Bagikan artikel ini :

Taat Pada Panggilan Tuhan

Matius 28:18-20

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
- Matius 28:19-20a

Saya pernah menyaksikan seseorang yang menerima telepon dan selalu berkata, “Ya, siap Pak! Siap, siap! Nanti saya kerjakan Pak.” Kita tahu ia sedang menerima telepon dari pimpinan atau bosnya. Setiap apa yang diminta oleh bosnya, ia siap melakukannya tanpa membantah dan protes untuk tugas yang diberikan. Bagaimana jika kita menerima telepon (panggilan) dari Tuhan? Bagaimanakah respons kita terhadap perintah dan amanat-Nya? Matius 28:18-20 adalah Amanat Agung yang Tuhan Yesus berikan kepada murid-murid-Nya sebelum meninggalkan dunia. Amanat Agung di-berikan bukan hanya kepada para murid-Nya dan orang-orang percaya pada masa itu, tetapi juga bagi semua orang percaya pada masa kini dan masa yang akan datang.

Pertanyaan selanjutnya, siapa yang Tuhan utus? Ke mana ia harus pergi? Bagaimana caranya? Pertanyaan-pertanyaan ini terkadang membawa pada kebuntuan dan rasa frustasi karena akhirnya Amanat Agung menjadi sebuah beban bagi setiap orang percaya, padahal kita seharusnya adalah alat yang Tuhan pakai untuk mewujudkan panggilan-Nya.

Tiga hal bisa kita cermati dalam renungan ini. Pertama, menjadi alat Tuhan bukan pilihan, tetapi panggilan. Pada ayat 18, Kristus menyatakan bahwa diri-Nya berkuasa atas apa pun, termasuk kita semua. Ketika Yesus memerintahkan kita pergi memberitakan Injil, itu adalah hak-Nya untuk memanggil dan memilih kita menjadi alat-Nya. Kita tidak bisa berkata tidak, tetapi harus taat terhadap panggilan-Nya. Kedua, pergi dan tinggalkan zona nyaman. Kita boleh belajar berbagai metode pekabaran Injil, tetapi jika tidak ada aksi dan praktiknya, semua hanyalah teori. Kristus sudah mendidik dan memberikan contoh bagaimana berbagi kasih karunia. Kita tidak cukup hanya belajar, tetapi haruslah pergi, menjadikan semua bangsa murid Kristus, membaptis dan mengajar mereka. Intinya, pekabaran Injil adalah sebuah aksi dan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Terakhir, kuasa Kristus akan menyertai. Kristus yang memiliki surga dan bumi, memiliki kekuasaan tanpa batas, Dia akan selalu menyertai hamba-hamba-Nya. Saat kita takut untuk memberitakan Injil, Yesus menyatakan, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (ay. 20b). Tidak ada yang sukar jika berjalan bersama Yesus.

Di dalam PMPI ke-50, saya mengajak kita semua untuk mengerjakan pelayanan misi selagi ada waktu dan kesempatan. Jangan tertidur dengan berbagai alasan. Bangkit dan pergilah, jangkau jiwa dan menangkan bagi kemuliaan Allah.


Refleksi Diri:

  • Apa panggilan Tuhan yang sudah dinyatakan kepada Anda dalam hal mengabarkan dan mengajarkan Injil?
  • Dari tiga poin mengenai panggilan Tuhan, apa poin yang Anda rasa kurang? Bagaimana Anda dapat memperbaikinya di masa mendatang?