Segala Sesuatu Adalah Kepunyaan Allah
1 Tawarikh 29:10-19
Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.
- 1 Tawarikh 29:14b
Bagaimanakah kita melihat apa yang kita miliki dalam hidup? Kerap kali kita melihatnya sebagai tolok ukur keberhasilan, kebahagiaan, dan kebanggaan, bukan? Entah fisik dan wajah yang rupawan atau rupawati, harta tujuh turunan, kepandaian bak ilmuwan, suara emas yang membuat pendengar jadi gemas. Apa tujuan Allah memberikan semua itu dalam hidup kita?
Ingat, hidup manusia seperti bunga rumput, pagi berkembang sore menjadi lisut dan layu. Namun Allah dalam kekekalan-Nya, tidaklah mungkin menitipkan hal-hal tersebut hanya untuk kesenangan sesaat dalam hidup, entah untuk pemenuhan aktualisasi diri, unjuk gigi yang penuh puja-puji atau kesenangan pergi ke sana-sini. Tentu ada rencana Allah yang lebih jauh dan lebih besar dari apa yang manusia bisa pikirkan.
Uraian ayat di atas dalam bahasa Ibrani adalah ki mimkha hakol u-miyadekha netannu lakh. Arti mendasar dari kalimat tersebut adalah dari-Mu-lah segala sesuatu atau bisa kita artikan segala milik manusia berasal dari Allah. Latar belakang ayat ini dituliskan ketika Daud mengajak umat pilihan Allah bersyukur atas rencana-Nya dan memberi persembahan yang terbaik kepada Allah. Berulang kali Daud menyebutkan dalam perikop bacaan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Ia menyadari bahwa apa yang mereka persembahkan pada dasarnya berasal dari Tuhan. Segala sesuatu yang mereka punya pada dasarnya merupakan berkat dan anugerah Tuhan dalam kehidupan mereka.
Sobat terkasih, mari kita hidup jangan selalu unjuk gigi dari apa yang kita punyai, tidak ada satu pun dasar firman Tuhan yang mendukung kita merendahkan orang lain dengan membandingkan kepemilikan yang melekat pada diri kita. Ingat yang diberi banyak dituntut banyak, yang diberi sedikit dituntut sedikit, semua sesuai kapasitas dan kesempatan yang kita miliki. Kalau Tuhan memberikan kesempatan kepada Anda untuk memberi lebih banyak, bukan berarti kita lebih berhak mengatur kehidupan orang lain atau bahkan umat atau gereja-Nya, sebab hanya Tuhan-lah yang patut ditinggikan bukan diri kita.
Refleksi Diri:
- Bagaimana Anda selama ini memandang kepemilikan Anda di dunia, entah kekayaan, kepandaian, kemampuan ataupun kepemilikan yang lainnya?
- Apa tujuan Allah memercayakan kepemilikan tersebut kepada Anda? Apakah ada rencana besar Tuhan di baliknya?
