Envy: A Quiet Destroyer (Iri Hati: Sang Penghancur Yang Senyap)
1 Raj. 3:16-28; Amsal 14:30
Ekspresi Pribadi
Di dalam buku kecil berjudul Killjoys: The Seven Deadly Sins, pada bab tentang iri hati, digambarkan dosa iri hati ini begitu mengerikan. Iri hati adalah monster bermata hijau, serigala yang rakus, binatang buas berkepala banyak. Iri hati bagaikan cacing yang menggerogoti, karat hati, jeritan jahat jiwa yang layu. Iri hati mengunyah kodok berbisa, meneteskan racun. Iri hati bersembunyi dan menerkam seperti ular ketika mangsanya berada dalam jangkauan. Iri hati menangisi kemakmuran orang lain. Iri hati bersorak ketika orang lain tersandung. Iri hati menangisi mereka yang bersukacita dan bersukacita atas mereka yang menangis. Apakah menurut Anda dosa iri hati itu begitu berbahaya atau hal yang biasa saja?
Eksplorasi Firman
Dosa iri hati di dalam Alkitab bukanlah sesuatu yang remeh, sudah sangat tua dan berbahaya. Alkitab beberapa kali di catat kasus iri hati terjadi dan itu membawa kehancuran yang mengerikan. Diperlihatkan pada keturunan manusia pertama, yaitu saudara sekandung Kain dan Habel (Kej. 4:1-16). Waktu Kain melihat persembahan adiknya itu diterima, sedangkan dirinya tidak, hatinya panas dan marah. Tuhan sudah memperingati Kain akan bahaya di hatinya ketika itu dilanjutkan, tetapi Kain mengabaikannya, dan berakhir dia membunuh adik kandungnya sendiri dengan kejam. Kasus lainnya adalah iri hati Saul kepada Daud. Saul merasa iri hati dan terancam ketika orang-orang memuja-muja Daud, lebih dari dirinya, maka sejak itu dia selalu mendengki kepada Daud dan berusaha untuk membinasakannya (1 Sam.18:6-9). Kita bisa menyaksikan ketika iri hati itu terus dibiarkan dan dipelihara, maka akan menjadi sangat mengerikan dan menghancurkan.
Iri hati yang mengerikan bukan hanya menginginkan apa yang menjadi milik orang lain, tetapi sampai berusaha supaya orang lain tidak mendapatkan apa pun. Contoh kasusnya adalah pada waktu pemerintahan raja Salomo, ketika dua orang perempuan yang memperebutkan seorang bayi menghadap Salomo, keduanya mengaku sebagai ibu dari bayi itu. Ibu palsu itu mengarang cerita, supaya dia dapat memiliki bayi itu, dia bukan saja mengingini tetapi dia sudah merebutnya. Namun Salomo dalam hikmatnya mengatakan untuk membelah bayi itu menjadi 2 supaya dibagi kepada masing-masing. Lalu reaksi yang muncul menunjukkan kebengisan hati yang sudah dikuasai iri hati “Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!” (1 Raj. 3:26c). Mentalitas iri hati yang kejam adalah “jika saya tidak mendapatkannya, orang lain pun tidak boleh mendapatkannya” Waktu seseorang iri hati itu, bukan kepada orang yang jauh kelasnya di atas sana, tetapi iri itu kepada yang dianggap sebagai rekan kita, atau mereka yang beberapa langkah di depan kita, yang telah mencapai / mendapatkan yang lebih baik dari kita.
Salomo mengatakan di dalam Amsal (Ams. 14:30) Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Iri hati itu menghancurkan diri sendiri dan orang lain, tidak ada hal yang menguntungkan atau baik dari iri hati. Untuk menangkal iri hati resepnya adalah “hati yang tenang”, hati yang puas dan bersyukur di dalam Tuhan. Kita bersyukur pada dua sisi, sisi pertama adalah bersyukur melihat kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Hanya dengan melihat hidup kita ada di dalam pemeliharaan dan kasih Tuhan, kita bisa terbebas dari iri hati. Paulus mengatakan (1 Tes. 5:18) “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Ini adalah perintah Tuhan bagi setiap orang percaya, mengucap syukur dalam segala hal. Berarti di setiap situasi dan kondisi ada berkat dan pemeliharaan Tuhan yang dapat disyukuri. Sisi kedua adalah bersyukur melihat kebaikan Tuhan dalam hidup orang lain. Kita bersyukur bahwa Tuhan juga memelihara orang lain dengan cara yang Tuhan kehendaki. Jadinya kita bukan sibuk membandingkan diri dengan orang lain, tetapi belajar untuk bersukacita dengan orang yang bersukacita (Rm. 12:15). Merayakan keberhasilan orang lain dengan hati yang tulus dan penuh kasih, karena ada pemeliharaan Tuhan atas diri mereka.
Paling utama penangkal iri hati adalah kita harus memandang pada Kristus, sebab Tuhan Yesus memberikan yang paling berharga yaitu diri-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita yang paling tidak layak untuk menerimanya, itulah anugerah. Anugerah mendefinisikan siapa kita, menjadikan siapa kita, dan menentukan cara kita memandang hidup ini. Jika kita memandang Kristus seharusnya kita tidak mudah terancam dengan keberhasilan atau kesuksesan orang lain, sebab yang paling berharga telah diberikan kepada kita.
Aplikasi Kehidupan
Pendalaman:
Dari perjalanan iman Anda, apakah pernah iri hati itu begitu menguasai hati Anda? Efek buruk apa yang Anda rasakan ketika iri hati itu dipelihara?
Penerapan:
Kita tidak selalu dalam kondisi kerohanian yang baik, ada kalanya dosa iri hati itu mengintip dan siap untuk menguasai kita, apa yang mau Anda lakukan untuk tidak terhanyut dalam dosa iri hati?
Saling Mendoakan
Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain
