#Swedengate
3 Yohanes 1:5-8
Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran.
- 3 Yohanes 1:8
Pada Mei 2022 muncul trending topic #SWEDENGATE di Twitter. Bermula dari sebuah pertanyaan di salah satu platform media sosial berbunyi demikian: Apakah hal paling aneh yang pernah Anda lakukan di rumah orang lain dengan alasan tradisi/agama? Lalu seseorang merespons dengan menuliskan pengalamannya: Aku ingat berkunjung ke rumah teman Swediaku. Saat bermain di kamarnya, ibunya berteriak kalau makan malam sudah siap. Dan perhatikan, ia menyuruhku untuk MENUNGGU di kamarnya saat mereka makan! Lalu orang-orang mulai berbagi pengalaman serupa lainnya. Setidaknya alasan budaya seperti itu muncul, yaitu menghormati privasi keluarga masing-masing dan berjaga-jaga tidak memberikan makanan kepada anak orang lain tanpa sepengetahuan orangtuanya. Namun, tetap saja banyak netizen memandangnya sebagai hal yang tidak wajar. Budaya orang Swedia ini memang cukup aneh. Walaupun kita tidak hidup di Swedia dan memiliki budaya yang mungkin mirip, kita bisa memiliki jiwa yang serupa. Kita mungkin cenderung menutup diri terhadap orang lain, hanya memikirkan diri sendiri.
Salah satu contoh di Alkitab yang menghidupi keramahtamahan adalah Gayus. Rasul Yohanes memuji Gayus. Ia mengetahui keramahtamahan Gayus dari orang-orang yang telah diutus olehnya sebagai pemberita Injil. Saat kembali, mereka bersaksi tentang kasih Gayus di depan jemaat. Bayangkan, saat mereka pergi memberitakan Injil, mereka pasti mengalami kesulitan dan kesendirian. Namun, ketika Gayus menyambut mereka, situasi menjadi berbeda. Gayus tidak mengenal mereka. Karena itu, ia menyebutnya sebagai orangorang asing. Apa yang dilakukan Gayus sangat menolong dan membekas di hati orang-orang yang ditolongnya. Banyak hal yang harus disiapkan dan diberikan oleh Gayus. Ia mungkin menyiapkan kamar khusus untuk orang-orang tersebut, tetapi inilah keramahtamahan, terkadang memerlukan pengorbanan. Hidup kita akan selalu terasa sepi jika tidak dimiliki Kristus. Karena Kristus kita mengerti arti keramahtamahan Kristiani.
Patut disayangkan jika orang-orang yang sudah di dalam Kristus tidak lagi hidup dalam keramahtamahan. Ada banyak orang di sekitar kita yang mengalami kesepian, bahkan mungkin saja mereka ada di dalam gereja. Di tengah dunia seperti ini, keramahtamahan Kristiani harusnya bisa mengubahkan situasi, memberikan warna, kehangatan, persahabatan, dan rasa kekeluargaan. Janganlah hidup egois. Hiduplah dengan penuh keramahan agar memberkati orang lain.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda terbiasa menyapa satu sama lain ketika berada di gereja?
- Apa bentuk keramahtamahan yang bisa Anda lakukan di dalam gereja?
