Kemuliaan Yang Tak Tertandingi
Lukas 9:28-36
Ekspresi Pribadi
Kemuliaan itu tidak hanya berbicara tentang keindahan, keelokan dan kemegahan semata; tetapi ada yang lebih dahsyat, yaitu menyangkut keagungan. Biasanya kemuliaan ini hanya ditemukan para pribadi yang Ilahi saja. Tidak pernah ada pada yang bersifat manusiawi dan duniawi. Karena adanya perbedaan kualitas yang sangat mendasari, yaitu:
Yang Ilahi bersifat kekal, permanen dan sempurna, sedangkan yang manusiawi dan duniawi bersifat sementara, terbatas dan punya banyak kekurangan serta kelemahan. Sehingga sudah sangat wajar sekali bahwa kemuliaan pada umumnya merujuk kepada keberadaan Allah sendiri. Namun demikian, bicara kemuliaan itu tidak pernah dapat terjadi, kalau Tuhan yang penuh kemulian tidak menyatakan diri-Nya.
Biarpun di dalam kemuliaan Tuhan dapat terlihat pada seluruh ciptaan-Nya. Karena hasil karya Tuhan. Itu tetap masih dalam batasan. Dalam pengertian bahwa “langit hanyalah menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya saja" (Mzm 19:1). Sedangkan kemuliaan yang sesungguhnya, yaitu keberadaan Tuhan tiada yang dapat diungkapkan. Hanya dalam batasan pekerjaan tangan Tuhan saja.
Inipun sudah sangat mengagumkan, apalagi ketika keberadaan diri Tuhan sendiri dinyatakan. Pasti akan sangat dahsyat dan tak terkirakan penampakannya. Membuat terpesona, terkagum-kagum. Diliputi oleh perasaan ketakutan, ketakjuban serta kegentaran yang sangat dalam. Karena ada hadirat Tuhan secara nyata. Sekarang coba sharingkan yang dipahami tentang kemuliaan itu. Hal-hal apa saja yang sangat menarik hati pada saat berbicara tentang kemuliaan?
Eksplorasi Firman
Kebenaran tentang siapa Kristus itu, menjadi penekanan utama didalam setiap berita yang disampaikan oleh para penulis Injil Sinoptis. Baik oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Dimana 4 penulis Injil ini memiliki sudut pandang yang sama dengan pendekatan yang berbeda tentang pribadi Kristus. Yang pasti 4 penulis Injil ini, memiliki berita yang sama bahwa Kristus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia.
Pastinya, dalam inkarnasi tidak menghilangkan sifat keilahian dari Kristus. Hanya menambahkan sifat kemanusiawiannya yang sempurna. Karena pada hakekatnya Kristus adalah Allah itu sendiri (ay.35 bnd Mat 1:23, Mrk 1:1 dan Yoh 1:18). Yang sangat menarik pada saat Kristus yang adalah Allah berinkarnasi menjadi manusia, penulis Yohanes berkata demikian: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran" (Yoh 1:14)
Ada penekanan yang sangat luar biasa, yaitu: "Kita (manusia) telah melihat kemuliaan-Nya." Kata "Nya" disini jelas menunjuk kepada pribadi Kristus itu sendiri. Karena Kristus tidak hanya Allah, tetapi juga punya status yang sangat istimewa, yaitu Anak Tunggal Bapa yang penuh dengan kasih karunia dan kebenaran. Sehingga karena status-Nya demikiaan, maka Kristus memiliki kemuliaan Allah.
Lebih jauh bukti dari kemulian Kristus ini, secara nyata ditunjukkan dan tidak dapat disembunyikan. Terjadi pada saat di dalam seluruh catatan Injil, khususnya Lukas mengungkapkan tentang peristiwa Kristus dimuliakan di atas gunung. Tidak tanggung-tanggung yang memuliakan Kristus adalah Bapa sendiri. Jadi kalau Bapa yang melakukan, apakah perlu diragukan? Jelas tidak jawabannya. Di dalam peristiwa Kristus dimuliakan, ada dua kebenaran yang perlu untuk dimengerti
Pertama, tentang tujuan kedatangan-Nya. Di dalam ayat 30, dijelaskan demikiaan: Kristus sedang berbicara dengan Musa dan Elia. Bagaimana bisa terjadi? Bukanlah Musa dan Elia serta Kristus, ada di dalam dunia berbeda. Musa dan Elia ada di dalam kekekalan, sedangkan Kristus pada saat berinkarnasi ada di dalam dunia materi. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Jawabannya bisa terjadi, kalau kemulian Kristus sebagai Allah dinyatakan. Sehingga sama-sama ada di dalam frekwensi yang sama, yaitu ada di dalam kemuliaan. Inilah yang buat ketiganya dapat membangun komunikasi yang baik. Melalui perjumpaan dengan Musa dan Elia, membuktikan tentang keilahian dari Kristus. Selain itu, komunikasi dengan Musa dan Elia, di dalam catatan Lukas berkenaan dengan tujuan kedatangan-Nya ke dalam dunia ini.
Musa yang mewakili hukum dan Elia yang mewakili nubuatan para nabi. Baik penggenapan hukum Taurat maupun nubuatan para nabi berbicara hal yang sama, yaitu “Pergi ke Yerusalem” untuk menjadi tebusan bagi manusia berdosa melalui penderitaan dan kematian-Nya di atas bukit Golgota.
Kedua, tentang otoritas Kristus. Otoritas ini, jelas Kristus miliki berdasarkan pernyataan dari Bapa sendiri, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia' (ay. 35). Ada 2 penekanan istilah.
(1). "Anak-Ku yang Ku pilih," jelas menunjukkan relasi yang dalam, dekat dan menyatu antara Bapa dengan Kristus. Kedua pribadi terikat di dalam keberadaan dari Allah Tritunggal.
(2). Dengarkanlah Dia. Mendengar, adalah sikap hati yang mau percaya, mentaati dan melakukan. Sikap hati ini bisa dimiliki pada saat mau mengakui keberadaan Kristus yang adalah Allah yang penuh kemuliaan.
Tentunya dua kebenaran ini, sesungguhnya dapat memberikan pengertian, pada saat pengakuan terhadap Kristus yang adalah Allah dan manusia itu diberikan. Karena pengakuan ini akan dapat memberikan jaminan kepastian. Tidak hanya kepastian keselamatan, tetapi juga mengalami hidup di dalam kemuliaan yang Kristus sediakan. Tinggal di Rumah Bapa di Sorga. Inilah pengharapan yang benar dan sesungguhnya.
Aplikasi Kehidupan
Pendalaman
Mengapa menurut Anda masih banyak orang yang sulit mengakui keilahian Kristus? Apa saja kendala atau penghalang (secara logika maupun spiritual) yang sering mereka hadapi?
Penerapan
Hal-hal praktis apa saja yang kita butuhkan (seperti kerendahan hati, iman, atau ketekunan) agar kita dapat terus mengalami dan mencerminkan kemuliaan Kristus di dalam anugerah keselamatan-Nya?
Saling Mendoakan
Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lainnya.
