Bagikan artikel ini :

Satu Kapal Dua Nahkoda

Efesus 5:21-33

Dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, ... Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
- Efesus 5:21-22, 25

Membangun keluarga ideal adalah perkara yang mudah untuk diajarkan dan dikhotbahkan, tetapi sulit dipraktikkan. Para peneliti pernikahan yang sudah menulis buku-buku dan memberi banyak seminar pernikahan, bahkan mengakui bahwa membangun pernikahan yang ideal bukanlah perkara mudah. Diperlukan kerendahan hati masing-masing individu yang terlibat dalam pernikahan untuk sama-sama belajar mengenai pernikahan berdasarkan prinsip-prinsip firman Tuhan.

Satu perahu dua nahkoda adalah istilah yang tepat menggambarkan rumah tangga. Jika perahu menggambarkan keluarga maka nahkoda menggambarkan pemimpinnya. Siapa yang menjadi pemimpin di dalam rumah tangga Kristen? Pemimpin utama rumah tangga adalah suami, ia bagaikan kepala nahkoda perahu. Sementara istri adalah pemimpin pendamping atau co-nahkoda dari perahu tersebut. Keduanya harus bekerja sama dalam memimpin rumah tangga mereka. 

Suami sebagai pemimpin kapal bukan berarti semua keinginannya harus dituruti dan ditaati. Justru pemimpin dalam rumah tangga harus siap mengasihi istrinya sebagai pendamping dan sebaliknya pendamping harus mau menghormati pemimpinnya. Seorang istri hendaklah rela menundukkan diri sama seperti ia tunduk kepada Kristus sebagai kepala. Di sisi lain, suami sebagai pemimpin memiliki tanggung jawab untuk memimpin seluruh keluarga dan menyerahkan dirinya dengan segala upaya untuk menghidupi keluarganya. 

Ayat 21 mengandung prinsip utama pernikahan Kristen, yaitu “rendahkan dirimu seorang kepada yang lain”. Pasangan suami istri hendaklah bukan saling menuntut hak, tetapi saling merendahkan diri sesuai perannya masing-masing: suami memimpin dengan kasih seperti Kristus mengasihi jemaat dan istri yang dipimpin merendahkan diri sebagaimana gereja taat kepada Kristus. Yang terpenting dari pernikahan Kristen adalah membangun rumah tangga dalam takut akan Tuhan. Amsal 1:7 berkata takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Apa yang disampaikan dalam perikop bacaan hari ini adalah hikmat Ilahi bagi suami dan istri untuk berperan sesuai fungsinya di dalam keluarga.

Hai para suami dan istri, hendaklah kita memahami peran masing-masing di dalam keluarga. Sebagai pasangan suami-istri kiranya kita bisa bekerja sama dalam memimpin keluarga sebagai seorang nahkoda dan co-nahoda yang baik, yang bekerja sama memimpin perahu keluarga menuju tujuan akhir kehidupan berkeluarga yang sesuai kehendak firman Tuhan.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda sebagai suami atau istri, sudah menjalankan peran Anda dalam keluarga seturut hikmat Allah? 
  • Apa yang menjadi penghalang Anda untuk menjalankannya? Bagaimana hikmat Ilahi di dalam perikop bacaan membantu Anda memperbaikinya?