Bagikan artikel ini :

Semangat Kiasu Orang Kristen

Amsal 10:2-6

Tangan (kaf) yang lamban (remiyyāh) membuat (ōseh) miskin (rash), tetapi tangan (we·yad) orang rajin (ḥārūtsīm) menjadikan kaya (ăshîr).
- Amsal 10:4

Kosa kata yang sering muncul dalam keseharian di kota Singapura adalah kiasu. Kata ini bisa berkonotasi positif maupun negatif. Kata kiasu berasal dari dialek Hokkian 驚輸 (dibaca: keng-su) yang secara harfiah berarti takut kalah. Kata kiasu populer di budaya Asia, terutama di Singapura dan Malaysia.

Secara umum, kiasu menggambarkan pola hidup yang mau bekerja keras. Seseorang yang kiasu takut menjadi rugi dan tidak mau tertinggal sehingga ia terdorong kuat mencapai keberhasilan maksimal. Namun, kiasu kerap dipakai untuk menjelaskan pola hidup yang mementingkan diri, bahkan jika perlu akan mengorbankan orang lain. Akibatnya, muncul persaingan tidak sehat dan kepalsuan dalam hubungan sosial. Dengan demikian, konotasi positif atau negatif kiasu tergantung dari konteks kalimat yang digunakan.

Bagaimanakah sudut pandang firman Tuhan dalam hal serupa? Jika kita perhatikan, ayat emas di atas mempunyai beberapa kata kunci. Di bagian pertama kalimat, kata kuncinya adalah rash artinya menjadi miskin;ʿōseh artinya membuat atau menyebabkan; kaf artinya telapak tangan; dan remiyyāh artinya malas, lalai atau curang.

Sementara di bagian kedua kalimat, memiliki kata kunci we·yad artinya tetapi tangan; ḥārūtsīm artinya orang rajin atau tekun; dan taʿăshîr artinya menjadikan kaya. Jadi, terjemahan literal keseluruhan ayat emas adalah tangan malas membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikannya kaya.

Uraian makna kata dalam ayat emas, menjelaskan tentang upaya yang tidak setengah-setengah dalam melakukan segala sesuatu. Karena itu, dibutuhkan kerja keras agar tidak tertinggal. Mental yang gigih dan fokus pada tujuan adalah faktor-faktor lain yang juga menentukan keberhasilan seseorang.

Sobat terkasih, semangat kiasu haruslah terlebih dahulu diluruskan dengan nilai-nilai Kristiani sehingga ada sisi positif yang diarahkan pada kebenaran Ilahi. Selain semangat, perlu diutamakan iman yang percaya penuh akan pemeliharaan Tuhan. Jika iman kita kuat akan membuahkan hidup yang penuh tanggung jawab dan bijak dalam pengelolaan berkat Tuhan. Kesetiaan menekuni panggilan Tuhan, menghasilkan kebaikan hati berdasar kasih yang murni. Jadi, semangat kiasu bisa berupa ketekunan yang dimurnikan oleh kasih dalam ketaatan, bukan oleh ketakutan kalah dalam hidup.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana semangat kerja Anda dalam bidang yang Tuhan percayakan kepada Anda? Apakah sudah ada kiasu yang positif yang selaras kebenaran Ilahi?
  • Apakah Anda sudah mengutamakan iman percaya akan pemeliharaan Tuhan dalam hidup selain semangat kiasu?