Bagikan artikel ini :

Warisan Yang Benar

Amsal 20:6-12

Orang benar yang bersih kelakuannya‒berbahagialah keturunannya.
- Amsal 20:7

Dunia bisnis mengenal ungkapan: Kutukan tiga generasi. Ungkapan ini menyatakan bahwa kehancuran bisnis bisa terjadi di generasi ketiga. Data statistik menunjukkan bahwa hanya sekitar 12-13% bisnis keluarga yang bertahan hingga generasi ketiga. Salah satu penyebab kehancuran bisnis di generasi ketiga adalah ketidaksiapan generasi penerus. Umumnya, generasi ketiga tidak merasakan perjuangan saat mendirikan usaha dan kecenderungannya justru menghabiskan kekayaan warisan yang ia miliki dari generasi sebelumnya. Budaya kenyamanan generasi berikutnya yang diberikan oleh generasi sebelumnya juga menjadi andil sehingga generasi ketiga tidak dilatih untuk memegang tanggung jawab bisnis kakek dan ayahnya.

Amsal 20:7 mengajarkan bahwa keturunan kita bisa menjadi berbahagia karena ada peran dari generasi sebelumnya. Kata “berbahagia” di ayat emas memakai kata esher dalam bahasa Ibrani yang berarti hidup diberkati, hidup dalam kebaikan, dan mendapatkan kesejahteraan dari Tuhan. Keturunan yang memiliki situasi seperti ini adalah buah dari kehidupan orangtuanya, secara khusus ayahnya sebagai orang benar. Orang benar menunjuk kepada seseorang yang memiliki integritas. Integritas muncul sebagai buah dari seseorang yang mengasihi Tuhan dan taat pada firman-Nya. Hidup orang benar juga dekat dengan Tuhan, yang membawanya pada kehidupan yang benar. Ketika kehidupan seorang ayah seperti ini, ia akan menjadi teladan bagi anak-anaknya sehingga mereka pun akan hidup di dalam kebenaran.

Firman Tuhan mengajarkan kepada kita sebagai orangtua, khususnya seorang ayah, haruslah meninggalkan warisan iman dan hidup yang benar bagi anak dan cucu, serta generasi berikutnya. Generasi yang terus hidup di dalam iman dan kebenaran, hidupnya akan diberkati dan menerima kebaikan dari Tuhan. Jalan hidup menuju kesuksesan adalah hidup di jalan takut akan Tuhan dan suka akan firman-Nya (Mzm. 1:2-3).

Saudaraku yang terkasih, di peringatan hari ayah ini, bukan hanya kerja keras dan perjuangan kita yang patut diapresiasi, tetapi sebagai seorang ayah, kita juga diingatkan akan tugas utama kita, yaitu menjadi teladan iman bagi anak-anak dan mewariskannya kepada keturunan kita. Jangan menyesal di masa depan tatkala kita melalaikan tanggung jawab ini. Kita pasti akan bersukacita jika di masa depan kita sudah menyelesaikan tanggung jawab ini, bahkan keturunan kita akan terus berbahagia karena mereka hidup di dalam kebaikan Tuhan.


Refleksi Diri:

  • Sebagai ayah, apakah Anda sudah menunjukkan hidup sebagai orang benar? Apakah Anda sudah memberikan teladan iman yang baik?
  • Sebagai anak, apa warisan iman yang selama ini ayah Anda telah ajarkan? Apakah Anda sudah menerapkannya dengan baik?