Bagikan artikel ini :

Sama Bobroknya

2 Tawarikh 22:7-9

Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.
- Yakobus 4:4

 

Ketiga ayat yang kita baca di perikop hari ini sepertinya hanyalah sebuah catatan sejarah yang tidak penting tentang akhir hidup seorang raja. Apakah benar demikian? Penulis kitab Tawarikh memberikan sebuah keterangan yang sangat menarik di awal perikop, yakni Tuhan sendiri yang menghendaki kematian Ahazia.

 

Yehu adalah orang yang diurapi Tuhan untuk menjatuhkan penghakiman-Nya atas keluarga Ahab (1Raj. 19:15-17), sekaligus menjadi raja Israel Utara (2Raj. 9:1-15). Itulah sebabnya ia membunuh Yoram bin Ahab yang saat itu memerintah sebagai raja Israel Utara. Akan tetapi, apa salah Ahazia sampai-sampai ikut dibunuh oleh Yehu? Ini kan masalah internal kerajaan Israel Utara, kenapa Ahazia sampai dilibatkan? Mengapa Tuhan menghendaki Yehu juga membunuhnya?

 

Ini adalah sebuah gambaran betapa jahatnya Ahazia, sampai-sampai tidak bisa dibedakan lagi dengan keluarga Ahab. Ia akhirnya bernasib sama dengan Yoram, anak Ahab, yakni mati di tangan pedang Yehu. Tuhan seolah hendak mengatakan melalui peristiwa ini, “Kerajaan Yehuda Selatan sudah sama bobroknya dengan Israel Utara!”

 

Sungguh celaka jika hal ini juga terjadi di dalam gereja, di antara orang-orang percaya. Orang-orang Kristen yang begitu terpikat dengan hal-hal duniawi sehingga ikut-ikutan, sampai-sampai tidak lagi ada bedanya dengan dunia. Katanya “garam dan terang dunia”, tetapi mereka malah membiarkan diri dipengaruhi oleh dunia.

 

Di dalam aspek yang lebih luas, coba perhatikan bagaimana gereja Tuhan dikelola. Apakah pengelolaannya seperti franchise restoran-restoran fastfood? Ataukah gereja mencari ketenaran dan nama seperti layaknya artis-artis Instagram? Bagaimana dengan tata ibadahnya, apakah sebatas mengandalkan gimmick dan kehebohan? Bagaimana pengelolaan dananya, apakah dijalankan dengan sistem untung-rugi? Bagaimana dengan pengajaran doktrinnya? Apakah mereka yang mengikuti seminar-seminar doktrin yang diadakan di gereja-gereja tertentu merasa seolah-olah mereka lulusan Harvard, yang paling bergengsi dibandingkan lulusan-lulusan lain? Jika demikian halnya, apa bedanya kita dengan dunia?

 

Tentu, kita juga tidak boleh kelewatan sampai-sampai menjadi orang aneh yang ketinggalan zaman. Namun, jangan sampai kita begitu mirip dengan dunia, sampai-sampai kita gagal dipakai menjadi garam dan terang.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana Anda menilai diri Anda secara individu, maupun sebagai bagian komunitas gereja? Seberapa mirip Anda atau gereja Anda dengan dunia?
  • Apa yang akan terjadi dengan orang Kristen atau gereja yang terlalu serupa dengan dunia dan gagal menjadi garam serta terang dunia, jika bercermin pada kisah Ahazia?