Ungkapan Kasih Yang Total
Yohanes 12:1-8
Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
- Yohanes 12:3
Kita biasanya dapat membedakan ungkapan kasih yang tulus dan yang pura-pura dari seseorang kepada kita. Ada orang yang tampak sungguh-sungguh mengungkapkan kasihnya, padahal sebetulnya punya maksud busuk. Apa yang dilakukan Maria adalah ungkapan kasih yang begitu tulus dan total. Jika membandingkan Maria dengan Yudas, tentu saja Yudas lebih sering bertemu dengan Yesus. Yudas lebih banyak melihat apa yang Yesus lakukan, lebih banyak mendengar ajaran-ajaran-Nya, juga menyaksikan bagaimana Dia melayani orang-orang yang terpinggirkan tanpa memikirkan status sosial. Namun, mengapa Yudas hatinya begitu jauh dari Tuhan? Karena hatinya bukanlah memberi untuk Kristus, tetapi untuk dirinya sendiri.
Pemberian Maria bukan hanya minyak narwastu yang mahal, tetapi juga rambutnya yang digunakan untuk menyeka kaki Yesus. Rambut adalah lambang kehormatan bagi seorang wanita. Maria tidak memikirkan tentang harga dirinya karena ia berpikir pemberian totalitas itu pantas untuk Yesus. Maria tidak mencoba memberi penjelasan ketika ada nada-nada sumbang tentang apa yang dilakukannya. Ketika kita semakin terfokus untuk memberikan segala-galanya kepada Yesus, kita akan semakin sedikit memikirkan tentang diri sendiri.
Ungkapan kasih yang habis-habisan kepada Tuhan sangat mungkin selalu berpotensi menimbulkan kesulitan bagi diri kita. Kita kadang mau memberikan yang terbaik kepada Tuhan asalkan tidak mengganggu kenyamanan kita. Mungkin awalnya kita bukanlah orang yang haus akan pengakuan orang lain. Kita mengikut Tuhan dengan setia, memberikan yang terbaik dari diri kita untuk Tuhan. Kita tidak ambil pusing apakah dipuji orang atau tidak. Namun waktu berlalu, banyak yang berubah di dalam diri kita. Kita mulai menduduki jabatan penting, kita diakui prestasinya, orang-orang membutuhkan pelayanan kita, karena kita dianggap serba bisa.
Kita mulai berpikir, bagaimana agar orang tetap menyanjung saya. Kita tidak lagi berani terang-terangan berkata saya orang Kristen. Kita merasa kenyamanan kita lebih penting daripada segala-galanya. Ketika kita lebih banyak memperhatikan diri sendiri, kita akan semakin sedikit memikirkan tentang Yesus. Hidup kita berharga, karena Tuhan Yesus telah memberikan yang paling berharga, yaitu diri-Nya. Karena itu, sudah seharusnya kita memberikan hidup kita untuk kemuliaan Tuhan.
Refleksi Diri:
- Apa yang sering menjadi penghalang untuk Anda memberikan hidup yang terbaik bagi Tuhan?
- Dalam hal apa Anda sering cari aman, ketimbang hidup tetap memuliakan Tuhan?
