Bagikan artikel ini :

Berjalan dalam Kehendak Tuhan: Berakar dalam Kepekaan Rohani (Walking in God’s Will: Rooted in Discernment)

Efesus 5:15–17

 

Ekspresi Pribadi

Pernahkah Anda berhenti sejenak untuk bertanya, Apa yang paling sering memengaruhi keputusan-keputusan Anda? Ketika harus memilih pekerjaan, mengatur waktu, menentukan prioritas keluarga, menggunakan uang, atau bahkan memutuskan apa yang ditonton dan dibaca setiap hari, apa yang menjadi pertimbangan utama? Apakah Firman Tuhan sungguh menjadi dasar pengambilan keputusan, atau justru lebih sering dipengaruhi oleh tuntutan pekerjaan, tren media sosial, pendapat orang lain, atau ambisi pribadi? Mungkin kita tidak pernah secara sadar menolak kehendak Tuhan, tetapi tanpa disadari kita menjalani hidup dengan "autopilot," mengikuti arus tanpa benar-benar mencari apa yang Tuhan kehendaki. Coba ingat kembali satu keputusan yang Anda ambil dalam satu minggu terakhir. Apa yang paling memengaruhi keputusan tersebut, dan mengapa Anda mengambil keputusan itu? Jika seseorang mengamati cara hidup Anda hari ini, apakah ia akan melihat bahwa hidup Anda sedang dibentuk oleh Kristus atau lebih banyak dibentuk oleh dunia? Diskusikanlah bersama kelompok CG Anda.

 

Eksplorasi Firman

Efesus 5:15–17 berada dalam bagian surat Paulus yang menjelaskan bagaimana orang percaya harus hidup sebagai “anak-anak terang” (Ef. 5:8). Setelah menjelaskan identitas baru di dalam Kristus, Paulus menunjukkan bahwa identitas tersebut harus nyata dalam cara hidup sehari-hari. Hidup yang berakar di dalam Kristus tidak dijalani secara pasif atau mengikuti arus, melainkan dengan kepekaan rohani yang terus dibentuk oleh Firman dan Roh Kudus. Di tengah dunia yang dipengaruhi oleh dosa, orang percaya dipanggil untuk hidup dengan hikmat Allah, bukan menurut pola pikir dunia. Kedewasaan rohani tidak hanya terlihat dari apa yang diketahui atau diakui, tetapi juga dari bagaimana setiap keputusan dan tindakan mencerminkan kehendak Tuhan. Karena itu, kehidupan Kristen adalah kehidupan yang dijalani dengan penuh kesadaran, kewaspadaan, dan ketergantungan kepada Tuhan dalam setiap langkah. Rasul Paulus kemudian menguraikannya melalui tiga nasihat penting.

  1. Hiduplah dengan hikmat (ay. 15). 

Paulus berkata, "Perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif." Perintah ini menekankan bahwa kehidupan Kristen harus dijalani dengan penuh kewaspadaan. Yang ditekankan bukan sekadar ke mana seseorang pergi, tetapi bagaimana ia menjalani setiap langkah hidupnya. Dalam Alkitab, hikmat bukan terutama kecerdasan atau pengalaman, melainkan kemampuan melihat hidup dari perspektif Allah dan menaati kehendak-Nya. Sebaliknya, orang bebal adalah mereka yang hidup tanpa mengindahkan Tuhan. Dari perspektif Reformed, hikmat merupakan buah pembaruan hati oleh Roh Kudus melalui Firman. Karena itu, kepekaan rohani tidak lahir dari intuisi atau perasaan semata, tetapi dari pikiran yang terus diperbarui oleh kebenaran Allah.

  1. Gunakanlah setiap kesempatan (ay. 16). 

Paulus melanjutkan, "Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." Secara harfiah, ungkapan ini berarti "menebus kesempatan", yaitu memanfaatkan setiap peluang yang Tuhan berikan untuk melakukan kehendak-Nya. Paulus mengingatkan bahwa dunia ini tidak netral; nilai-nilai yang bertentangan dengan Allah terus berusaha membentuk cara berpikir dan gaya hidup manusia. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk hidup dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Waktu bukan sekadar untuk mengejar kesibukan atau pencapaian pribadi, tetapi kesempatan untuk mengasihi sesama, melayani, bertumbuh dalam kekudusan, dan memuliakan Kristus melalui setiap aspek kehidupan.

  1. Mengertilah kehendak Tuhan (ay. 17). 

Paulus menutup nasihatnya dengan berkata, "Janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." Kata "usahakanlah" menunjukkan bahwa memahami kehendak Allah memerlukan kerinduan dan kesungguhan. Dalam pemahaman Reformed, kehendak Allah terutama telah dinyatakan melalui Kitab Suci, sehingga orang percaya tidak dipanggil untuk terus mencari tanda-tanda yang bersifat subjektif, melainkan membentuk hidup berdasarkan Firman. Semakin seseorang mengenal Allah melalui Firman-Nya, semakin ia dimampukan membedakan apa yang benar dan berkenan kepada-Nya. Kepekaan rohani bukan terutama mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi memiliki hati yang siap menaati apa yang sudah Allah nyatakan hari ini.

Tema khotbah GII bulan Juli ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak memanggil kita memiliki iman yang pasif (passive faith), melainkan iman yang berakar dalam (rooted deeply) sehingga menghasilkan kehidupan yang disadari dan disengaja (intentional living). Di tengah dunia yang terus membentuk cara berpikir, nilai, dan prioritas kita, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah, Apa yang sedang saya kejar? melainkan, Siapa yang sedang membentuk hidup saya? Ketika akar kehidupan kita tertanam di dalam Kristus dan Firman-Nya, kita akan semakin peka membedakan kehendak Tuhan serta berani mengambil setiap keputusan yang memuliakan-Nya. Kiranya setiap langkah hidup kita menjadi kesaksian bahwa bukan lagi arus dunia yang mengendalikan kita, melainkan Kristus, Tuhan yang memimpin seluruh kehidupan kita.

 

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Mengapa kepekaan rohani harus didasarkan pada Firman Tuhan, bukan sekadar pada intuisi atau perasaan? Apa bahayanya jika Anda hanya mengandalkan perasaan saat mencari kehendak Tuhan?

 

Penerapan

Tindakan dan langkah konkrit apa yang Anda lakukan untuk mempertajam kepekaan rohani melalui pergaulan dengan firman Tuhan?

 

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain. [YM]