Bagikan artikel ini :

Sok Religius

1 Raja-raja 15:3, 2 Tawarikh 13:1-12

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.
- Matius 23:27

 

Anda tentunya heran membaca bagian ini. Abia atau Abiam, raja sesudah Rehabeam, dicatat dalam 1 Raja-raja 15:3 sebagai raja yang jahat dan penuh dosa. Namun, 2 Tawarikh 13:1-12 mencatat bagaimana ia berbicara dengan penuh kata-kata rohani, seolah-olah ia memiliki iman yang besar sehingga berani menantang Yerobeam yang adalah pemberontak. Mengapa sepertinya kedua kitab ini berkontradiksi?

 

Tidak perlu heran membaca kedua bagian Alkitab ini. Coba lihat orang-orang yang suka menggunakan bahasa-bahasa religius untuk menunjukkan betapa salehnya mereka, tetapi sepanjang hidup mereka hidup dalam dosa. Lihat saja betapa banyaknya scammer (penipu) yang menelepon para korbannya yang beragama Kristen dengan sapaan “Shalom, pak!” “Haleluya!” untuk membuat mereka menjadi lengah dan mudah tertipu dengan bahasa-bahasa rohani tersebut. Lihat saja pengkhotbah-pengkhotbah besar yang begitu mudah mencela gereja ini dan itu, tetapi sebenarnya hidup dalam dosa seksual di balik mimbar. Lihat saja aktivis maupun majelis gereja yang selalu merasa dirinya lebih benar daripada orang lain, tetapi hatinya sebenarnya penuh dengan ego dan motivasi pelayanan yang keliru. Lihat saja perusahaan-perusahaan Kristen yang mengadakan persekutuan doa tiap minggu, tetapi memperlakukan buruh mereka dengan tidak manusiawi.

 

Seperti demikianlah Abia. Ia berkoar-koar dengan segala kata-kata religiusnya menghakimi Yerobeam. Yerobeam memang bukan orang benar dan sepantasnya menerima penghakiman Tuhan. Namun, Abia sendiri tidak lebih baik daripadanya. Abia hanya lebih pintar memuntahkan bahasa-bahasa religius saja. Ia menyebutkan kesalahan-kesalahan Israel Utara dan memamerkan betapa salehnya dirinya serta kerajaan yang dipimpinnya, meski Tuhan sendiri menilainya sebagai raja yang hidup dalam dosa.

 

Kemunafikan dan religiusitas semu, inilah hal yang paling dibenci Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Yesus demikian keras mengecam orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang hanya bisa ngomong saja, tetapi hidupnya tidak lebih baik. Sebagai orang Kristen, khususnya yang sudah lama bergereja, mudah sekali untuk menjadi orang munafik dan memandang rendah orang lain. Kiranya kita selalu mengawasi diri kita terlebih dahulu sebelum menghakimi orang lain dengan kata-kata sok religius.


Refleksi Diri:

  • Di dalam skala 0-10, seberapa salehkah Anda menilai kerohanian diri Anda sendiri? Mengapa Anda memberikan penilaian yang setinggi atau serendah itu?
  • Di dalam skala 0-10, seberapa salehkah Anda menilai rata-rata kerohanian orang-orang di sekeliling Anda? Apakah nilainya lebih tinggi atau lebih rendah dari Anda? Mengapa Anda berpikir demikian?