Apathy: A Fruitfulness Killer (Apatis: Pembunuh Kesuburan Rohani)
Matius 25:14–30; Yakobus 4:17
Ekspresi Pribadi
Salah satu musuh paling berbahaya dalam kehidupan rohani kita bukanlah dosa yang mencolok, melainkanapatis, yaitu sikap acuh tak acuh, puas diri, dan enggan bertanggung jawab atas apa yang Tuhan percayakan. Apatis tidak selalu terlihat jahat. Ia sering menyamar sebagai sesuatu “netral, aman”, atau “tidak mau ambil risiko”. Namun justru di sanalah letak bahayanya: apatis membunuh kesuburan rohani secara perlahan, diam-diam, dan sistematis. Di antara tiga sikap apatis: acuh tak acuh, berpuas diri dan enggan bertanggung jawab, manakah yang menjadi pengalaman dan pergumulan hidup Anda saat ini dan bagaimana Anda mengatasinya? Bagikan pengalaman Anda dalam care group sekarang.
Eksplorasi Firman
Yesus dan Yakobus dengan sangat tegas memperingatkan bahaya apatisme ini. Dalam perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14–30) dan dalam pernyataan Yakobus (Yak. 4:17), kita melihat bahwaketidaksetiaan bukan hanya soal melakukan apa yang salah, tetapi juga tidak melakukan apa yang benar.
- Apatis adalah pengkhianatan terhadap anugerah Allah. Dalam perumpamaan ini, tiga hamba menerima jumlah talenta yang berbeda “masing-masing menurut kesanggupannya” (Mat. 25:14-18). Masalahnya bukan pada jumlah talenta, tetapi padarespons mereka terhadap kepercayaan tuan mereka. Berbeda dengan hamba pertama dan kedua menjalankan talentanya, hamba ketiga tidak menyia-nyiakan talenta itu secara lahiriah. Ia tidak mencurinya, tidak menghamburkannya. Ia hanya“menguburnya.” Inilah sikap apatis yang paling berbahaya: tidak melawan Tuhan secara terang-terangan, tetapi juga tidak menghidupi panggilan-Nya dengan setia. Secara teologis, apatis adalah bentuk pengkhianatan terhadap anugerah Allah, karena: Anugerah selalu bersifataktif, bukan pasif. Pemberian Tuhan selalu mengandung tujuan, bukan sekadar kepemilikan dan kepercayaan Tuhan menuntutpertanggungjawaban, bukan netralitas. Apatis berkata, “Yang penting aku tidak berbuat jahat.” Tetapi Injil berkata, “Aku dipanggil untuk menghasilkan buah.”
- Akar apatis adalah teologi yang salah tentang Allah. Hamba yang apatis memiliki gambaran Allah yang keliru: “Tuan adalah orang yang kejam” (Mat. 25:24-25). Ketakutan ini bukan “takut” yang kudus (respek), melainkan takut yang melumpuhkan. Ia melihat Tuhan sebagai Pribadi yang menuntut tanpa mengasihi, menghukum tanpa berbelas kasihan. Di sinilah akar apatis sering tersembunyi,teologi yang salah melahirkan spiritualitas yang mandek. Jika Allah dipandang hanya sebagai Hakim yang keras, maka ketaatan akan berubah menjadi defensif, bukan produktif. Namun Injil menyatakan bahwa Allah adalah Tuan yang: Memberi terlebih dahulu sebelum menuntut, mempercayakan sebelum meminta laporan, dan bersukacita atas kesetiaan, bukan hanya hasil besar. Apatis sering kali bukan karena kurang kemampuan, tetapi karenakurang pengenalan akan karakter Allah yang benar.
- Apatis bukan netral, melainkan jahat. Respons tuan sangat mengejutkan: “Hai hamba yang jahat dan malas” (Mat. 25:26-30). Yesus tidak menyebutnya gagal, tetapijahat. Mengapa? Karena dalam Kerajaan Allah, tidak ada ruang bagi iman yang mandek. Tidak berbuah bukanlah kondisi netral; itu adalah penolakan terhadap maksud Allah. Kesuburan rohani tidak diukur dari seberapa banyak kita miliki, tetapi dariapa yang kita lakukan dengan apa yang Tuhan percayakan: waktu, kesempatan, karunia, posisi, pengaruh, dan Injil itu sendiri. Apatis membunuh kesuburan rohani karena: ia menghentikan pertumbuhan, ia mematikan kepekaan hati dan Ia mengeras menjadi kebiasaan hidup yang nyaman tetapi kosong.
- Dosa karena kelalaian. Yakobus menajamkan pesan Yesus dengan satu kalimat yang menggugah: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yak. 4:17). Ini adalah dosa yang sering diremehkan:dosa karena kelalaian (Sin of Omission). Bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita memilih diam. Bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita tidak mau terlibat. Dalam terang firman ini, apatis bukan sekadar masalah sikap, tetapimasalah moral dan rohani yang serius.
Kabar baik Injil adalah Tuhan bukan hanya menuntut buah, Ia juga menyediakan kasih karunia untuk berbuah. Kristus sendiri adalah Hamba yang paling setia—Ia tidak mengubur panggilan-Nya, tetapi menyerahkan hidup-Nya sepenuhnya di kayu salib. Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: Talenta apa yang sedang kita kubur? Kesempatan apa yang kita abaikan? Kebaikan apa yang kita tahu harus dilakukan, tetapi terus kita tunda? Kesuburan rohani tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari kesetiaan. Dan apatis, jika dibiarkan, akan selalu menjadipembunuh kesuburan rohani. “Hiduplah bukan sekadar agar tidak salah, tetapi agar hidupmu berbuah bagi kemuliaan Tuhan.”
APLIKASI KEHIDUPAN
PENDALAMAN:
Dalam area apa dalam hidup dan pelayanan Anda saat ini, Anda tahu Tuhan memanggil Anda untuk berbuat baik dan berbuah, tetapi justru Anda memilih diam, menunda atau menguburnya dan langkah konkret apa yang akan Anda ambil minggu ini untuk setia menggunakan apa yang Tuhan percayakan?
PENERAPAN:
Satu tindakan nyata apakah yang akan Anda lakukan dalam tujuh hari ke depan untuk menggunakan talenta, waktu dan kesempatan yang Tuhan percayakan sebagai lawan dari sikap apatis yang selama ini Anda biarkan?
SALING MENDOAKAN
Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.
