Satu-Satunya Aliansi Yang Kita Butuhkan
2 Tawarikh 20:20-34
Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”
- Yeremia 17:5
Kita telah membaca di renungan-renungan sebelumnya tentang kejatuhan Yosafat karena beraliansi dengan Ahab, raja Israel yang jahat. Tidak hanya tindakannya membuat rakyat Yehuda Selatan terpengaruh oleh penyembahan berhala, Yosafat sendiri hampir gugur dalam medan perang karena Ahab memperalatnya. Jadi, kepada siapa Yosafat harus beraliansi? Haruskah ia seorang diri berperang, khususnya ketika menghadapi musuh besar dari Amon dan Moab?
Satu-satunya aliansi yang Yosafat perlukan adalah aliansi dengan Tuhan. Kita melihat bagaimana di bagian ini Yosafat menang tanpa bertempur. Apa yang terjadi? Tuhan menggerakkan bangsa Amon dan Moab menentang bangsa Edom yang diam di Seir yang juga adalah salah satu musuh Yehuda Selatan—dan terjadilah pertempuran di sana (ay. 22-23). Sesudah itu, bangsa Moab dan Amon saling bunuh satu sama lain, mungkin ketika membagi jarahan yang mereka peroleh dari kemenangan atas Edom. Bayangkan betapa terkejut sekaligus bersukacitanya orang-orang Yehuda ketika mereka sampai di medan perang dan menemukan bahwa musuh-musuhnya sudah dikalahkan (ay. 24). Mereka hanya tinggal mengambil jarahan yang begitu besar, sampai-sampai membutuhkan waktu tiga hari (ay. 25). Pada akhirnya, berita yang luar biasa ini membuat bangsa-bangsa lain gempar dan mereka tidak lagi berani menyerang Yehuda Selatan (ay. 29-30).
Itulah yang akan terjadi ketika kita mengandalkan Tuhan dan bukan yang lain. Ada saja cara Tuhan meluputkan kita dari kesulitan, biasanya melampaui akal pikiran kita. Tentu, ini bukan berarti kita tidak boleh pergi ke dokter ketika mengalami masalah penyakit, tidak boleh pergi ke pengacara ketika mengalami masalah hukum, tidak boleh meminta nasihat atau melakukan kongsi dagang dalam bisnis, dan sebagainya. Poinnya adalah hal-hal ini hanyalah bantuan sekunder. Kalau Tuhan tidak berkehendak maka hal-hal tersebut tidak akan menolong kita, bahkan membuat masalah semakin runyam. Sebaliknya, jika Tuhan berkehendak, maka kita harus ingat bahwa keberhasilan tersebut terutama dari Tuhan. Meski kita tetap harus berterima kasih dan mengupahi orang-orang tersebut sesuai bantuan mereka, mereka tetap hanyalah alat Tuhan.
Satu-satunya aliansi yang kita butuhkan adalah Tuhan. Dia-lah yang akan mengarahkan kita mengambil langkah yang tepat.
Refleksi Diri:
- Siapa orang atau hal yang pertama kali Anda hampiri ketika menghadapi masalah? Apakah mereka selalu berhasil meluputkan Anda dari masalah tersebut?
- Apa tindakan konkret yang dapat Anda lakukan untuk mengekspresikan kebergantungan Anda kepada Tuhan sebagai yang terutama?
