Bagikan artikel ini :

Yang Hina Menjadi Yang Mulia

Efesus 3:7-13

Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,
- Efesus 3:8

Apa yang membuat manusia merasa berharga? Apakah memiliki harta, kedudukan atau nama yang terkenal? Keberhargaan manusia sebenarnya didapatkan tatkala ia menjadi seorang yang berguna bagi banyak orang. Seseorang akan merasa dirinya berharga karena telah berjasa bagi orang lain. Tak heran orang yang sering berbuat jahat disebut sebagai “sampah masyarakat” karena hidupnya tidak berguna dan tidak bermanfaat bagi orang lain.

Rasul Paulus di dalam hidupnya merasa diri sebagai seorang yang hina karena pada saat sebelum bertobat, ia melakukan hal-hal yang jahat terhadap orang-orang percaya. Paulus menyatakan bahwa dirinya adalah orang “yang paling hina di antara segala orang kudus”. Paling hina dalam bahasa Inggrisnya memakai kalimat: less than the least yang berarti lebih kecil dari yang paling kecil. Kalimat ini mengungkapkan ketidaklayakan. Paulus menganggap dirinya seorang yang paling tidak layak dari semua orang-orang percaya karena perbuatannya terdahulu.

Namun, bersyukur Allah tidak melihat perbuatan Paulus di masa lalu. Ia justru dipanggil secara khusus oleh Kristus Yesus untuk menjadi alat pilihan-Nya seperti yang diperintahkan Tuhan Yesus kepada Ananias di dalam Kisah Para Rasul 9:15, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.” Paulus yang hina menjadi mulia karena ia dipilih secara khusus untuk melaksanakan tugas yang khusus dan mulia dari Kristus Yesus sendiri.

Saudaraku, siapa pun dan apa pun latar belakang kita, Tuhan bisa memakai kita menjadi alat-Nya yang luar biasa. Tuhan Yesus tidak pernah melihat latar belakang kita, tetapi melihat apa yang bisa kita kerjakan bersama dengan Dia. Karena itu, marilah kita bersama-sama fokus untuk memberitakan Injil. Seperti Paulus yang telah menjadi pelayan Injil maka kita pun pasti bisa. Kita telah diselamatkan oleh Injil maka kita harus berbagi tentang Injil melalui kesaksian pertobatan dan keselamatan kita. Jangan takut dan gentar karena kita melayani bukan dengan kekuatan dan kehebatan kita, tetapi karena kuasa Roh Kudus yang bekerja di antara kita.


Refleksi Diri:

  • Apa latar belakang dan perbuatan di masa lalu yang membuat Anda sangsi untuk melakukan pengabaran Injil? Bagaimana kebenaran di atas bisa mengubahkan pandangan Anda tersebut?
  • Bagaimana Anda bisa mengerjakan pengabaran Injil di lingkungan terdekat Anda (keluarga, tempat kerja atau di lingkungan tetangga)?