Growing By The Word: The Church That Keeps Reforming (Bertumbuh Melalui Firman: Gereja Yang Terus Dipebaharui)
2 Timotius 3:14-17
Ekspresi Pribadi
Orang-orang dalam gerakan evangelikal (injili) sering kali dikenal dengan sebutan “people of the book.” Alasannya tidak lain karena orang-orang Kristen di dalam gerakan injili sangat menekankan Alkitab sebagai sumber kebenaran yang berotoritas. “Alkitab adalah firman Allah” merupakan klaim iman yang bukan hanya menjadi jargon rohani tetapi mengakar di dalam seluruh gerakan injili. Gerakan ini menjadi gerakan yang terus menggemakan seruan dari para reformator di abad ke-16, yaitu kembali kepada Alkitab. Demikian juga Gereja Injili Indonesia tidak hanya sembarangan mengenakan nama “Injili”, tetapi menunjukkan pergerakannya ada di dalam arus yang sama.
Namun, kenyataan hari ini seharusnya membuat gereja waspada. Teologinya tidak berubah dan tetap dipertahankan di mimbar khotbah. Yang menjadi pertanyaan untuk dijawab oleh semua pembaca artikel ini adalah: Apakah teologi itu tetap dipraktekkan atau tidak? Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan gereja tidak bertumbuh, tetapi ada satu faktor penting yang terus diulang-ulang sebelum reformasi, pada waktu reformasi, dan setelah reformasi, yaitu membaca dan menghidupkan firman Allah.
Eksplorasi Firman
Tidak banyak orang yang menyadari bahwa manusia pasti mengisi hidupnya dengan sesuatu. Tidak mengisi hidup dengan firman Allah bukan berarti netral, tetapi sedang mengisinya dengan hal yang lain. Di dalam konteks 2 Timotius, rasul Paulus sedang memperingatkan Timotius akan ajaran sesat yang merajalela di antara orang-orang percaya hari itu. Rasul Paulus memperingatkan Timotius dalam 2 Timotius 2:17–18: “Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.” Ajaran-ajaran palsu bukan hanya terjadi di konteks pelayanan Timotius tetapi juga beberapa kali diperingatkan Alkitab di surat-surat Perjanjian Baru yang lain.
Itu sebabnya Timotius diingatkan dengan sungguh: “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Tim. 3:14–15). Ketika menghadapi segala macam ajaran, Timotius diingatkan untuk berpegang pada kebenaran seperti apa yang telah dipegang oleh gurunya, Paulus, seumur hidupnya. Kebenaran yang dimaksud tentu merujuk pada Kitab Suci yang disebutkan kemudian sebagai sesuatu yang telah dikenal Timotius sejak muda yang menjadi sumber hikmat dan penuntun hidupnya.
Alasan Paulus menekankan hal ini bukan hanya karena Alkitab berisi hal-hal yang mengajarkan kebaikan. Alasannya adalah sebuah klaim teologis. Ayat 16–17 menyatakan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Segala tulisan yang disebut merujuk kepada seluruh isi Alkitab, baik itu Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Sementara itu, kata “ diilhamkan Allah” menjadi kata kunci penting yang menjadi tonggak doktrin inspirasi Alkitab. Doktrin ini menegaskan bahwa Alkitab, sekalipun ditulis lebih dari 40 penulis manusia, berasal (dinapaskan) dari Allah yang memelihara dan menuntun setiap penulis manusia untuk menulis sesuai dengan maksud dan tujuan-Nya, yaitu menyatakan pribadi, karakter, kehendak, dan rancangan-Nya kepada manusia.
Konsekuensi logis dari keyakinan bahwa Alkitab dinapaskan Allah adalah dasar kebenaran yang memungkinkan orang percaya untuk menghasilkan perbuatan baik. Bagi orang percaya, perbuatan baik tidak didefinisikan sesuai preferensi kebaikannya, tetapi harus mengacu pada apa yang dinyatakan benar dan baik oleh Allah. Demikianlah Paulus menyatakan bahwa firman Allah yang akan mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Semua ini terjadi bukan berdasarkan firman manusia, tetapi berdasarkan firman Allah yang tertulis di dalam Alkitab yang dinyatakan kepada manusia. Dengan kata lain, tidak ada perbuatan baik di luar dari standar kebenaran Allah.
Sekarang bayangkan bila mencintai Alkitab hanyalah jargon rohani yang tidak benar-benar nyata terlihat dalam hidup orang Kristen. “Alkitab-alkitab palsu” yang akan mengisi pikiran dan hati orang tersebut dari hari ke hari. Suara-suara manusialah yang mungkin akan direnungkannya siang dan malam. Seseorang mungkin menghafal Mazmur 1 tanpa menyadari bahwa dirinya sedang berjalan, berdiri, dan duduk di antara orang fasik. Ia mengira sedang berbuat baik, tapi baiknya menurut apa yang ia pandang baik.
Di momen peringatan reformasi Protestan, biarlah peringatan Paulus kepada Timotius menjadi peringatan kepada gereja hari ini. Gereja tidak boleh lengah sebab dunia yang jatuh ke dalam dosa tidak pernah berhenti berfirman. Sebaliknya, gereja harus serius untuk selalu kembali kepada Alkitab, firman Allah. Semua orang percaya harus berjuang untuk terus membaca dan menghidupi firman Allah supaya bertumbuh ke arah Sang Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus.
APLIKASI KEHIDUPAN
Pendalaman
Apa yang membedakan tiga pemahaman ini: Alkitab adalah firman Allah, Alkitab mengandung firman Allah, dan Alkitab menjadi firman Allah?
Penerapan
Kesulitan apa yang menghambat Anda tidak lagi membaca atau menghidupi firman Allah?
SALING MENDOAKAN
Akhiri Care Group dengan saling mendoakan satu dengan yang lain. [PC]
