Kerajaan Yang Tak Tergoncangkan
Mazmur 110:1–4; Daniel 7:13–14; Lukas 19:37–38
Ekspresi Pribadi
Pernahkah Anda memesan barang secara online atau di restoran dengan ekspektasi tinggi sebagaimana iklan yang ditawarkan, namun yang datang justru sangat berbeda? Mungkin pesanan Anda berupa makanan yang tampak menggugah selera, tapi yang datang jauh dari apa yang Anda bayangkan sebagaimana yang tertera di gambar iklan. Rasa makanannya tidak enak, warnanya lebih pucat, dan bahan-bahan yang digunakan tidak berkualitas. Tentu saja hal ini sangat mengecewakan, ketika kenyataan berbanding terbalik dengan harapan.
Demikian pula dengan apa yang terjadi di minggu palem yang identik dengan peristiwa gegap gembita dalam rangka menyambut kedatangan Kristus memasuki Yerusalem layaknya menyambut seorang raja yang datang membawa kemenangan (the triumphal entry). Mereka berteriak "Hosana!" tanpa pengertian yang benar. Sebab di balik kemeriahan itu terdapat kesalahpahaman besar. Orang banyak yang menyambutnya itu mengharapkan Kristus menjadi Raja Politis— Seorang pahlawan militer yang akan menggulingkan kekaisaran Romawi dengan kekuatan senjata sebagai gerakan revolusioner. Mereka secara sempit hanya menginginkan pemulihan ekonomi dan kemerdekaan dari belenggu penjajahan secara fisik. Namun justru Kristus datang jauh dari bayangan ideal tersebut dengan mengendarai seekor keledai. Ia datang bukan untuk memenuhi ambisi politik manusia, melainkan untuk mendirikan Kerajaan yang Kekal. Seringkali kita pun demikian, kita mencari Tuhan hanya untuk memulihkan kenyamanan pribadi yang bisa terguncang kapan saja, mengharapkan Dia memenuhi ekspektasi dan agenda pribadi kita.
Apakah selama ini Anda bersikap demikian? Menyembah Kristus bukan karena siapa Dia, tetapi karena mengharapkan Dia memenuhi ekspektasi Anda secara pribadi? Sharingkan dalam Care Group Anda masing-masing.
Eksplorasi Firman
Kerajaan yang Kristus bangun melampaui bayangan dan harapan mereka yang menyambutnya dengan seruan sorak-sorai “Hosana” dan lambaian daun Palem, yaitu Kerajaan yang kekal dan tidak tergoncangkan! Hal ini tercermin melalui karakter kerajaan-Nya sebagaimana yang dinyatakan dalam beberapa teks Alkitab yang menubuatkannya hingga penggenapannya dalam peristiwa di Yerusalem.
Kerajaan-Nya ditegakkan melalui Pengorbanan Penebusan-Nya
Mazmur 110 merupakan nubuatan Mesianik paling unik dan paling banyak dikutip dalam Perjanjian Baru karena orientasinya yang sepenuhnya menatap masa depan. Di sini, Sang Mesias digambarkan sebagai sosok dengan otoritas mutlak yang sanggup menaklukkan segala musuh di bawah kaki-Nya. Namun, rahasia kekuatan-Nya yang tak tergoncangkan bukan terletak pada pedang, melainkan pada keimamatan-Nya. Berbeda dengan raja dunia, Kristus adalah Raja sekaligus Imam Besar menurut tata Melkisedek (ay. 4: bdk. Ibr 5:5-6). Keimamatan-Nya didasarkan pada tata Melkisedek sebagai Imam Besar Yang Kekal. Uniknya, sebagai Imam Besar, Ia tidak mempersembahkan darah binatang melainkan mempersembahkan Diri-Nya sendiri sebagai kurban pendamaian yang sempurna, tanpa cela, sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:11-12). Inilah paradoks Kerajaan Allah: Sang Raja menaklukkan musuh yaitu iblis, dosa dan maut bukan dengan supremasi kekuatan-Nya, melainkan dengan pengorbanan-Nya di Kalvari. Di atas dasar kematian dan kebangkitan-Nya inilah Kerajaan Allah ditegakkan di muka bumi ini. Sebuah fondasi yang tidak bisa dihancurkan dan diguncang oleh apapun dan siapapun. Kita yang menjadi bagian di dalamnya sebagai warga Kerajaan, yang hidup berada di bawah pemerintahan-Nya, memiliki pengharapan yang kokoh dan tidak terguncangkan!
