Bagikan artikel ini :

Yes, Hidupku Penuh Sukacita

Yohanes 2:1-11

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
- Filipi 4:4

Apakah Anda bersukacita menjadi orang Kristen? Tentu hidup tidak selalu berjalan mulus, tetapi apakah Anda bersukacita menjalani hari demi hari? Sayang sekali kalau kita hidup sebagai anak-anak Tuhan, tetapi hidup tanpa sukacita. Tuhan justru memerintahkan kita untuk senantiasa bersukacita di dalam Dia.

Injil Yohanes mencatat bahwa Yesus dan murid-murid-Nya diundang hadir di pesta pernikahan di Kana. Tentu saja tidak ada yang mengharapkan Yesus hadir di sana untuk menjaga pesta tetap berlangsung. Di tengah krisis yang dihadapi pesta, Yesus menyatakan kuasa-Nya, Dia mengubah air menjadi anggur. Kalau memikirkan mukjizat-Nya ini, memang luar biasa. Air menjadi anggur dalam sekejap, tanpa disentuh, tanpa ditambah apa pun, tanpa diaduk-aduk, hanya air saja. Bahkan dalam jumlah yang sangat melimpah, yang membuat pesta aman. Dari kekosongan anggur, menjadi kelimpahan anggur. Bukan hanya kuantitasnya yang melimpah, tetapi kualitas anggurnya juga luar biasa.

Waktu pemimpin pesta mencicipi anggur yang dibawa pelayan, ia tidak tahu anggur tersebut hasil mukjizat Yesus. Pemimpin pesta langsung menyatakan ini anggur yang terbaik. Kalau ia hidup di zaman sekarang dan suka nonton foodvlogger, ia mungkin berkata, “Anggur ini ga ada obatnya! Enak banget!” sampai-sampai ia memanggil mempelai pria dan memujinya karena kualitas anggurnya. Padahal si mempelai pria juga tidak tahu dari mana anggur itu berasal. Kita melihat kehadiran Yesus mengubahkan situasi yang sedang dihadapi, situasi krisis, penuh kesuraman, diubah seketika oleh Yesus menjadi penuh sukacita.

Mukjizat pertama ini menyatakan bahwa Yesus menghadirkan sukacita besar dan melimpah, yang tidak akan pernah habis, yang tidak bisa direnggut oleh apa pun, dan yang hanya bisa diberikan oleh diri-Nya sendiri. Dunia tidak memberikan sukacita sejati sebab sukacita sejati hanya ada di dalam Kristus. Sayangnya, kita seringkali mati-matian berusaha mendapatkan sukacita dari dunia, yang kita pikir akan memberikan kelegaan, padahal akhirnya berujung pada kekecewaan. Kita mungkin merasa sensasi sesaat sukacita, tetapi kita akan kembali lagi merasakan kesuraman, merasa kurang sukacita. Kalau kita tidak pernah memahami pergumulan terbesar kita di dalam hidup adalah dosa, maka kita tidak akan memahami dengan sungguh bahwa Yesus adalah sumber sukacita kita satu-satunya. Bersukacitalah senantiasa!


Refleksi Diri:

  • Kepada siapa dan pada apa Anda biasanya mencari sumber sukacita ? Tuhan Yesus atau dunia?
  • Apakah Anda bersukacita dalam menjalani hidup Anda sekarang? Mengapa?