Bagikan artikel ini :

Terbakar Tapi Tak Hangus

Keluaran 3:1-6

Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
- Keluaran 3:2

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa seperti sedang berada dalam api. Bukan api secara harfiah, tetapi api tekanan hidup yang membakar. Patah hati yang belum sembuh, beban tanggung jawab yang terus menumpuk, kegagalan-kegagalan yang kerap menghantui hidup, seperti konflik keluarga, kehilangan yang mendadak, pengkhianatan dari orang terdekat atau bahkan kekosongan jiwa. Itu semua “api-api” yang dapat membakar hangus semangat hidup kita.

Namun, di tengah nyala api yang membakar kehidupan tersebut, firman Tuhan dalam Keluaran 3 memberikan sebuah penglihatan yang luar biasa. Musa—saat itu sudah menjadi gembala di tanah Midian, bukan lagi pangeran Mesir—melihat sesuatu di luar logikanya, yakni semak menyala, tetapi tidak terbakar habis. Semak itu tetap utuh, meskipun api menyala-nyala di dalamnya. Bagaimana mungkin? pikirnya.

Kata Ibrani yang digunakan untuk “semak” adalah seneh, menunjuk pada semak duri biasa. Di dalam keheningan padang gurun, di luar dugaan ternyata Tuhan memilih menyatakan diri-Nya kepada Musa bukan lewat pohon aras yang megah, melainkan melalui semak yang sederhana, bahkan penuh duri.

Api yang menyala pun bukan api biasa, karena di ayat 2 dikatakan, “malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dalam nyala api yang keluar dari semak duri”. Ini bukan hanya peristiwa ajaib, ini adalah sebuah deklarasi teologis: Allah hadir dalam api! Di dalam nyala itu, seolah ada pesan mendalam yang sedang menyapa kita, “Engkau boleh terbakar, tapi engkau tidak akan hangus, karena Aku menyertaimu!”

Hari ini, seperti Musa, ketika kita merasa berada di dalam api-api tekanan hidup yang “membakar” hangus semangat hidup kita sedemikian rupa, jangan buru-buru menganggap bahwa itu tanda Allah sedang menjauh dari kita. Bisa jadi, inilah momen dimana Tuhan hendak menyatakan kuasa-Nya yang melampaui akal sehingga sekalipun kita “terbakar”, tapi tidak hangus karena Tuhan beserta dengan kita!


Refleksi Diri:

  • Apakah ada “api-api” kehidupan yang sedang Anda hadapi saat ini? Apa bentuknya? Bagaimana Anda bisa menyadari bahwa kehadiran Allah nyata di tengah nyala itu?
  • Dalam bagian hidup mana Anda perlu berhenti berdoa supaya “api itu padam” dan mulai berdoa supaya Anda “melihat Tuhan dalam api itu”?