Bagikan artikel ini :

Consolidating the Heart to Move Forward (Mengokohkan Hati untuk Bergerak Maju)

Wahyu 2:1-7

EKSPRESI PRIBADI

Peneliti dari Institut Psikologi Bern University pernah meneliti tentang tingkat kepuasan pernikahan. Hasil penelitian mereka di tahun 2021 itu menemukan bahwa tingkat kepuasan pernikahan berada di titik terendah setelah masa 10 tahun pernikahan dan setelah itu pernikahan memasuki masa yang krusial untuk dijaga. Sangat menarik untuk mengerti bahwa gejolak cinta yang dikatakan Kidung Agung “kuat seperti maut” (Kid. 8:6) pun tetap dapat redup. Jika tidak dijaga. Hal ini pun berlaku juga dengan hubungan orang Kristen dengan Tuhan, jika tidak dijaga maka kasih itu dapat redup. Tuhan Yesus dengan jelas menegaskan bahwa Ia tidak berkenan dengan jemaat yang kehilangan kasih kepada-Nya.

EKSPLORASI FIRMAN

Hati Tuhan Yesus tercermin jelas di dalam surat kepada jemaat Efesus di bagian Alkitab hari ini. Surat kepada tujuh jemaat ini merupakan peringatan maupun dukungan yang Tuhan mau berikan kepada jemaat Kristen pada waktu itu yang sedang hidup dalam tekanan, baik dalam ajaran palsu maupun persekusi dari luar. Di dalam surat itu Yesus menunjukkan apa yang baik dan apa yang perlu diubah dalam kehidupan jemaat.

Hal yang Baik: Teguh dalam Pengajaran dan Tekun dalam Pelayanan

Kota Efesus pada zaman itu merupakan kota terbesar di Asia Kecil, kota Pelabuhan yang sibuk dan memiliki berbagai macam kuil penyembahan berhala. Salah dewi yang paling tersohor dan disembah adalah Dewi Artemis. Orang-orang Efesus sempat membuat keributan mendengar pemberitaan Injil dari Paulus (Kis. 19:27). Hal ini menunjukkan jemaat Efesus tetap mendapat tekanan persekusi. Meski tak mudah, jemaat tetap setia berjerih payah dan bertekun (Why. 2:2).

Jemaat Efesus juga bukan hanya berjerih payah dan bertekun dalam tekanan, tetapi mereka juga berpegang teguh dalam pengajaran yang baik. Tuhan Yesus katakan, “… Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai (tested) mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian.” (ay. 2) Jemaat Efesus juga dapat dengan yakin menguji pengajaran orang yang mengaku-ngaku pengajar Alkitab untuk saling menjaga dari pengajaran sesat.

Teladan jemaat kota Efesus sungguh baik dalam hal ketekunan dalam menjaga iman dan kebenaran. Bagi setiap kita yang tinggal di Indonesia pada zaman sekarang—dengan tantangan pluralisme agama, tekanan sosial, dan berbagai kesibukan—panggilan untuk tetap tekun dalam iman dan kebenaran tetap ada. Mari tetap maju bagi kemuliaan nama Tuhan, meski hidup sedang di bawah tekanan.

Hal yang Dicela: Hilangnya Kasih Mula-Mula

Tidak ada jemaat yang sempurna. Jemaat Efesus yang dipuji juga memiliki area/bagian yang perlu untuk dibenarkan. Satu kata kunci mendasar dari teguran Tuhan Yesus, “meninggalkan kasih yang semula.” (ay. 4) Kasih jemaat Efesus kepada siapa yang telah berubah? Kepada Yesus? Atau kepada sesama jemaat? Kemungkinan besar kepada keduanya karena kasih kepada Tuhan akan mempengaruhi kasih kepada sesama (Mrk. 12:29-31; 1 Yoh. 4:20).

Tuhan Yesus tidak menginginkan pelayanan atau kehidupan yang baik tanpa kasih kepadaNya. Kehidupan demikian tidak jauh beda dengan orang-orang Farisi yang dikecam oleh Yesus (Mat. 23:13-37). Kehidupan serta pelayanan yang sepenuh hati bagi Tuhan harusnya keluar dari hati yang mencintai Tuhan dengan tulus—bukan dari kewajiban atau kebiasaan semata.

Yang penting, Tuhan Yesus memberikan jalan pemulihan: "Ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan" (ay. 5). Bertobat di sini bukan sekadar menyesal, tetapi berbalik dari mengandalkan diri sendiri kepada mengandalkan Kristus sepenuhnya. Ingat kembali kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh. 4:19), kasih yang dinyatakan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Dari mengingat Injil inilah, kasih kepada Tuhan akan menyala kembali.

Hidup di Bawah Tekanan: Konsolidasi Hati untuk Maju

Hidup sebagai orang Kristen tidak akan lepas dari tantangan atau tekanan kehidupan, seperti yang terjadi dalam jemaat Efesus (dan 6 jemaat yang lain). Namun, tantangan seharusnya tidak menjadi alasan jemaat untuk tidak terus bekerja bagi Tuhan. Kesempatan terus Tuhan berikan sampai saatnya Ia kembali kedua kalinya, sekarang jawaban ada di tangan kita sebagai jemaat Tuhan Yesus. Apakah kita hendak tetap di tempat atau maju bagi Tuhan?

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah Tuhan yang kita sembah tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang di bawah tekanan. Yosua pernah menghadapi tantangan besar ketika harus menggantikan peran Musa yang luar biasa, Tuhan mengatakan “'Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, kemanapun engkau pergi.” (Yos. 1:9).

Panggilan Tuhan tetap ada di tengah segala tantangan ataupun keraguan. Satu hal yang Tuhan perintahkan kepada Yosua, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah kecut dan tawar hati.” Teguhkan hati untuk maju menjawab panggilan Tuhan, meski panggilan tetap besar dan tantangan tetap tidak mudah. Kenapa demikian? “Karena Tuhan Allahmu, menyertai engkau kemanapun engkau pergi.”

Panggilan Tuhan seperti kepada jemaat Efesus tetap bergema hingga saat ini, “jangan kehilangan kasih mula-mula!” Jangan menjadi kecut dan tawar hati karena tantangan atau tekanan yang ada. Andalkan Tuhan, kembali mengingat kasih yang ajaib yang pertama-tama memanggil kita dari kegelapan dosa ke dalam terang-Nya yang ajaib. Ingat kembali Injil: Kristus yang mati menggantikan kita, bangkit untuk membenarkan kita, dan kini bersatu dengan kita. Dari Injil inilah kasih yang memberi pengharapan, bukan ketakutan, untuk teguh maju menjawab panggilan Tuhan. [JP]

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Mengapa kehilangan kasih mula-mula menjadi masalah bagi orang Efesus meski kehidupannya layak menjadi teladan?

Penerapan

Langkah praktis apa yang dapat Anda ambil minggu ini untuk "mengingat, bertobat, dan kembali" kepada kasih mula-mula?

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain