Bagikan artikel ini :

Dibentuk Melalui Kesetiaan: Tetap Mengikut Tuhan Dengan Sepenuh Hati Sampai Akhir

Bilangan 14:24; Yosua 14:6-12

 

EKSPRESI PRIBADI

Ada banyak orang Kristen memulai perjalanan iman dengan baik, tetapi tidak mengakhirinya dengan tuntas. Ada satu istilah yang muncul berkaitan dengan perjalanan iman seseorang yaitu istilah ”finishing well.” Billy Graham pernah berkata, ”The greatest tragedy is not a failed life, but a life that almost succeeded. The important thing is not how we start, but how we finish.” Dalam terjemahan bebas: “Tragedi terbesar bukanlah kehidupan yang gagal, melainkan kehidupan yang hampir berhasil. Yang terpenting bukanlah bagaimana kita memulai, melainkan bagaimana kita mengakhirinya.”

Dalam teks Alkitab hari ini kita akan melihat satu teladan iman dari seorang tokoh di Perjanjian Lama yang tidak hanya memulai dengan iman, tetapi tokoh ini berhasil memelihara imannya setelah sekian puluh tahun berjalan di masa yang tidak mudah. Dan teladan yang luar biasanya adalah dengan semakin bertambah usianya, justru imannya tidak semakin”pragmatis” atau ”apatis”, namun kualitas imannya justru semakin matang dalam kesetiaan. Dia tidak hanya tahu ”how to start well” tapi juga ”how to finish well”. Siapakah tokoh Perjanjian Lama ini? Marilah melalui materi CG hari ini, kita akan melihat kisahnya dalam kitab Yosua 14:6-12.

 

EKSPRESI FIRMAN

  1. Ingatlah pemeliharaan Tuhan

”Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun” (Yosua 14:10a). Iman Kaleb adalah iman yang berorientasi pada Tuhan. Bayangkan betapa sulitnya posisi Kaleb yang berjalan bersama-sama bangsa yang tegar tengkuk ini? Bagaimana dia berjuang untuk tetap berjalan setia di tengah angkatan yang tidak setia kepada Tuhan? Hal ini tentulah tidak mudah. Tetapi coba perhatikan apa yang dikatakannya di ayat 10 ini, dimana Kaleb tidak berkata, ”aku telah berhasil dengan kekuatanku sendiri untuk memelihara iman”, namun justru imannya berorientasi pada Tuhan. Dia bersaksi, ”sesungguhnya Tuhan telah memelihara hidupku”. Kekuatan untuk bisa tetap setia sampai akhir adalah dengan mengarahkan dasar pandangan kita kepada Tuhan yang setia pada janji-Nya.

Bagaimana dengan kondisi kita saat ini? Apakah kita pun menjalani kehidupan dengan berorientasi pada Tuhan dan janji pemeliharaan-Nya? Berapa banyak janji-janji Tuhan yang kita ingat dan kita pegang dengan segenap hati kita? Dalam kondisi ”this economy” dari bangsa kita yang tidak mudah ini, apakah kita melihat tetap ada tangan Tuhan yang memelihara kehidupan kita dan keluarga kita hingga saat ini? Bukankah Dia adalah Tuhan yang sama, dahulu, sekarang dan selamanya? Jika tangan Allah yang sama itu pernah menuntun dan memberkati kita, bukankah dengan tangan Allah yang sama juga akan tetap menuntun dan akan senantiasa memelihara kehidupan kita? Sebagaimana Tuhan yang telah memelihara bangsa pilihan-Nya di masa lalu, maka janji-Nya tetap sama juga bagi umat kesayangan-Nya di masa sekarang, sebagaimana janji-Nya dalam Mazmur 37:25: ”Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.” Ingatlah terus akan janji pemeliharaan Tuhan atas hidup kita sebab itulah dasar yang membentuk iman kita melalui kesetiaan sampai akhir.

