Bagikan artikel ini :

Overcoming The Weight of The Past

Mazmur 77:1-15; Ratapan 3:19-23

Ekspresi Pribadi

Pernahkah Anda merasa berdoa dan tidak mendapat jawaban, merasa bahwa Tuhan sudah meninggalkan dan tidak lagi berkenan mengindahkan doa Anda karena mungkin ada dosa dan kesalahan yang Anda lakukan. Bagikan pengalaman Anda!

Eksplorasi Firman

Kedua bagian firman yang kita renungkan lahir dari satu konteks ratapan yang serupa, ratapan yang lahir dari orang percaya yang merenungkan keadaan bangsanya yang kini sudah hancur dan ada dalam pembuangan, jauh dari hadapan Tuhan. Pemazmur berseru dan berdoa meminta jawaban dari pada Tuhan, karena ia mengingat akan keadaan bangsanya kini, karenanya ia meminta kepada Tuhan untuk menunjukkan sesuatu yang dapat membantunya mengerti apa yang sedang dialami oleh bangsanya. Dalam seruannya ia tidak mendapat jawaban apapun dari Tuhan. Dalam doa dan perenungannya selalu terlintas kenangan akan kejayaan masa lalu bangsanya, dan kenangan ini yang selalu membawanya kepada rasa pilu. Jika ia membandingkan keadaan bangsanya pada masa dahulu kala dengan masa kini, ia dapat melihat jelas Tuhan yang menolak akan umatnya karena dosa dan kesalahan mereka, lalu kini mereka dibuang, jauh dari hadapan Tuhan, tidak lagi ada dalam tanah perjanjian. Karenanya pemazmur bertanya dalam ayat 10, “Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya?”

Demikian pula dengan Ratapan 3, kalimat indah dalam ayat 23 di awali oleh perasaan pilu nabi Yeremia melihat penderitaan bangsanya terutama orang percaya dan dirinya sendiri selama ada dalam pembuangan. Mereka yang masih percaya kepada Tuhan turut menanggung derita berganda, baik derita dalam pembuangan dan bahkan diolok rekan sebangsanya yang sudah tidak lagi berharap kepada Allah.

Akan tetapi dari kedua teks yang kita baca, titik balik dari pemazmur dan Yeremia terjadi ketika mereka mengingat kembali siapa Allah dan segala perbuatan yang Allah lakukan dalam kehidupan umat-Nya, bahwa Allah adalah Dia yang berkuasa atas semesta, segala sesuatu terjadi dalam kuasa-Nya. Karenanya sekalipun tidak langsung mendapat jawaban dari Allah, mereka tetap menaruh harap pada Tuhan, karena Ia yang berkuasa atas semesta. Bahkan di tengah dosa dan kegagalan Allah tidak pernah meninggalkan kita, kasih setia-Nya ada bagi kita untuk selamanya. Karenanya kita perlu berbalik kepada Tuhan dan berharap kembali kepada-Nya.

Hari ini ada banyak beban berat yang kita pikul, terutama jika kita mengingat segala kegagalan, kesalahan dan dosa kita, bahkan kita mengira semua hal buruk yang kita alami adalah hukuman Allah bagi kita. Namun dua bagian firman ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita, kasih setia-Nya tidak pernah berubah.

Aplikasi Kehidupan

Pendalaman

Dalam Mazmur 77, pemazmur mengaku bahwa ia berseru kepada Allah namun merasa tidak dijawab. Pernahkah Anda mengalami fase "sunyi" dalam doa? Apa yang paling berat dari pengalaman tersebut: ketiadaan jawaban, atau perasaan bahwa Allah murka karena dosa Anda?

Penerapan

Apa satu langkah konkret yang dapat Anda ambil hari ini untuk mengingat kembali perbuatan-perbuatan Allah dalam hidup Anda, seperti yang dilakukan pemazmur dan Yeremia? (Misalnya: menulis daftar kesetiaan Tuhan, mengucapkan syukur meskipun dalam kesulitan, atau berbagi pergumulan dengan sesama percaya.)

Saling Mendoakan

Akhirilah Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain (DK)