu Eli mengajarkan Samuel bagaimana merespons: “Pergilah tidur, dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Kata mendengar disini di dalam terjemahan bahasa Ibrani menggunakan kata shōmēaʿ dalam konteks Ibrani dapat membawa pendengaran menuju respons dan ketaatan. Memberikan penekanan bahwa mendengar tidak berhenti di telinga, tetapi mendengar bergerak menuju hati, pengertian, dan ketaatan. Seringkali kita datang ke ibadah dengan tubuh di gereja tetapi pikiran ada di mana-mana. Kita mendengar khotbah sambil berpikir: “Bagus nggak ya khotbahnya?” “Pembicaranya menarik nggak?” “Lebih bagus kalau disampaikan seperti pendeta X.” dan tanpa sadar, kita menjadi penilai, bukan pendengar. Di tengah suara kebisingan di dalam hidup kita, mari kita belajar juga untuk memberikan perhatian (mendengar) dan berani berkata di dalam doa kita, "Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.

 

Kebenaran yang ketiga yang bisa kita dapat adalah Mendengar Tuhan bukan sekadar mendapatkan informasi, tetapi mengalami transformasi. Disini Samuel menempatkan dirinya sebagai seorang hamba yang siap menerima perkataan tuannya. Sekalipun harus memberikan pesan tentang hukuman atas keluarga Eli karena dosa anak-anak Eli dan karena Eli tidak bertindak sebagaimana seharusnya. 1 Samuel 3:11–14 menyampaikan bahwa Allah akan melakukan sesuatu yang membuat telinga orang yang mendengarnya berdenging, dan Tuhan akan menghukum keluarga Eli. Bayangkan posisi Samuel; Samuel masih muda, dibesarkan, di didik dan dilayani di bawah pengawasan Eli. Ini adalah ujian pertama bagi pendengaran Samuel. Karena mendengar Allah bukan hanya berarti mendengar ketika Allah mengatakan sesuatu yang kita sukai. Mendengar Allah berarti bersedia mendengar bahkan ketika perkataan-Nya tidak nyaman bagi kita.

 

Tuhan tidak berbicara supaya kita semakin pintar tentang Alkitab. Tuhan berbicara supaya hidup kita berubah. Yakobus 1:22 berkata: “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.” Jadi pertanyaan setelah membaca Alkitab bukan hanya: “Apa yang Tuhan katakan?” Tetapi: “Apa yang akan saya lakukan karena Tuhan sudah mengatakan itu?”

 

APLIKASI KEHIDUPAN

PENDALAMAN

Apa “kebisingan” terbesar dalam hidup Anda saat ini? Apa suara yang paling sering memengaruhi keputusan Anda akhir-akhir ini?

PENERAPAN

Apa contoh Firman Tuhan yang sudah Anda ketahui tetapi belum Anda taati?

 

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.