Bagikan artikel ini :

Yang Muda Versus Yang Tua

2 Tawarikh 10:1-19

Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua.
- 1 Petrus 5:5a

 

Kita mungkin sering mendengar nama Saul, Daud, dan Salomo, yakni tiga raja Israel pertama. Akan tetapi, bagaimana dengan raja-raja selanjutnya? Oleh karena penyembahan berhala yang dilakukan Raja Salomo, Tuhan memecah kerajaannya menjadi dua. Keturunan Salomo hanya berkuasa atas dua suku, yakni suku Yehuda dan Benyamin yang kemudian disebut Kerajaan Yehuda Selatan. Meski jarang dikenal, para raja ini sebenarnya memiliki kisah yang tidak kalah menarik dibandingkan kisah Daud dan Salomo.

 

Dimulai dari anak Salomo yang menjadi penggantinya, Rehabeam, yang mengalami perpecahan kerajaan. Memang, perpecahan Israel merupakan kehendak Tuhan. Namun, kita melihat di kisah ini bagaimana kebodohan Rehabeam membuat perpecahan tersebut terjadi. Rakyat Israel dengan dipimpin oleh Yerobeam menghadap Rehabeam untuk meminta keringanan. Raja muda itu pun harus membuat keputusan, apakah mengabulkan permintaan rakyatnya atau tidak? Alih-alih menerima masukan dari para penasihat senior, ia lebih memilih mendengar teman-temannya yang tidak berpengalaman.

 

Perhatikan detail yang dicatat Alkitab mengenai penasihat-penasihat senior tersebut, “yang selama hidup Salomo mendampingi Salomo, ayahnya” (ay. 6). Bayangkan, Salomo yang merupakan orang paling bijaksana di dunia saja memerlukan nasihat dari orang-orang senior ini, terlebih lagi Rehabeam si anak kemarin sore. Sayang sekali, Rehabeam lebih memilih mendengar teman-temannya yang tentu memberikan jawaban sesuai apa yang ia ingin dengar. Kebodohan Rehabeam membawa kepada akhir tragis kerajaan Israel. Pemberontakan dilakukan oleh Yerobeam beserta kesepuluh suku yang tidak puas dan kerajaan tersebut terpecah.

 

Meski dalam skala kecil, kita melihat perpecahan serupa terjadi di masa kini. Generasi yang muda terpisah dari yang tua dan tidak mau mendengarkan nasihat mereka. “Mereka bahkan tidak bisa pakai Google!” “Mereka bahkan tidak bisa mengirim email, untuk apa mendengar nasihat mereka?” Ya, mereka mungkin gaptek (gagap teknologi) dan kudet (kurang update) dalam beberapa hal. Namun tetap saja, mereka yang telah menjalani hidup lebih lama memiliki lebih banyak pengalaman daripada kita yang muda.

 

Tentu, kita boleh saja tidak setuju. Namun, setidaknya pertimbangkan nasihat mereka. Sangat mungkin Tuhan berbicara kepada kita melalui mereka yang kaya dengan pengalaman.


Refleksi Diri:

  • Sebagai orang yang lebih muda atau junior, pernahkah Anda bersikap tidak hormat dan enggan mendengarkan mereka yang lebih senior? Mengapa demikian?
  • Sebagai orang yang lebih tua atau senior, pernahkah Anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan generasi yang lebih muda? Apa yang terjadi dalam interaksi tersebut?