Semakin Sibuk, Semakin Berdoa
Markus 1:35-39
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
- Markus 1:35
Saya seringkali bertanya kepada jemaat atau aktivis yang rajin melayani, tentang saat teduh mereka. Jawabannya beragam, tetapi yang menjawab jarang-jarang saat teduh, alasannya sama, yakni sibuk. Pagi-pagi harus buru-buru pergi kantor untuk bekerja, mengantar anak, dan sebagainya. Malam hari pulang sudah kelelahan, tidak ada tenaga lagi. Kesimpulannya, semakin sibuk, semakin tidak saat teduh.
Jika kita memperhatikan apa yang dilakukan Yesus (Mrk. 1:16-34), Dia sangat padat jadwal pelayanan-Nya. Apalagi ketika orang banyak berkerumun, antrean untuk disembuhkan semalam-malaman (Mrk. 1:32-34). Yesus seharusnya bisa memilih beristirahat lebih panjang dan bangun lebih siang. Namun, firman Tuhan mencatat pagi-pagi benar Dia bangun, mencari tempat yang sunyi dan berdoa. Bukan dicatat “Ia terbangun”, melainkan “Ia bangun”, artinya Yesus sengaja bangun untuk berdoa. Semakin sibuk, semakin Yesus berdoa. Relasi dengan Bapa adalah yang terpenting buat Yesus dibandingkan pelayanan-Nya. Saya sering menasihati para pelayan, “Kesehatan rohani seorang pelayan lebih penting daripada pelayanan itu sendiri.”
Murid-murid panik mencari Yesus sebab sudah banyak pasien yang antre lagi untuk mendapat pelayanan dari-Nya. Jika Yesus hanya ingin menyenangkan orang banyak dan mencari popularitas, tentu Dia akan buru-buru pergi ke sana. Akan tetapi, Yesus justru menjawab, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (ay. 38). Yesus tahu arah hidup dan pelayanan yang harus Dia tuju. Yesus pergi ke tempat yang lain untuk melayani orang yang lain lagi. Sampai di saat paling berat, yaitu di taman Getsemani, Yesus tetap berdoa dan taat. Karena ketaatan-Nya, kita sekarang mempunyai hubungan dengan Bapa yang tidak pernah terputus.
Waktu yang kita miliki sama semuanya setiap hari. Jadikan waktu teduh kita bersama dengan Tuhan waktu yang spesial. Waktu yang kita rancang dengan sengaja, bukan waktu sisa dan seadanya. Perjalanan melalui waktu teduh bersama Tuhan hari demi hari akan mem- buat kita semakin memahami kehendak-Nya dan mengenal hati-Nya. Sesibuk apa pun, jangan tinggalkan saat teduh kita.
Refleksi Diri:
- Apa yang seringkali menghalangi Anda bersaat teduh?
- Bagaimana Anda akan merancang mulai hari ini, setiap harinya, jam berapa dan di manaAnda akan bersaat teduh?
