Tak Kenal Maka Tak Sayang?
Amsal 25:17
Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu.
- Amsal 25:17
Ujaran “tak kenal maka tak sayang” sangatlah terkenal dalam budaya kita. Namun, apa yang terjadi jika kita terlalu sering bertemu seseorang sehingga akhirnya terlalu mengenal orang tersebut? Ya, lama-lama kita akan menjadi bosan bahkan benci kepadanya karena kini kita mengenal kejelekan orang tersebut. Itulah sebabnya ada pepatah bahasa Inggris yang merupakan kebalikan dari ujaran di atas, yakni “familiarity breeds contempt” (makin mengenal seseorang mendatangkan kebencian kepadanya).
Inilah yang dibicarakan oleh Raja Salomo. Ayat emas tidak hanya berbicara secara literal agar jangan kita terlalu sering mengunjungi rumah seseorang dan merepotkannya, tetapi juga secara umum tentang bagaimana kita berelasi dengan seseorang. Datang ke rumah orang menunjukkan sikap memperkenalkan diri sekaligus mengenal orang tersebut tidaklah salah. Dengan kata lain, tindakan ini bisa membangun sebuah kedekatan. Namun, Salomo memperingatkan kita untuk lebih berhati-hati dalam berelasi. Tidak semua orang perlu memiliki kedekatan yang sama dengan kita. Kita tentunya lebih dekat dengan pasangan kita daripada suami atau istri orang lain, bukan?
Seringkali, sebagai orang Kristen yang diperintahkan Tuhan Yesus untuk mengasihi sesama serta membaca surat-surat Rasul Paulus yang menekankan pentingnya persekutuan, mudah sekali untuk kita membuka diri dan tidak berhikmat dalam relasi kita. Kita menjadi orang yang tidak kenal batas dalam menunjukkan siapa diri kita dan terlalu otentik. Pada akhirnya kita kecewa sendiri ketika mendapati tidak semua orang dapat menerima kita, dan tidak semua orang suka dengan apa yang kita lakukan. Kita justru membuat mereka tersinggung, menghakimi, dan menolak kita. Akibatnya, kita sendiri yang menjadi sakit hati, bukan?
Jadi, bagaimana cara mengetahui harus seberapa dekat kita dengan seseorang dan seberapa dalam kita boleh membuka diri? Tentunya tidak ada pakem untuk hal ini, dan membutuhkan hikmat Tuhan untuk menimbang setiap relasi. Namun, beberapa pertimbangan yang dapat direnungkan. Pertama, apakah Anda memiliki kesamaan iman? Kedua, apakah Anda memiliki kesamaan visi dan falsafah hidup yang sama?Ketiga, apakah Anda memiliki kepribadian yang dapat menoleransi perbedaan satu sama lain?
Kiranya relasi kita tidak hanya diwarnai dengan kasih, tetapi juga diperlengkapi hikmat Tuhan.
Refleksi Diri:
- Coba urutkan orang-orang terdekat dalam kehidupan Anda sampai yang jauh. Sebatas apa Anda membuka diri kepada mereka? Apakah sudah sewajarnya sesuai tingkat kedekatan mereka?
- Pernahkan Anda terlalu membuka diri dan apa adanya dengan seseorang, tetapi kemudian respons orang tersebut malah menghakimi, menjauhi, dan tidak menerima Anda? Mengapa hal itu terjadi?
