Arsip tema sepekan

Bagikan artikel ini :

Ritme Pemberhatian: Hormati Sabat

Ibrani 4:1-13

Ekspresi Pribadi

Tuhan tidak pernah “merancang” manusia pada saat diciptakan sebagai “robot, tapi sebagai makhluk hidup. Yang memiliki tubuh, yang berdaging dan berdarah. “Robot” saja yang dibuat dari unsur benda keras, kalau terus dipakai tanpa henti, dapat menjadi rusak. Apalagi manusia, pasti juga akan menjadi “rusak” - sakit, kalau tidak diatur ritme waktunya untuk segala aktifitas yang dikerjakan.

Yang perlu diperhatikan, di dalam tubuh manusia, ada organ-organ tubuh yang memang Tuhan sengaja buat, kemudian diletakkan dan diatur sedemikian rupa oleh Tuhan di dalam tubuh. Sebagai pendukung utama hidup dan aktifitas dari tubuh. Ada relasi yang tidak terpisahkan antara tubuh dan organ-organ tubuh. Selama organ-organ tubuh sehat dan baik fungsinya, pasti membuat tubuh menjadi sehat dan kuat.

Hal yang perlu disadari bahwa salah satu faktor utama yang membuat tubuh sakit, karena adanya gangguan di salah satu atau banyak organ dari tubuh. Dan gangguan itu ternyata kalau diperhatikan salah satunya berkenaan dengan waktu istirahat yang tidak mencukupi. Tubuh diforsir terus-menerus, tanpa henti untuk diistirahatkan. Kalau Hal ini sengaja tidak indahkan dan dilakukan. Maka pasti akan mendatangkan ketidakseimbangan yang membawa permasalahan pada kesehatan dari tubuh manusia itu sendiri. Yang dapat membuat tubuh menjadi “rusak” – sakit.  Coba sekarang bagikan, mengapa banyak orang menjadi warkoholic – gila kerja?

Eksplorasi Firman

Yang pasti pada saat merancang dan menciptakan semua ciptaan, termasuk manusia. Tuhan memberikan hari ketujuh. Apa itu hari ketujuh? Hari ketujuh adalah hari untuk pemberhentian. Untuk semua makhluk hidup dapat beristirahat. Jelas ini adalah penetapan dari Tuhan. Bagi Tuhan, waktu berhenti adalah waktu yang terbaik yang memang sudah dirancang oleh Tuhan sendiri untuk semua makhluk hidup, termasuk manusia, mendapatkan pemulihan secara natural. Polanya sama yang Tuhan sendiri sudah berikan dan contohkan. Dikatakan demikian: Setelah enam hari Tuhan bekerja menciptakan dunia dengan segala isinya, Tuhan berhenti pada hari ketujuh (Kej. 2:2). Kalau Tuhan saja berhenti, seharusnya manusia yang adalah ciptaan dapat mencontoh Sang Pencipta untuk juga berhenti. Sebetulnya hari ketujuh adalah sabat, yaitu waktu berhenti setelah pekerjaan selesai sebagaimana yang Tuhan sudah tetapkan sendiri.

Konsep pemberhentian atau berhenti, menjadi inti pengajaran yang penulis Ibrani berikan. Tentunya pengajaran ini, jelas berasal dari inspirasi yang Tuhan sendiri berikan lewat Roh Kudus. Penekanan pada konsep pemberhentian atau berhenti ini, menjadi istilah yang diulang-ulang di tiga belas ayat yang ada di pasal keempat. Pengulangan ini dikatakan ada sebanyak 10 Kali. Ini artinya untuk menunjukkan bahwa kebenaran tentang pemberhentian atau berhenti itu sangatlah penting dan serius. Tidak boleh diabaikan, apalagi kalau sampai tidak ditaati oleh semua ciptaan, khususnya orang percaya. Sabat perlu disambut dan dijalankan dengan kesungguhan dan segenap hati, pikiran dan kekuatan. Ada beberapa kebenaran tentang konsep pemberhentian atau berhenti yang Tuhan kehendaki.

Pertama, pemberhentian adalah hak istimewa dari Tuhan. Yang pasti hak istimewa ini, tidak main-main. Karena Tuhan sendiri yang menetapkan dan memberikanya kepada seluruh makhluk hidup. Tujuannya utamanya untuk menjaga keseimbangan dan kebaikan bagi seluruh makhluk hidup. Khususnya manusia yang Tuhan ciptaan menurut gambar dan rupa-Nya. Yang seharusnya lebih memiliki komitmen penuh untuk menjunjung tinggi hak istimewa yang Tuhan sudah berikan. Caranya dengan memulai dari diri sendiri terlebih dahulu untuk berhenti. Kemudian mendorong dan juga memberikan hak itu kepada siapapun yang bekerja. Tidak boleh mengeksploitasi secara sewenang-wenang dan kejam. Jelas ini salah dan berdosa.

