Shaped by Humility : Proud No More (Dibentuk melalui Kerendahan Hati : Tidak Lagi Dikuasai Kesombongan)
2 Raja-Raja 5:1-15
EKSPRESI PRIBADI
Dalam menjalani kehidupan kita, harus diakui bahwa seringkali banyak hal yang terjadi tidak sesuai keinginan dan kehendak hati kita. Kita merasa seharusnya seperti ini atau seharusnya seperti itu. Kita merasa seharusnya saya mendapatkan ini atau saya mendapatkan itu. Tanpa kita sadari bahwa kita memposisikan diri kita lebih tahu dan lebih pandai dalam mengatur seluruh hidup kita dibandingkan Tuhan. Ini adalah benih kesombongan dimana kita melebihi Tuhan dalam mengerjakan kehidupan kita.
Sebagai seorang Kristen, segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita itu semuanya di dalam kedaulatan dan kontrol dari Tuhan sebagai Pencipta segalanya. Allah adalah Pencipta dan kita hanyalah ciptaan yang belajar mengikuti seluruh aturan main dari pencipta kita, yaitu Tuhan. Kesombongan diri yang mau mengatur Tuhan itu seringkali menjadi awal dari kehancuran hidup kita dan Tuhan pasti akan memproses kesombongan kita untuk belajar merendahkan hati kita di hadapan Tuhan. Coba sharingkan dalam kelompok, area apa dalam kehidupan kita yang seringkali menjadi kesombongan kita di hadapan Tuhan!
EKSPLORASI FIRMAN
Sebuah kisah dalam kitab 2 Raja-Raja 5:1-15 ini menceritakan tentang seorang yang bernama Naaman. Dia bukanlah orang sembarangan, dia adalah seorang panglima pada saat itu. Ia memiliki kuasa yang sangat besar dan namanya sangat disegani dan dihormati pada waktu itu. Di balik nama besar dan prestasi yang dimiliki oleh seorang Naaman, ada satu hal dalam hidupnya yang dicatat menjadi sebuah titik lemah yang sangat menyedihkan yaitu ia terkena penyakit kusta. Dari cerita kehebatan dan prestasi yang dimiliki oleh Naaman, Allah justru bekerja membentuk dan memproses kehidupan Naaman melalui titik lemahnya, yaitu penyakit kusta yang dideritanya. Dari cerita tentang Naaman ini, Allah memakai seorang gadis kecil (ay. 3) untuk membawa Naaman mengalami kuasa Tuhan dalam kelemahannya. Namun proses pembentukan Tuhan terkadang tidak sejalan dengan kehendak dan kemauan dari Naaman. Naaman yang hebat itu merasa ‘seharusnya’ Tuhan melakukan atau menyembuhkan dia sesuai kehendak dia. Naaman mulai menunjukkan kesombongan di hadapan nabi Tuhan, Elisa (ay. 9-12)
Yang sangat menarik dari tindakan nabi Elisa untuk membuat Naaman belajar apa artinya kerendahan hati adalah dengan tidak mengikuti apa yang menjadi kehendak dan kemauan dari sang panglima itu. Bahkan nabi Elisa memperlakukan sang panglima di luar ekspektasi dan bahkan tidak menemui dia sama sekali. Pelajaran kerendahan hati Naaman dimulai ketika dia belajar menyadari bahwa ia membutuhkan Tuhan, bukan Tuhan yang membutuhkan dia. Tuhan adalah pencipta dan dia hanyalah seorang manusia biasa. Naaman dibentuk dan diproses Tuhan untuk ‘turun’ ke dalam sungai dan bahkan harus menenggelamkan dirinya sepenuhnya di dalam kolam. Inilah proses pembentukan yang Tuhan ajarkan kepada Naaman, sang panglima yang sombong di hadapan Tuhan. Sang panglima itu harus turun dari kursi kesombongannya dan bahkan harus menenggelamkan dan membersihkan setuntas-tuntasnya kesombongannya di hadapan Tuhan untuk menerima kuasa pemulihan dari Tuhan
Bagaimana dengan kondisi hidup kita saat ini? Apakah seringkali kita seperti Naaman yang menunjukkan kesombongan di hadapan Tuhan? Kesombongan dalam diri kita selalu berkata ‘lihatlah saya’ sampai Tuhan membentuk kerendahan hati kita dan akhirnya kita berkata ‘lihatlah Allah’ yang telah mengerjakan perbuatan besar dalam hidup saya. Pertanyaan yang perlu untuk kita terus renungkan dalam hidup kita adalah apa yang harus Allah ‘turunkan’ dalam hidup kita saat ini supaya kita tidak lagi dikuasai kesombongan? Apa yang harus Allah tenggelamkan dan bersihkan setuntas-tuntasnya dalam hidup kita saat ini agar kita belajar merendahkan hati? Apakah mungkin itu harga diri, seluruh talenta dan kehebatan, kebutuhan untuk dipuji, keinginan untuk selalu benar, keinginan untuk mengontrol segalanya, keyakinan bahwa kita lebih baik dari orang lain atau lain sebagainya. Karena semakin kita mengenal dan merasakan anugerah Tuhan dalam kehidupan kita, maka semakin kecil alasan kita untuk memegahkan dan menyombongkan diri di hadapan Tuhan. [HH]
APLIKASI KEHIDUPAN
(EGO, KESOMBONGAN, STATUS, KETAATAN)
Pendalaman
Sebagai seorang Kristen, kesombongan diri apa dalam hidup Anda yang paling sering Anda tunjukkan di hadapan Tuhan?
Penerapan
Sharingkan hal-hal apa saja yang akan Anda lakukan untuk belajar merendahkan hati kita di hadapan Tuhan?
SALING MENDOAKAN
Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.
