Salah Menempatkan Sukacita
Lukas 10:17-20
Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.
- Lukas 10:20
Kita biasanya bersukacita untuk ibadah yang berlangsung hebat, kehadiran umat yang banyak, jemaat yang memuji pelayanan kita, dan sebagainya. Murid-murid Yesus yang baru pulang dari pelayanan juga mengalami sukacita seperti ini. Betapa bersukacitanya mereka karena iblis-iblis takluk kepada mereka. Para murid mungkin belum pernah mengalami kejadian seperti itu. Yang menarik, Tuhan Yesus justru berkata di ayat emas, “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” Kadang sukacita kita yang terbesar bukan ditempatkan pada kasih dan anugerah Tuhan. Ketika sukacita ditempatkan hanya pada segala keberhasilan pelayanan maka saat pelayanan tersebut menjadi sangat sulit dan banyak penolakan, sukacita akan hilang.
Kalau kita membaca Lukas 10:1-12, di dalam pelayanan akan selalu ada orang yang menerima dan yang menolak. Tentu saja kita boleh bersukacita dengan pelayanan yang berhasil dan ketika orang lain berterima kasih atas pelayanan kita. Namun, janganlah berlama-lama dalam euforia tersebut, cepat-cepatlah kembali mengingat apa yang paling penting. Bersukacitalah karena Tuhan telah menyelamatkan kita. Sukacita ini lebih dari apa pun yang kita bisa raih di dunia karena kita menyadari anugerah Allah sungguh besar di dalam hidup kita. Sukacita sejati bukan terletak pada pencapaian duniawi atau pengakuan manusia, melainkan pada kepastian keselamatan yang telah Tuhan berikan. Sukacita ini tidak akan pudar oleh tantangan atau kegagalan karena akarnya tertanam kuat dalam kasih karunia Ilahi. Ketika kita bersukacita karena nama kita terdaftar di surga, kita mengakui bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa hebat pelayanan kita, tetapi oleh anugerah penebusan Kristus.
Sukacita atas anugerah Tuhan juga membebaskan kita dari tekanan untuk selalu berhasil dalam setiap aspek pelayanan. Kita tidak lagi terbebani oleh ekspektasi melihat hasil yang instan atau pujian dari orang lain. Sebaliknya, kita dapat melayani dengan hati yang tulus, memungkinkan kita untuk tetap setia dan bertekun. Bahkan ketika menghadapi penolakan atau kesulitan, kita tahu Tuhanlah yang memegang kendali situasi dan tujuan-Nya akan selalu tercapai. Ingatlah, Tuhan Yesus datang untuk melayani kita sampai ke titik terendah, sampai mati di kayu salib. Hanya Dia yang layak menerima semua puji-pujian dan kemuliaan.
Refleksi Diri:
- Apa yang menjadi sumber sukacita Anda selama ini? Apakah pada anugerah Tuhan di dalam hidup Anda atau keberhasilan-keberhasilan pelayanan Anda?
- Bagaimana supaya Anda tetap bersukacita di dalam melayani Tuhan?
