Bagikan artikel ini :

Si Anak Mami

2 Tawarikh 22:1-6

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
- Kejadian 2:24

 

Ahazia, yang nama lainnya adalah Yoahas, menjadi raja menggantikan Yoram. Segala kejahatannya diatribusikan pada satu penyebab, “karena ibunya menasihatinya untuk melakukan yang jahat” (ay. 3). Tak hanya ibunya, bahkan keluarga dari pihak ibunya pun “menjadi penasihat-penasihatnya yang mencelakakannya (ay. 4). Ingat bahwa Atalya, ibunya, adalah putri kandung Ahab. Ahazia tak ubahnya menjadi boneka yang dikendalikan oleh dinasti Ahab, salah satu raja terjahat di Israel Utara.

 

Kita mudah mencibir dan menertawakan Ahazia sebagai “anak mami”. Namun, mungkinkah kita sendiri adalah anak mami yang mengizinkan pengaruh dari orangtua bahkan kerabat memengaruhi kita? Baiklah, kita bukanlah seorang pemimpin negara seperti Ahazia yang pemerintahannya dikendalikan keluarga. Bagi kita yang adalah pemimpin gereja, mungkin keluarga kita juga tidak banyak memengaruhi kita. Akan tetapi, bagaimana dengan unit pemerintahan terkecil yang kita pimpin, yakni rumah tangga kita?

 

Entah berapa banyak saya mendengar cerita dari jemaat yang mengeluhkan bagaimana hubungan dengan pasangannya dipenuhi dengan drama karena pasangannya terlalu dipengaruhi sang mertua. Seorang ibu “menasihati” anak laki-lakinya, “Ihhh, istrimu itu buang-buang uangmu! Buat apa anak dibelikan baju baru?” Bukannya menggeneralisasi, tetapi pada umumnya yang terjadi adalah ibu atau kakak perempuan dari sang suami yang akan selalu mengeluh tentang sang istri. Celakanya, bukannya bersikap bijaksana, si suami malah menyampaikan keluhan tersebut kepada istrinya, bahkan “mengeroyok” si istri bersama-sama dengan ibu dan saudara-saudara perempuannya dengan cara membela mereka. Nasib sang istri makin nahas jika keluarga besar ini tinggal serumah. Sesungguhnya, wanita malang ini bukan menikahi pria dewasa, melainkan seorang bocah anak mami yang bertubuh besar!

 

Itulah sebabnya prinsip bahwa suami harus meninggalkan orangtua dicatat sejak awal. Bagaimanapun, suami adalah kepala keluarga yang seharusnya dapat memimpin keluarganya dengan hikmat, bukannya disetir oleh keluarganya. Tentu saja, prinsip ini juga berlaku kepada para istri. Namun, Kejadian 2:24 menekankan suami karena para suami-lah yang lebih sering jatuh ke dalam perilaku ini, apalagi mengingat posisinya sebagai kepala keluarga.

 

Biarlah kita semua yang merasa dewasa, khususnya yang telah menikah, sudah lulus dari status “anak mami”.


Refleksi Diri:

  • Seberapa besar pengaruh orangtua atau saudara-saudara Anda terhadap keluarga inti Anda (pasangan, anak, dst.)? Apakah pengaruh ini bersifat positif atau negatif?
  • Apakah Anda atau pasangan Anda cenderung membiarkan keluarga besar mencampuri urusan rumah tangga Anda? Mengapa demikian?