Bagikan artikel ini :

Sarkasme

2 Tawarikh 18:12-22

Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.
- Amsal 26:5

 

Sesudah mendengar kata-kata indah dari para nabi palsu, Ahab atas permintaan Yosafat pergi kepada Mikha, nabi yang sejati. Anehnya, Mikha malah menjawab sama seperti nabi-nabi palsu Ahab (ay. 14). Baru sesudah Ahab menanyainya lagi, Mikha memberikan detailnya. Rupanya Tuhan memang telah menetapkan kekalahan Ahab. Untuk mencapai tujuan tersebut, Tuhan memakai nabi-nabi palsu yang akan memberikan Ahab jawaban yang ia senangi.

 

Tentu gambaran yang dipakai Mikha, mengenai bagaimana Tuhan mengadakan “rapat” (ay. 18-22), hanyalah sebuah metafora dan jangan dimaknai secara literal. Poin dari kisah ini adalah bagaimana Mikha menyampaikan pesan Tuhan, bukan dengan gamblang mengatakan, “Kalau kamu pergi, kamu akan kalah!” Ia menjawab sarkastik di ayat 14 dan 16, kemudian memberikan metafora ini untuk mengejek dan menantang Ahab.

 

Pertanyaannya, mengapa Mikha menjawab seperti ini? Karena ia sedang berbicara dengan orang yang sangat bebal. Jika mengatakan kebenaran secara gamblang, tentu Ahab akan mengabaikan atau malah menertawakannya. Jadi, yang ia lakukan adalah menjawab “orang bebal menurut kebodohannya,” seperti yang dituliskan Salomo dalam Amsal 26:5. Ia menggunakan bahasa sarkastik yang akan menempelak Ahab.

 

Hal yang sama juga acap kali dilakukan Tuhan Yesus dalam menjawab orang-orang Farisi yang bebal dan merasa benar sendiri. Yesus tidak secara sengaja ingin menyakiti hati orang-orang Farisi, melainkan menantang pandangan mereka untuk menunjukkan kesalahan mereka, persis seperti yang dilakukan Mikha.

 

Saya percaya bahwa tidak ada di antara kita yang secara sengaja ingin menyakiti hati orang dan menantang seseorang dengan perkataan sarkastik. Tapi mau bagaimana lagi? Dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini dipenuhi dengan orang-orang bebal dan selalu merasa dirinya benar. Kata-kata berhikmat sudah tidak bisa menegurnya. Jangankan kepada orang dewasa, kadang kita menjawab anak kita juga dengan sarkastik. Satu kali ia melakukan kesalahan, kita akan menegurnya, “Jangan lakukan itu ya, nak.” Sepuluh kali ia melakukan kesalahan, kita hanya bisa mendengus dan berkata, “Teruskan saja…” sambil berkacak pinggang. Ada kalanya kita menyatakan kebenaran dengan lembut, ada waktunya menjawab orang bebal menurut kebodohannya. Kadang-kadang, mereka lebih mengerti bahasa sarkastik daripada bahasa lembut.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda pernah mencoba menegur seseorang yang bebal (misalnya anak Anda, seorang junior di tempat kerja, rekan sepelayanan, dsb.)? Bagaimana ia meresponinya?
  • Setelah membaca kisah Mikha, menurut Anda bagaimana cara yang tepat menegur orang bebal?