Tak Ada Gading Yang Tak Retak
2 Tawarikh 18:1-3
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
- 1 Korintus 15:33
Tak ada gading yang tak retak adalah sebuah peribahasa yang sangat tepat menggambarkan Yosafat. Jika dibayangkan di zaman sekarang, Yosafat mungkin seperti seorang pebisnis yang menjalankan perusahaannya dengan jujur dan saleh, dan Tuhan memberkatinya dengan melimpah. Ia mungkin seorang aktivis atau bahkan pemimpin gereja yang sangat memedulikan pekerjaan Tuhan. Namun sayangnya, ia gagal dalam sebuah aspek kehidupannya: pergaulan.
Yosafat berbesan dengan seorang raja Israel yang terkenal jahat, yakni Ahab, ketika ia “kaya dan sangat terhormat…” (ay. 1). Biasanya inilah yang terjadi dengan seseorang yang sukses. Banyak orang yang mendekatinya, entah dengan maksud apa, dan koneksinya meluas. Tak lama, salah satu koneksi itu berubah menjadi ikatan keluarga, yakni sebagai besan. Mulai dari raja-raja dan bangsawan-bangsawan di zaman beribu-ribu tahun lalu sampai konglomerat pemilik puluhan perusahaan di zaman sekarang, baik dalam dunia nyata maupun kisah-kisah fiksi drama Korea, tradisi ini terus terjadi.
Pergaulan. Ini adalah masalah yang seringkali dikeluhkan oleh orangtua mengenai anak-anak mereka, tanpa bercermin pada diri sendiri apakah pergaulan mereka juga pergaulan yang baik. Seolah-olah, status orangtua membuat seseorang kebal terhadap pergaulan yang buruk. Kisah Raja Yosafat membuktikan bahwa hal ini salah. Bahkan orangtua yang menjadi panutan seluruh negeri pun bisa jatuh ke dalam kesalahan yang sama.
Seorang suami Kristen bergaul dengan rekanan bisnisnya, kawan-kawan main golf atau teman-teman reuni masa sekolah yang mengajarinya “Tidak apa-apalah ‘jajan’ sana-sini. Namanya juga pria!” “Memang perempuan itu harus ditempeleng dulu baru bisa nurut.” Seorang istri Kristen yang baik memiliki teman-teman tukang gosip yang obrolannya hanya tentang mengeluhkan dan membanding-bandingkan suami mereka. Sedikit demi sedikit, pengaruh buruk ini akan menghancurkan keluarga mereka.
Sebagai makhluk sosial, keinginan diterima oleh sebuah komunitas adalah hal yang wajar dan akan terus kita alami, mulai dari usia muda sampai tua. Karena itu, berhati-hatilah agar keinginan ini tidak membuat kita menjual ketaatan kepada Tuhan. Jika memungkinkan, tinggalkan saja pergaulan yang buruk tersebut dan carilah pergaulan yang lebih baik.
Refleksi Diri:
- Bagaimana pergaulan Anda selama ini, baik dengan rekan kerja, organisasi, kawan-kawan grup alumni, bahkan teman gereja? Apakah mereka memberikan pengaruh yang positif atau negatif kepada Anda?
- Jika mereka memberikan pengaruh negatif, dapatkah Anda meninggalkan pergaulan tersebut? Jika tidak bisa, apa yang dapat Anda lakukan untuk tidak terseret ke tingkah laku yang salah?