Kerajaan-Nya Kekal Melampaui Batasan Waktu
Nabi Daniel diberikan penglihatan apokaliptik tentang empat binatang buas yang melambangkan kekaisaran dunia (Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi). Semua kerajaan itu besar, namun semuanya berakhir dengan kehancuran. Di tengah kegoncangan sejarah itu, muncul sosok "Anak Manusia" yang datang dengan awan-awan di langit. Kepada "Anak Manusia" ini “diberikannya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” (ay. 13-14). Disini kita melihat kontras yang tajam. Kerajaan dunia bersifat temporer dan rapuh diterpa oleh kehancuran. Semuanya akan binasa dan menjadi sekadar sejarah. Sebaliknya, kerajaan Sang Anak Manusia itu bersifat universal (segala bangsa menyembah-Nya dan takluk di bawah otoritas-Nya) dan kekal, alias tidak akan binasa oleh kekuatan apapun. Ia akan berdiri kokoh melampaui waktu dan goncangan apapun. Melalui penglihatan ini, Daniel ingin meningatkan bahwa di tengah keadaan yang tidak baik-baik saja, dunia sedang kacau secara politik atau ekonomi, ada satu takhta yang tidak pernah goyah dan itu adalah tahta dari Sang Mesias, raja di atas segala Raja, yang kerajaan-Nya kekal untuk selamanya.
Kerajaan-Nya menghadirkan Damai yang sejati
Kristus datang ke Yerusalem sebagai raja bukan untuk berperang, tetapi di dalam damai dan untuk menghadirkan damai yang sejati. Sebagaimana sorak-sorai pujian dari para murid yang mengiringi-Nya saat memasuki Yerusalem, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi.” (Luk 19:38) Hal ini tercermin lewat keledai yang ditunggai oleh-Nya dan bukan kuda perang, untuk menegaskan kelembutan, kerendahan hati dan damai sejahtera (“eirēnē,” eiro = menyatukan atau mengikat sesuatu yang telah terpisah). Damai yang dimaksud disini tentu bukan damai yang bergantung pada keadaan eksternal yang ideal-- situasi lahiriah yang tenang karena absennya konflik, ekonomi stabil, dan segala sesuatu berjalan sesuai harapan ideal. Tetapi damai yang bersifat batiniah (peace within), yang tidak tergoncangkan sekalipun berada di tengah keadaan yang bergoncang. Inilah damai di surga (peace in heaven), yang didasarkan pada realitas rohani bahwa permusuhan antara Allah dan manusia berdosa telah diselesaikan secara tuntas melalui karya pendamaian (rekonsiliasi) Kristus di Kalvari (Kol 1:20; Ef 2:14-18; Rm 5:1). Damai yang dialami di dalam hubungan dengan Allah yang telah dipulihkan. Damai inilah yang membuat kita bisa mengalahkan rasa takut karena keadaan terjadi di luar kendali. Damai inilah yang membuat kita bisa tenang di tengah badai kehidupan sehebat apapun. Damai inilah yang membuat kita selalu tersadar bahwa Kristus pegang kendali atas apapun yang terjadi. Kedamaian ini menjadi sauh yang teguh bagi jiwa kita untuk tetap bertahan sekalipun dunia runtuh.
Aplikasi Kehidupan
Pendalaman
Menurut Anda, apa yang dimaksud dengan Kerajaan yang tidak tergoncangkan? Apa dampaknya dengan kehidupan Anda?
Penerapan
Hidup seperti apa yang Anda akan jalani sebagai hidup yang merajakan Kristus?
