Bagikan artikel ini :

Taat Atau Menggugat?

Matius 21:28-32

Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.
- Matius 21:30c

Mari kita renungkan pertanyaan ini: Apakah hidup kita penuh dengan gugatan atau ketaatan kepada Allah? Sejujurnya, hati kita lebih sering tidak puas jika melihat kenyataan hidup, bukan? Kita menjadi terlalu banyak menggugat kehendak Allah karena kehendak kita nyaris tidak pernah jadi kenyataan.

Pemungut cukai dan perempuan sundal adalah sosok-sosok pribadi yang hidup dalam carut-marut kelam kehidupan. Keduanya seolah punya 1.001 alasan untuk menggugat Allah sehingga mereka tenggelam dalam kegelapan dunia. Jika dibandingkan salehnya kehidupan beribadah dari mereka yang seolah selalu taat, sungguh bak langit dan bumi. Namun, menelaah perikop bacaan hari ini, Allah justru berkenan kepada mereka. Mengapa? Siapa yang mirip anak kedua yang berkenan kepada Allah?

Diceritakan, anak pertama yang menolak pergi ke kebun anggur, meskipun telah berucap, “Iya saya bersedia!” Ini adalah gambaran mulut bibir yang taat kepada bapanya, tetapi hatinya sesungguhnya menggugat. Ia jauh dari ketaatan yang sesungguhnya. Sebaliknya, anak kedua berkata, “Tidak!” Namun, ia menyesal dan akhirnya tetap pergi ke kebun anggur. Dari kedua perbandingan ini, justru anak kedualah yang menggambarkan hati yang sungguh taat, meski awalnya sempat menggugat.

Anak kedua identik sebagai orang berkenan di hadapan Allah. Ia sadar diri telah memberontak, telah menggugat, tetapi kemudian menyesal dan taat sepenuhnya kepada Allah. Kata “menyesal” (ay. 30c) jika dalam bahasa Yunani, memakai kata metamelomai, artinya to change mind (berubah pikiran), repent (bertobat), regret (menyesal). Uraian kata ini menjelaskan yang terjadi padanya.

Taat identik dengan menurut apa pun motivasinya, sementara menggugat identik dengan melawan karena motivasi tidak puas. Sekarang, bagaimanakah kita memandang kelayakan diri kita di hadapan Tuhan?

Sobat, Allah mengerti dan peduli kepada kita yang hidup penuh pemberontakan terhadap kenyataan hidup kita. Mungkin luka hidup yang dalam dan berkepanjangan, membuat kita seolah memiliki hak untuk menggugat-Nya. Kita terlalu sering berkata, “Tidak!” kepada-Nya. Namun, Allah juga melihat hati kita sedang menjerit minta tolong kepada-Nya. Allah sebetulnya mengindahkan kita apa adanya. Bersyukurlah Dia tidak pernah membuang kita yang akhirnya menuntun pada kesadaran diri dan pertobatan di hadapanNya. Mari kita bertobat, berbalik taat kepada-Nya.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda cenderung menggugat atau taat kepada Allah dengan apa yang Anda alami di dalam hidup?
  • Maukah Anda bertobat dan mulai saat ini belajar taat pada kehendak-Nya?