  1. Nantikanlah waktu Tuhan

”Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini” (Yosua 14:10b). Ingatlah, Tuhan berjanji kepada Kaleb tatkala dia masih berusia 40 tahun. Jarak 45 tahun dari janji sampai pada penggenapan Tuhan bukanlah waktu yang singkat. Namun, di sinilah kita melihat bahwa menantikan waktu Tuhan yang terbaik bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Ada hasilnya! Waktu yang panjang tidak pernah membatalkan perjanjian Tuhan kepada umat-Nya. Walaupun Kaleb menantikannya dalam waktu yang panjang, tapi Tuhan tetap bekerja di dalam waktu tersebut. Di sinilah ujian kesetiaan itu diberikan. Kesetiaan tidak akan menjadi kokoh dan berkualitas tanpa melewati ujian waktu yang panjang. Menantikan waktu Tuhan adalah kurikulum rohani yang tak terhindarkan bagi setiap orang yang mau dibentuk melalui kesetiaan.

Bagaimana dengan kondisi kita saat ini? Apakah kita sedang lelah menantikan waktu penggenapan akan janji Tuhan atas hidup kita? Jangan menyerah dan merasa sia-sia menantikan waktu Tuhan. Ingatlah Tuhan tahu apa yang terbaik dan kapan yang terbaik itu diberikan kepada kita. Tuhan tahu kapan kita siap untuk menerima jawaban doa kita. Apabila terlalu pagi diberikan, barangkali kita masih belum cukup siap menanggungnya. Menantikan waktu Tuhan adalah menerima kebaikan Tuhan pada waktu yang tepat, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Andrew Murray pernah berkata, ”He knows when we are spiritually ready to receive the blessing to our profit and His glory.” Dalam terjemahan bebasnya adalah ”Tuhan tahu kapan kita secara rohani siap menerima berkat itu, sehingga berkat tersebut menjadi kebaikan bagi kita dan kemuliaan bagi-Nya.”

  1. Beranilah melangkah bersama Tuhan

”Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN” (Yosua 14:12). Di titik ini, kita menyaksikan bahwa Kaleb bukan hanya sudah tua (masih hidup), tetapi dia juga masih memiliki iman yang hidup. Dia tidak merasa terlalu tua untuk menjalani panggilan Tuhan atas hidupnya. Dia juga tidak ”cuci tangan” dan menyerahkan kepada generasi berikutnya untuk mengambil alih. Sebaliknya, dia berkata, ”berikanlah kepadaku pegunungan” itu. Dia meyakini, Tuhan tetap menyertainya dalam tugas yang belum selesai ini.

Bagaimana dengan kondisi kita saat ini? Apakah kita menjalani kehidupan yang masih tersisa ini hanya sekedar ”masih hidup” saja? Sejauh mana iman kita ”masih hidup” untuk menyelesaikan pertandingan iman yang masih dipercayakan Tuhan Allah untuk kita tuntaskan? Apa warisan iman yang dapat kita berikan kepada anak cucu kita atau generasi penerus kita? Teladan keautentikan iman kita di usia lanjut justru bukan membuktikan kita sudah sempurna, sebaliknya dalam ketidaksempurnaan kita masih mau terus dibentuk untuk tetap setia sampai akhir hidup kita. 45 tahun perjalanan iman Kaleb di padang gurun bukanlah waktu yang sia-sia, sebaliknya itulah cara Tuhan membentuk iman Kaleb menjadi iman yang matang pada usia 85 tahun dan siap untuk menjadi teladan iman bagi generasi berikutnya. Sebuah teladan iman kesetiaan sampai akhir yang tetap masih mengandalkan Tuhan dan penyertaan-Nya. Apakah kita juga mau terus dibentuk melalui kesetiaan sampai akhir hidup kita? Marilah kita terus melangkah bersama Tuhan dan terus belajar mengandalkan penyertaan-Nya, sesuai janji-Nya dalam Ibrani 13:5b, ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

 

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Dari Yosua 14:10–12, apa yang membuat Kaleb tetap memiliki iman yang hidup setelah 45 tahun menantikan penggenapan janji Tuhan? Apa yang dapat Anda pelajari dari cara Kaleb melihat pemeliharaan, waktu, dan penyertaan Tuhan?

Penerapan

Dalam area kehidupan apa saat ini Anda mulai merasa lelah, kecewa, atau tergoda untuk menyerah dalam mengikuti Tuhan? Janji atau kebenaran firman Tuhan apa yang perlu Anda pegang, dan satu langkah konkret apa yang akan Anda lakukan minggu ini untuk tetap setia kepada-Nya?

 

SALING MENDOAKAN

>Akhirilah Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain [CK]