Bagikan artikel ini :

Tidak Menahan Yang Paling Berharga

Yohanes 12:1-8

Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
- Yohanes 12:3

Maria membuat kehebohan pada sebuah perjamuan makan. Tidak ada yang pernah menyangka apa yang dilakukannya pada saat itu. Ia meminyaki Yesus dengan minyak yang sangat mahal. Seberapa mahal yang diberikan oleh Maria? Setengah kati minyak narwastu murni, isinya sekitar 330 mililiter, lebih besar sedikit dari botol air mineral kecil. Harganya mahal, senilai 300 dinar. Upah rata-rata per hari seorang pekerja pada zaman itu adalah satu dinar, berarti setara satu tahun kerja. Beberapa orang coba mengkonversikan jumlahnya berdasarkan pendapatan masa kini. Namun, saya condong mengkonversinya dengan pendapatan atau cuan Anda per bulan, lalu kalikan selama setahun. Mungkin di antara kita cuan-nya setahun 300 juta, 500 juta, 1 miliar, dst. besar, bukan? Relakah seseorang memberikan sebesar itu untuk Tuhan?

Pemberian sebesar itu tidaklah mudah dilakukan, entah orang itu berada ataupun bahkan orang yang pas-pasan. Orang yang berada sekalipun, memberi persembahan yang lebih kecil dari jumlah tersebut terkadang tidaklah mudah. Semuanya karena masalah hati. Ia merasa pemberian tersebut miliknya, yang berhak dinikmatinya, bukan diberikan begitu saja.

Sewaktu Maria memberikan minyak narwastu, ia mungkin menunggu momen yang tepat untuk menggunakannya dan momen itulah yang pas. Dari semua yang dimiliki Maria, minyak narwastu bisa jadi yang paling berharga untuknya. Namun, apa yang dilakukan Maria? Ia bukan memberikan 1-2 tetes, tetapi satu botol penuh diberikannya, sampai tetes terakhir. Maria tidak menahan yang terbaik yang dimilikinya. Ia memberikan semuanya sampai aroma harumnya memenuhi seluruh ruangan, sampai semua orang tahu.

Pemberian yang habis-habisan dari Maria adalah luapan kasihnya yang begitu besar kepada Tuhan Yesus. Buat Maria, Yesus begitu berharga, sampai-sampai ia tidak menahan yang paling berharga dari dirinya. Apakah kita memandang Yesus sebagai yang paling berharga dalam hidup sehingga kita tidak menahan yang paling berharga untuk-Nya? Apa yang paling berharga yang kita berikan kepada Tuhan? Atau sebenarnya, kita selama ini memberikan yang asal-asalan kepada-Nya? Tuhan tidak pernah kita berikan bagian terbaik yang kita miliki. Kita mungkin menahan waktu, talenta, uang, demi kenyamanan kita.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda sudah memberikan bagian yang terbaik dari diri Anda untuk Tuhan? Jika belum, mengapa?
  • Apa yang mau Anda lakukan untuk memberikan hidup yang terbaik bagi Tuhan?