Yang lebih menarik dan menyentuh hati, ternyata penulis Ibrani pada saat berbicara tentang pemberhentian atau berhenti, tidak hanya menyangkut waktu saja, hari ketujuh – sabat, tetapi juga tempat untuk beristirahat. Penulis Ibrani mengatakan demikian: “Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Tuhan katakan” (ay. 3a). Pertanyaanya adalah tempat perhentiaan yang Tuhan katakan itu ada dimana? Dan siapa yang berhak masuk ke tempat pemberhentian ini? Kalau bicara tempat yang Tuhan katakan, jelas kalau dilihat latar belakangnya. Berkenaan dengan tanah Kanaan yang Tuhan janjikan kepada orang-orang Israel. Namun pada realitanya banyak orang-orang Israel tidak bisa masuk ke tanah Kanaan untuk mendapatkan warisan disana.  Karena Tuhan murka kepada orang-orang Israel (ay. 3b). Hal ini dapat terjadi karena banyak orang-orang Israel memberontak – tidak percaya kepada Tuhan.

Dalam konteks jauh, tempat pemberhentian yang Tuhan sediakan juga berkenaan dengan “rumah” Bapa, yaitu Sorga (Yoh. 14:1-3). Tempat ini adalah tempat yang kekal. Kalau tempat di Kanaan ada di dalam dunia dan bersifat sementara untuk tinggal menetap. Suatu saat akan hancur, musnah dan ditinggalkan. Akan beralih – pindah ke tempat kekal yang Tuhan sediakan. Bagi orang yang percaya pada Kristus, maka tempat kekalnya adalah “rumah” Bapa yaitu Sorga. Kalau yang tidak percaya, disediakan tempat yang lain, di dalam goa-goa yang gelap, yaitu neraka (2 Ptr 2:4). Hak istimewa ini, membawa konsekwensi pada pemberhentian yang berbeda: Sorga atau Neraka. Prinsipnya: Percaya atau tidak pada Kristus. 

Kedua, pemberhentian adalah bukti sudah berakhirnya waktu. Yang pasti waktu itu, cepat atau lambat akan berakhir. Baik waktu yang berkenaan dengan detik, menit, pagi, siang, malam, hari, minggu, bulan dan tahun. Tetapi juga bisa berkenaan dengan kesempatan hidup bagi setiap manusia di dalam dunia ini, yaitu 70 tahun, paling kuat 80 tahun, kebanggaannya kesukaran dan penderitaan, sebab berlalunya buru-buru (Mzm 90:10). Jadi konsep waktu cakupannya sangat beragama. Tetapi biarpun beragama, tetap waktu itu pasti akan berakhir dan berganti. Kalau berakhir masih dapat disambung lagi, ya sangat bersyukur. Tetapi kalau tidak bisa disambung lagi – mati. Ya sudah, memang benar-benar berakhir di dalam Dunia ini.

Dalam konteks hari ketujuh – sabat, maka berhenti disini dalam pengertian yang seperti penulis Ibrani katakan: “Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nast: "Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya” (ay. 4). Jadi berhenti di hari ketujuh, yaitu sabat. Yang di dalam hitungan hari ketujuh jatuh pada hari Minggu. Yang luar biasa, hari ketujuh, yang jatuh pada hari Minggu ini. Ternyata menjadi hari pertama dari peristiwa kebangkitan Kristus. Jadi kalau kebenaran dari relasi ini sungguh dipahami, maka keindahan hidup sebagai orang percaya dapat tercapai. Yaitu hari ketujuh yang adalah sabat untuk berhenti dari segala kesibukan kerja, menjadi hari pertama juga untuk datang kepada Tuhan. Meminta pemulihan, kekuatan dan pengharapan untuk memasuki hari-hari berikutnya selama satu minggu. Jadi hari sabat adalah momentum untuk seluruh orang percaya beribadah dan melayani Tuhan, untuk persiapan diri menyongsong hari-hari selanjutnya yang baru.

Ketiga, pemberhentian adalah perayaan yang penuh sukacita. Dalam pengertian bagaimana? Dalam pengertian pada saat pemberhentian atau berbenti itu dilakukan, karena berkenaan dengan konsep “jeda” (pause). Yaitu mendapatkan waktu sejenak, untuk  berhenti. Yang sangat luar biasa, ternyata “jeda” (pause) ini tidak hanya berhubungan dengan istirahat yang diberikan semata, tetapi juga untuk merayakan – bersukacita sudah dapat mengerjakan semua pekerjaan selama enam hari yang sudah dilalui. Serta juga sebagai sarana evaluasi diri, yang melakukan hal-hal yang lebih baik, benar dan berkenan untuk hari-hari yang ada di depan.

Kalau siklus kehidupan yang demikian ini, djalani dan dilakukan dengan setia, penuh kasih dan tanggung jawab. Maka berkat kemurahan yang datang dari Tuhan itu, akan selalu mengalir dari tahta Tuhan di Sorga. Kebahagiaan, pengharapan, pemulihan dan keselamatan pasti akan didapatkan. Karena ada hati yang sungguh menghormati dan menjunjung tinggi sabat yang Tuhan sudah berikan.

Aplikasi Kehidupan

Pendalaman

Coba sharingkan kendala-kendala apa saja yang menghambat orang-orang percaya tidak lagi menyambut sabat dengan penuh sukacita. Hanya sekedar kewajiban semata. 

Penetapan

Komitmen apa saja yang akan dilakukan oleh Anda untuk selalu memelihara dan menjaga tradisi sabat yang baik yang berasal dari Tuhan ini? Bagaimana caranya untuk menularkan tradisi yang baik tentang sabat kepada keturunan Anda?

Saling Mendoakan

Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lainnya.