Bagikan artikel ini :

Saudara Dalam Kesusahan

Obaja 1:8-16

Karena kekerasan terhadap saudaramu Yakub, maka cela akan meliputi engkau, dan engkau akan dilenyapkan untuk selama-lamanya.
- Obaja 1:10

Konflik sudah menjadi bagian kehidupan kita. Kita bisa berkonflik dengan saudara, teman, bahkan orangtua. Konflik terkadang bisa berkepanjangan, bahkan menimbulkan luka mendalam. Tidak jarang luka mendalam ini bisa menimbulkan kebencian yang jika tidak segera diselesaikan dapat merusak relasi persaudaraan. Kita mungkin familiar dengan cerita tentang dua saudara kandung yang sudah puluhan tahun tidak mau bertemu, bahkan berbicara satu sama lain. Mereka berdua mengalami luka yang membekas di dalam hati masing-masing pribadi terhadap saudaranya sendiri.

Kitab Obaja berisikan teguran dan nubuatan kejatuhan kerajaan Edom. Edom adalah keturunan Esau, kakak Yakub. Karena itu, Edom masih memiliki ikatan saudara dengan Yehuda. Akan tetapi, saat Yerusalem jatuh ke tangan Babilonia (Babel), Edom justru berdiam dan membiarkan Yerusalem hancur (ay. 11). Lebih parahnya lagi, Edom malah ikut-ikutan menjarah Yerusalem dan menangkapi rakyat yang melarikan diri (ay. 13-14). Allah lalu memberikan teguran dan nubuat atas kehancuran Edom melalui Obaja. Hukuman atas Edom adalah kehancuran, “Seperti yang engkau lakukan, demikianlah akan dilakukan kepadamu, perbuatanmu akan kembali menimpa kepalamu sendiri” (ay. 15b). Nubuatan ini terpenuhi pada abad ke-6 SM, saat Edom juga dihancurkan oleh Babilonia.

Alkitab mencatat Edom dan Yehuda sering berseteru dan berperang satu sama lain. Tidak aneh jika timbul kebencian di antara kedua bangsa ini sehingga di hari kehancuran Yerusalem, Edom memilih berdiam diri bahkan bersukacita atas keruntuhan saudaranya. Namun, Allah menganggap serius perbuatan Edom dan memperhitungkannya sebagai dosa. Edom seharusnya berperan sebagai saudara bagi Yehuda dalam kesusahan. Ia sepatutnya membantu dan menolong saudaranya. Sayangnya, Edom justru melakukan yang sebaliknya. Allah melalui firman-Nya menghendaki kita saling mengasihi. Kita, anak-anak Tuhan, dipanggil mengasihi mereka yang membenci, menyakiti, bahkan menindas kita.

Refleksikan kesalahan Edom, yang karena keangkuhan hatinya memilih menyimpan amarah dan dendam kepada saudaranya. Edom kehilangan kasih yang membuatnya berdiam diri bahkan bersuka saat saudaranya kesusahan. Jika kita benci dan marah karena perselisihan yang pernah terjadi dengan saudara kita, mari selesaikan di hadapan Tuhan. Janganlah luka dan akar pahit merasuk hati dan mematikan kasih kita kepada saudara kita sendiri.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda masih menyimpan kemarahan, kebencian, atau luka kepada saudara dan sesama?
  • Apakah Anda sudah menyelesaikannya di hadapan Tuhan dan mengampuni mereka yang pernah berseteru dengan Anda?