Misi yang Terus Kita Hindari (The Mission You Keep Avoiding)
Lukas 17:31-33
EKSPRESI PRIBADI
Dari pengalaman hidup sehari-hari, sering kali momen itu datang begitu sederhana. Misalnya, ketika kita sedang mengobrol santai dengan kerabat dekat yang belum percaya, lalu muncul dorongan kecil untuk berbagi tentang Injil, tetapi kita mengurungkannya karena takut suasana jadi canggung. Atau saat seorang teman curhat tentang pergumulan hidupnya, kita tahu ini kesempatan untuk mengenalkan Tuhan Yesus, tetapi kita memilih memberi nasihat umum saja. Bahkan kepada anggota keluarga sendiri, kita berkata dalam hati, “Nanti saja kalau waktunya lebih tepat.” Tanpa sadar, bukan karena kita menolak, tetapi kita memilih untuk menghindar dan menunda. Semua terasa wajar, hidup tetap berjalan lancar, relasi tetap aman. Namun di dalam hati, ada dorongan yang terus kita abaikan.
Memasuki masa PMPI (Pekan Misi Penginjilan) ke-50, apakah Anda akan terus melewatkan momen-momen sederhana itu? Sampai kapan Anda menunggu waktu yang “tepat”? Bukankah mungkin justru momen bersama itu adalah kesempatan yang Tuhan sediakan?
EKSPLORASI FIRMAN
Dalam Lukas 17:28–33, Yesus menempatkan peristiwa zaman Lot sebagai paralel eskatologis untuk menjelaskan karakter kedatangan Anak Manusia. Ia berkata: “Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot keluar dari Sodom turunlah hujan api dan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua” (ay. 28–29), lalu menambahkan, “Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya” (ay. 30). Secara kontekstual, rangkaian ini menegaskan bahwa pola kehidupan yang tampak biasa akan terus berlangsung hingga momen kedatangan Kristus kedua kali terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga. Penekanan Yesus bukan pada aktivitas sehari-hari itu sendiri, melainkan pada ketidakpekaan rohani manusia terhadap waktu (kairos) Allah yang sedang bergerak menuju puncaknya. Secara teologis, teks ini menunjukkan bahwa kedatangan Anak Manusia mengandung dimensi penghakiman sekaligus pemisahan yang final, sehingga tidak memberi ruang bagi penundaan atau kompromi. Panggilan bermisi dimulai dari relasi terdekat yang Tuhan percayakan kepada kita dalam hidup sehari-hari.
- Sibuk Rutinitas (Business as Usual)
Yesus menyoroti bagaimana orang-orang pada zaman Lot begitu sibuk dengan aktivitas sehari-hari: “mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun” (ay. 28). Rutinitas mereka bukan sesuatu yang salah, tetapi menjadi masalah ketika itu membuat mereka buta secara rohani. Hal yang sama bisa terjadi pada kita, termasuk dalam konteks penginjilan. Kita sibuk bekerja, melayani, bahkan aktif di gereja, tetapi tidak pernah benar-benar mengambil langkah untuk menjangkau jiwa. Padahal misi Tuhan sering kali dimulai dari yang paling dekat: keluarga yang belum percaya, kerabat yang jauh dari Tuhan, atau kenalan yang membutuhkan kabar baik. Kesibukan bisa membuat kita lupa bahwa Tuhan sedang memanggil—bahkan memanggil kita untuk menjadi saksi di sekitar kita.
- Suka Menunda (The Urgency of the Moment)
Yesus berkata, “Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.” (ay. 31). Ini adalah panggilan untuk bertindak segera. Namun dalam praktiknya, kita sering menunda penginjilan. Kita berpikir, “Nanti saja kalau waktunya tepat,” atau “Nanti kalau hubungan sudah lebih dekat.” Padahal, tidak ada jaminan akan ada “nanti.” Dalam semangat Pekan Misi Penginjilan ini, Tuhan sedang membuka kesempatan—tetapi apakah kita merespons sekarang? Jangan sampai kita terus menunda berbicara kepada orang-orang dekat di sekitar kita setiap harinya. Ketaatan yang ditunda sering kali menjadi ketaatan yang tidak pernah terjadi.
- Loyalitas Terbelah (Remember Lot’s Wife)
Yesus mengingatkan, “Ingatlah akan istri Lot!” (ay. 32). Ia menoleh ke belakang karena hatinya masih terikat. Dalam konteks misi, ini bisa berarti kita ingin mengikuti Tuhan, tetapi tetap mempertahankan kenyamanan, rasa takut ditolak, atau kekhawatiran akan penilaian orang lain. Akibatnya, kita tidak pernah sungguh-sungguh melangkah dalam penginjilan. Tema No Turning Back Mission menantang kita untuk tidak setengah hati. Jika kita terus melihat ke belakang—takut, ragu, atau malu—kita tidak akan pernah maju. Mengikut Tuhan berarti berani melangkah, bahkan ketika itu tidak nyaman. Hati yang masih menoleh ke belakang tidak bisa move on berjalan maju bersama Tuhan.
Melalui Lukas 17:31–33, kita diingatkan bahwa misi Tuhan sering kali bukan kita tolak, tetapi kita hindari—melalui kesibukan, penundaan, dan hati yang terbagi. Firman Tuhan mengingatkan bahwa semuanya bisa berubah dalam sekejap: “turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua” (ay. 29). Kedatangan Tuhan Yesus itu tiba-tiba, panggilan-Nya mendesak dan respons yang Ia kehendaki adalah total. Dalam momentum PMPI ke-50 GII Hok Im Tong ini, kita diajak untuk berhenti menghindar dan mulai melangkah—tanpa terikat ke belakang. Mulailah dari 3K: keluarga, kerabat, dan kenalan. Jangan tunggu momen sempurna, karena yang Tuhan cari adalah ketaatan sekarang. Hidup yang berarti adalah hidup yang menjawab panggilan-Nya—Peka, Segera, dan Setia. (YM)
APLIKASI KEHIDUPAN
Pendalaman
Mengapa Yesus menggunakan rutinitas yang tampak 'baik dan wajar' (seperti makan, minum, menanam, dan membangun) sebagai tanda ketidaksiapan manusia menghadapi kedatangan-Nya, dan bagaimana hal ini mengubah pandangan kita tentang memprioritaskan antara tugas harian dengan panggilan misi?
Penerapan
Dari konsep 3K (Keluarga, Kerabat, Kenalan), siapakah satu orang spesifik yang selama ini sering Anda beri alasan 'nanti saja' untuk diinjili, dan langkah nyata apa yang akan Anda ambil minggu ini untuk menjawab panggilan No Turning Back Mission?
SALING MENDOAKAN
Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.
