From the Heart: Acknowledging & Giving (Dari Hati : Mengakui & Memberi)

1 Tawarikh 29:10-20
EKSPRESI PRIBADI
Pernahkah Anda melihat orang yang keadaannya tidak seberuntung Anda? Bagikan pengalaman Anda dalam kelompok! Saya pernah mengalami peristiwa ini dalam Mission Trip ke salah satu desa yang cukup terpencil di NTT. Disana saya menjumpai satu peristiwa mencengangkan, ketika kami mewawancarai anak-anak dari sebuah SMP disana kami mendapati dari ratusan siswa yang belajar disana hanya memiliki satu dari 5 cita-cita berikut: guru, tentara, polisi, petani, dan pendeta. Dari peristiwa ini tertegurlah saya dan mulai merenung, bagaimana mungkin seorang menjadi sukses dan besar jika mimpi untuk kesana saja tidak ada.
EKSPLORASI FIRMAN
Tidak jarang kita melihat dan bahkan merasa bahwa apapun yang kita miliki hari ini adalah hasil dari jerih lelah, kecakapan, dan kepintaran saya. Saya bisa sukses, menjadi kaya itu semua karena kehebatan dan kepintaran saya. Padahal ada banyak hal yang menjadikan kita mampu sukses dan berhasil ternyata ada di luar kendali kita. Ambil contoh tempat kita dilahirkan. Jika hari ini kita lahir bukan di keluarga kita melainkan di pedalaman terpencil, bukan dari orang tua kita melainkan dari suku-suku yang masih belum terjamah peradaban, tidak diasuh dan dibesarkan dengan akses pendidikan, diberi nutrisi yang mendukung tumbuh kembang kita dengan optimal, apakah mungkin kita miliki apakah kita memiliki apa yang kita miliki saat ini? Atau sebaliknya, jangankan memiliki bermimpi ada di posisi kita saat ini pun tidak mungkin!
Ini adalah salah satu dari banyak cara untuk kita berefleksi dan menyadari bahwa kita bisa ada sebagaimana kita hari ini bukan semata karena kuat, hebat, pintar dan tekun kita. Itu semua semata anugerah Allah bagi kita. Nampaknya kesadaran ini yang menjadi dasar yang menolong kita menyadari mengapa Daud, sekalipun ia raja yang besar, orang pertama yang mampu mempersatukan seluruh suku Israel, bahkan menaklukan banyak musuh-musuh Israel serta merebut Yerusalem dari orang Yebus dan menjadikannya menjadi ibukota dari Israel; akan tetapi Daud mengatakan bahwa apa yang dimilikinya seluruhnya adalah milik Tuhan. Seluruh pencapaian yang diperolehnya bahkan seluruh harta yang mampu dipersembahkannya itupun pemberian Tuhan bukan semata hasil jerih lelah dan kehebatannya, semata adalah milik Tuhan. Perkataan ini lahir dari kesadaran mendasar akan siapa dirinya dan bagaimana dia yang hanya seorang anak gembala sederhana yang bahkan tidak dianggap oleh keluarganya namun dipakai Allah untuk menjadi seorang yang luar biasa. Daud tidak berbangga diri ketika mampu mengumpulkan persembahan bagi pembangunan Bait suci, tidak juga menjadi kecewa ketika Allah menolaknya untuk membangunnya, Daud bersuka dan bersyukur karena ia sadar siapa dirinya dihadapan Allah.
Bersamaan dengan ungkapan rasa syukur ini Daud juga berdoa agar generasi berikutnya punya kesadaran dan kesetiaan yang sama. Karena sekali lagi Daud menyadari kalau generasi berikutnya menjadi para penyembah Allah yang setia bukan karena kuat dan hebat Daud, melainkan anugerah Allah yang berkenan masih memakai Daud dan seluruh orang Israel sebagai umat-Nya. (DK)
APLIKASI KEHIDUPAN
Pendalaman
Sering mungkin Anda mendengar dunia berkata orang menjadi kaya karena rajin dan jerih lelahnya sendiri, bagaimana pandangan saudara terhadap hal ini setelah merenungkan akan kisah Daud?
Penerapan
Apa bentuk nyata dari ucapan syukur Anda kepada Allah atas anugerah-Nya yang telah Anda nikmati ?
SALING MENDOAKAN
Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.