Bagikan artikel ini :

Beyond My Strength: The Holy Spirit Factor (Melampaui Kekuatanku: Faktor Roh Kudus)

Zakharia 4:1-10

EKSPRESI PRIBADI

Dalam kehidupan manusia di tengah dunia, selalu ada faktor “X” yang sering kali tidak dapat diprediksi dan dikontrol oleh kemampuan manusia. John Allen Paulos, matematikawan asal Amerika Serikat, bahkan pernah mengatakan (parafrase): “Ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian yang bisa dipastikan.” Seorang pemikir yang skeptis terhadap agama pun mengakui bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa diprediksi atau dikontrol. Oleh sebab itu, tidak heran bila secara natural manusia sering kali menerjemahkan faktor “X” ini sebagai faktor keberuntungan di tengah ketidakpastian.

Sebagai orang Kristen, kita pun mengakui bahwa kita tidak dapat sepenuhnya mengontrol kehidupan ini sebagai manusia yang terbatas. Namun, kita tidak menggantungkan iman kita pada faktor keberuntungan dalam menjalani kehidupan. Iman kekristenan dengan jelas menyatakan bahwa sekalipun dunia dipenuhi ketidakpastian, tetapi tetap ada Tuhan yang pasti dan tidak pernah berubah. Oleh sebab itu, John Calvin pernah menyatakan bahwa orang percaya tidak percaya pada keberuntungan (fortune) yang tidak pasti, tetapi kepada Tuhan yang berdaulat dan pasti memelihara umat-Nya.

EKSPLORASI FIRMAN

Inilah yang dinyatakan di dalam Zakharia 4:1-10. Yang disaksikan oleh nabi Zakharia bukan hanya sekadar penglihatan acak tanpa makna mengenai masa depan yang tidak pasti, tetapi sebuah jaminan dari Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Konteks penulisan Zakharia berada pada ujung masa pembuangan orang Yahudi di Babilonia. Zakharia dan Hagai mendorong orang-orang Israel yang kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali bait Allah. Namun, hal ini bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan sebab kehidupan di tengah Yerusalem sangatlah sulit di masa pasca-pembuangan. Di tengah situasi seperti ini, Zakharia justru mengajak umat Allah untuk terus melangkah maju, memandang melampaui kekacauan, menanti kedatangan Kerajaan Allah dan tetap setia dalam pengharapan.

Pasal 4:1-10 memiliki kaitan yang erat dengan pasal 3:1-10. Ada dua tokoh yang disebutkan dalam bagian ini, yaitu imam besar Yosua dan raja Zerubabel. Tuhan menyatakan melalui penglihatan kepada Zakharia bahwa melalui dua tokoh inilah Tuhan akan membangun kembali bait Allah dan Yerusalem. Melalui imam besar Yosua, Tuhan menyatakan pengampunan-Nya bagi umat Allah. Sementara melalui Zerubabel, Tuhan menyatakan kuasa dan kekuatan-Nya di hadapan umat-Nya.

Namun, fokusnya bukan pada kehebatan dua tokoh manusia yang hari itu ada, tetapi dinyatakan dengan jelas dalam ayat 6: “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta alam.” Intinya, pemulihan dan pemeliharan bagi umat Allah bukan dikarenakan Allah memilih dua orang pemimpin yang hebat dan gagah perkasa, tetapi karena Roh Allah ada beserta dengan pemimpin umat Allah. Dengan demikian, keberuntungan yang tidak pasti bukanlah yang menjadi “faktor X” dari keselamatan umat Allah. Akan tetapi, Roh Kudus yang beserta dengan umat-Nya, itulah jaminan kesetiaan dan pemeliharan Allah di tengah kondisi yang paling kacau sekalipun.

Narasi Perjanjian Baru kemudian menyatakan kepada kita bahwa penyertaan Roh Kudus bukan hanya terjadi bagi orang Yahudi yang baru pulang dari pembuangan, tetapi juga digenapi dan dinyatakan di dalam dan melalui gereja Tuhan. Tuhan Yesus menjanjikan turunnya pribadi ketiga Allah Tritunggal, yaitu Allah Roh Kudus yang berdiam di antara orang percaya dan yang membawa orang untuk dapat mengenal Kristus dan Injil-Nya. Kehadiran Roh Kudus menjadi jaminan bagi orang percaya bahwa Allah sungguh hadir di tengah-tengah umat-Nya sampai hari ini.

Di tengah konteks dunia yang penuh dengan kekacauan, masalah utama manusia bukan hanya karena dunia yang tidak stabil, tetapi karena manusia terus merespons ketidakstabilan itu dengan kekuatannya sendiri. Manusia berusaha mengontrol, mengamankan, dan memastikan masa depan dengan kemampuan, strategi, dan perencanaannya. Manusia hidup seolah-olah semuanya bergantung pada dirinya sendiri.

Zakharia justru membongkar cara berpikir ini. Tuhan tidak mengatakan bahwa usaha manusia tidak penting, tetapi Ia menegaskan bahwa keberhasilan umat-Nya tidak pernah ditentukan oleh kapasitas manusia, melainkan oleh kehadiran dan karya Roh-Nya. Pertanyaan bagi kita hari ini bukan sekadar “kesulitan apa yang kita hadapi?”, tetapi: “Apa yang sebenarnya kita andalkan ketika hidup penuh kekacauan dan kesulitan?”   (PC)

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Jika Tuhan berkata “bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan”, apa yang sebenarnya sedang dikoreksi dari cara manusia bekerja dan merencanakan hidupnya? Lalu, bagaimana seharusnya orang percaya memahami usaha dan kerja keras tanpa jatuh pada mengandalkan diri sendiri?

Penerapan

Apa bentuk “ilusi kontrol” dalam hidup saat ini yang membuat hidup terasa aman, padahal sebenarnya tidak bisa menjamin apa pun? Dalam satu situasi nyata yang sedang dihadapi hari ini, apa langkah konkret yang bisa dilakukan untuk berhenti mengandalkan diri sendiri dan mulai bergantung pada Roh Kudus?

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.