Titik Tengah Atau Titik Balik?
1 Korintus 15:1-11
Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.
- 1 Korintus 15:10a
Hidup manusia tidak lepas dari krisis. Ketika masa remaja mengalami krisis identitas, saat paruh baya mengalami krisis tengah baya, dan menjelang lanjut usia menghadapi krisis hari tua. Hari ini kita fokus membahas krisis tengah baya yang biasanya dialami oleh mereka di rentang usia 40-60 tahun.
Seseorang yang mencapai usia paruh baya sering kali diperhadapkan berbagai pertanyaan dalam hidup. Ia bergumul di dalam hatinya, apa pencapaian hidupku sesuai cita-citaku? Untuk apa aku ada di dunia ini? Ke mana tujuan hidup yang harus aku lalui pada sisa hidupku? Ketiga pertanyaan tersebut sering menimbulkan penyesalan masa lalu, mungkin karena kesalahan dalam mengambil keputusan, memilih karier atau pasangan hidup, dan sebagainya. Akibatnya, ia menjalani hidup dalam ketakutan menghadapi masa tua, bisa juga kecemasan menghadapi masa depan.
Mari kita fokus pada ayat emas yang dalam bahasa Yunani berbunyi chariti de theou eimi ho eimi, artinya tetapi oleh anugerah Allah, aku adalah seperti aku adanya (by the grace of God, I’m what I’m). Melalui ayat ini Rasul Paulus menyampaikan masa lalunya yang gelap sebagai orang yang pernah menganiaya jemaat Allah (ay. 9). Paulus sebagai orang Ibrani asli, disunat di hari kedelapan, sejak muda masuk golongan Sanhedrin. Namun, semua itu adalah sampah, bagi Paulus sekarang yang terpenting adalah anugerah Allah yang telah mengubah masa depannya.
Memang tidak mudah menghadapi titik tengah hidup. Kita lebih sering gagal dan hidup dalam kepahitan. Hanya karena anugerah Tuhan kita mampu menerima kenyataan hidup apa adanya. Anugerah Tuhan dapat membukakan mata rohani kita untuk melihat apa yang Allah lihat, meski sulit dimengerti. Anugerah Allah memampukan kita menelusuri arah hari esok dengan tenang dan damai di tengah badai kehidupan yang melanda.
Masa paruh baya sebenarnya merupakan kesempatan kita belajar rendah hati dan jadi titik balik untuk pertobatan, serta menata hidup kembali. Masa lalu tidak akan berubah karena sudah menjadi sejarah. Ambil pelajaran dari masa lalu, apa yang salah janganlah diulangi. Perbaiki dan manfaatkan sebagai titik balik menyongsong masa depan yang cerah.
Refleksi Diri:
- Apa kesalahan di masa lalu yang membuat Anda takut untuk menjalani hidup di masa sekarang?
- Apakah Anda sudah menerima anugerah Tuhan yang memampukan Anda melihat rencana Tuhan di balik kesalahan-kesalahan tersebut?
