Bagikan artikel ini :

Rompi Orange dan Pertobatan Semu

1 Samuel 15:24-31

Berkatalah Saul kepada Samuel: “Aku telah berdosa (chatati), sebab telah kulangkahi (ki avarti) titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat (ki yareti et ha‘am), karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN.”
- 1 Samuel 15:24-25

Masih segar tercatat dalam berbagai media massa, seorang pejabat teras yang biasa tampil sebagai pribadi yang kuat, kini nampak kuyu, disertai tangis dan berompi orange, tanda sebagai tahanan KPK. Ketika rompi orange dikenakan, muncul penyesalan karena harus masuk tahanan dan menjalani pengadilan, bukan karena perbuatan korupsi yang telah dilakukan.

Apa hal tersembunyi dan Allah tidak ketahui? Tidak ada. Semua terbuka, terang benderang, relung hati terdalam pun semua terbentang di hadapan Allah. Kerap kali kita menyimpan rapat apa yang menjadi cela dalam hidup. Kerap kali kita memegang erat apa yang mengikat dan menjanjikan nikmat. Ketika semua akibat mendekat maka kian menjadi nekat, sana-sini kena sikut-sikat.

Uraian kata kunci ayat emas adalah chatati artinya aku telah berdosa. Saul memang mengakui dosanya, tetapi ia menunjukkan penyesalan karena akibat dosa yang dilakukannya, bukan karena melanggar kekudusan Allah.

Kata kunci lainnya ki avarti artinya karena aku telah melanggar dan ki yareti et ha‘am artinya karena aku takut kepada rakyat. Jadi, Saul sebetulnya lebih takut apa kata orang (rakyat) daripada apa kata Allah (Gal. 1:10).

Pertobatan sejati bukan hanya ditunjukkan dengan perasaan bersalah, tetapi juga berbalik kepada Allah dengan hati yang hancur (2Kor. 7:10). Namun, apa yang terjadi dalam diri Saul adalah pertobatan semu. Saul lebih takut opini rakyat daripada Tuhan, ia lebih takut kehilangan kedudukannya sebagai raja. Karena itu, ia mencoba meraih ujung jubah Samuel agar tetap menyertainya sehingga tidak dipermalukan (ay. 27). Ini menunjukkan pertobatan yang dangkal, Saul hanya peduli reputasinya, bukan hilangnya relasi dengan Tuhan.

Tanda pertobatan sejati adalah pengakuan akan dosa sebagai pelanggaran terhadap Allah, disertai kepedihan hati. Tanda lainnya nampak dari perubahan hidup setelah pertobatan. Saul jauh dari semua tanda tersebut. Ia sedih karena telah ditolak Tuhan, bukan karena kesadaran telah menyakiti hati Allah.

Sobat terkasih, bagaimanakah pertobatan yang telah terjadi dalam hidup kita? Apakah pertobatan semu atau sejati?


Refleksi Diri:

  • Apakah ada dosa-dosa yang coba Anda sembunyikan yang belum Anda akui di hadapan Tuhan?
  • Apakah Anda sudah mengakuinya di hadapan Tuhan dan menunjukkan penyesalan karena telah menyakiti hati Tuhan?