Building Faith at Home: Rooted Across Generations: Membangun Iman di Rumah: Berakar Melintasi Generasi
1 Raja-raja 1:5–6; Efesus 6:1–4
| EKSPRESI PRIBADI |
Mewariskan iman kepada anak merupakan tanggung jawab yang sangat penting bagi setiap orang tua Kristen. Namun, membangun iman anak bukanlah perkara yang mudah. Iman tidak otomatis bertumbuh hanya karena anak rutin dibawa ke gereja. Diperlukan kesungguhan, keteladanan, doa, dan proses yang terus-menerus di dalam keluarga.
Di sisi lain, dunia saat ini menawarkan begitu banyak pengaruh yang dapat menjauhkan anak-anak dari Tuhan. Karena itu, keluarga harus menjadi tempat pertama dan utama di mana iman dibangun dan dipelihara.
Diskusi Pembuka: Menurut Anda, apa yang paling berperan dalam pembentukan iman anak pada masa kini? Mengapa?
| EKSPLORASI FIRMAN |
Kedua bagian firman Tuhan ini (1 Raja-raja 1:5–6 dan Efesus 6:1–4) memberikan dua gambaran yang sangat berbeda tentang pola pengasuhan dalam keluarga. Kedua pola tersebut dapat terjadi dalam keluarga mana pun dan akan sangat memengaruhi karakter serta iman anak-anak. Mari kita belajar dari kedua pola tersebut agar kita dapat membangun keluarga yang berakar pada firman Tuhan.
Pertama, Pola yang Gagal: Kasih Tanpa Disiplin (1 Raja-raja 1:5–6). Ayat 6 berkata: "Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor dia dengan ucapan: 'Mengapa engkau berbuat begitu?'" Kata "menegor" berasal dari bahasa Ibrani 'asab, yang berarti menyakiti, membuat sedih, menyebabkan rasa tidak nyaman, atau mengoreksi seseorang sehingga ia menyadari kesalahannya. Secara harfiah, ayat ini dapat dipahami sebagai: "Ayahnya tidak pernah menyakiti hatinya dengan berkata: 'Mengapa engkau berbuat demikian?'"
Ayat ini menunjukkan bahwa karakter Adonia merupakan hasil dari pola didikan Daud yang tidak pernah mengoreksi anaknya. Daud tidak pernah menegur, menentang, ataupun meminta pertanggungjawaban atas tindakan Adonia. Seharusnya, ketika Adonia melakukan kesalahan, Daud membimbingnya melalui teguran yang membawa kepada pertobatan dan kebenaran. Namun, pembiaran membuat Adonia tumbuh menjadi pribadi yang mengikuti keinginannya sendiri. Akibatnya terlihat ketika Adonia mengangkat dirinya menjadi raja tanpa kehendak Tuhan (1Raj. 1). Kemudian ia juga meminta Abisag, perempuan yang melayani Daud, menjadi istrinya (1Raj. 2:13–25). Tindakan ini dipandang sebagai upaya merebut legitimasi kerajaan sehingga Salomo menjatuhkan hukuman mati kepadanya.
Pelajaran pentingnya adalah: Kasih tanpa disiplin menghasilkan anak yang hidup menurut kehendaknya sendiri tanpa mampu membedakan yang benar dan yang salah. Sebagai orang tua, mengasihi anak berarti juga berani mendisiplinkan mereka. Jangan membiarkan kesalahan dengan alasan kasih. Disiplin bukanlah kekerasan, melainkan tindakan kasih yang bertujuan membentuk karakter. Ibrani 12:6 berkata, "Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya." Penghajaran Tuhan bukanlah tanda kebencian, melainkan bukti kasih-Nya yang mendidik umat-Nya supaya hidup benar. Demikian juga orang tua dipanggil untuk mendidik anak dengan kasih, hikmat, dan ketegasan. Bahkan Amsal 13:24 mengingatkan bahwa tongkat didikan diberikan untuk membentuk anak menuju jalan yang benar.
Kedua, Pola yang Benar: Kasih yang Membimbing (Efesus 6:1–4). Dalam Efesus 6:1–4, Rasul Paulus memberikan gambaran tentang keluarga yang sehat menurut kehendak Allah. Anak-anak diperintahkan untuk taat dan menghormati orang tua. Ini bukan sekadar anjuran, melainkan perintah Tuhan. Melalui ketaatan kepada orang tua, anak belajar menghormati otoritas Allah. Jika seorang anak tidak belajar menghormati orang tua yang Tuhan tempatkan di rumah, akan sulit baginya belajar menghormati Tuhan. Karena itu Allah memberikan janji: "...supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi." Janji ini menunjukkan bahwa Allah memberkati mereka yang hidup dalam ketaatan kepada-Nya melalui penghormatan kepada orang tua.
Namun, Paulus tidak hanya berbicara kepada anak-anak. Ia juga memberikan tanggung jawab kepada para orang tua, khususnya para ayah. Paulus berkata: "Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Disiplin yang benar harus dilakukan dalam kasih dan kebenaran, bukan dalam kemarahan atau kekerasan. Hal-hal yang sering melukai hati anak antara lain: hukuman tanpa penjelasan, kekerasan yang mengabaikan perasaan anak, kemarahan yang tidak terkendali dan teguran yang mempermalukan atau merendahkan anak. Semua itu dapat menimbulkan kepahitan yang terbawa hingga dewasa. Tidak sedikit anak yang akhirnya menjauh dari orang tua karena luka yang terus dipendam sejak kecil.
Karena itu, dasar utama dalam mendidik anak bukanlah emosi orang tua, melainkan firman Tuhan. Nasihat orang tua akan memiliki kuasa ketika berakar pada firman Tuhan dan didukung oleh keteladanan hidup. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jadilah orang tua yang mencintai firman Tuhan, menghidupinya dalam keseharian, dan membagikannya kepada anak-anak. Dengan demikian, rumah menjadi tempat di mana iman dibangun dari generasi ke generasi.
| APLIKASI KEHIDUPAN |
Pendalaman
Apakah mendidik anak dengan pukulan itu salah? Bagaimana Alkitab memandang disiplin dan apa bedanya dengan kekerasan terhadap anak?
Penerapan
Mari mengevaluasi pola pengasuhan Anda. Apakah Anda cenderung membiarkan kesalahan anak demi menghindari konflik? Ataukah Anda terlalu keras sehingga melukai hati mereka?
| SALING MENDOAKAN |
Akhirilah Care Group dengan saling mendoakan satu dengan yang lain. [SO]
