Bagikan artikel ini :

Saya, Saya, Dan Saya!

Filipi 2:1-11

Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
- Filipi 2:4

Anda mungkin pernah mendengar seseorang berkomentar, “Coba lihat, dia begitu egois, sangat selfish, hanya mementingkan diri sendiri!” Memang sifat dasar manusia adalah ingin memenuhi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Ini merupakan sifat alamiah dan melekat sebagai natur manusia yang mencintai diri sendiri.

Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa pasti memiliki kecenderungan untuk memprioritaskan diri menjadi yang utama. Kita sering sekali menemukan masalah mementingkan diri, baik dalam relasi pernikahan dan keluarga, pekerjaan, organisasi ataupun sosial yang lebih luas, padahal prinsip firman Tuhan yang diajarkan dalam kehidupan sebagai seorang Kristen tidaklah demikian.

Filipi 2 secara keseluruhan berbicara mengenai Kristus sebagai teladan kerendahan hati. Namun, pada bagian ini terlihat jelas bahwa jemaat Filipi menghadapi beberapa masalah kehidupan berjemaat, seperti sesama orang percaya saling tidak akur dan terjadi perpecahan antar anggota jemaat. Terdapat banyak ambisi pribadi dan mengutamakan kepentingan sendiri. Segala sesuatu berpusat pada pemenuhan keinginan diri sendiri.

Rasul Paulus jelas hendak menyampaikan pesan bahwa di dalam Kristus kita seharusnya tidak mencari kepentingan sendiri, melainkan menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Paulus memperhatikan dan menganggap hal ini serius sehingga menasihati jemaat Filipi untuk bersatu dan bersikap rendah hati sama seperti Kristus. Ia memberikan jawaban spiritual yang menolong kita melihat kehidupan orang lain dan bukan hanya kepentingan diri sendiri. Inilah salah satu kualitas yang seharusnya dimiliki oleh seorang Kristen. Pengambaran Paulus, langsung merujuk kepada Yesus Kristus yang mau mengosongkan diri-Nya dan tidak menganggap kesetaraan dengan Allah adalah milik yang harus dipertahankan (ay. 6-7). Analogi ini sungguh sangat indah, Yesus benar-benar tidak mementingkan kepentingan diri-Nya, tetapi berbelas kasih kepada manusia. Cinta kasih Tuhan Yesus merupakan contoh agung dan sepatutnyalah orang percaya mengikuti teladan-Nya.

Mari utamakan kepentingan orang lain dibanding kepentingan diri sendiri. Terapkan kerendahan hati. Contohnya, dalam relasi suami-istri terkadang salah satu pasangan perlu mengalah, mendahulukan kepentingan pasangan yang lain. Ada pengorbanan yang perlu dilakukan untuk kebahagian pasangan kita atau orang yang kita kasihi. Jangan mengutamakan saya, saya, dan saya, melainkan dahulukan kepentingan dia, kamu, dan kita semua.


Refleksi Diri:

  • Apakah selama ini Anda terus-menerus hanya memikirkan dan memprioritaskan kepentingan diri sendiri?
  • Bagaimana Anda melatih kerendahan hati dalam melihat kebutuhan orang lain dan tidak hanya mementingkan kepentingan diri sendiri?