Relasional Atau Transaksional?
Markus 2:1-12
Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”
- Markus 2:5
Dalam teori psikologi hubungan sosial, relasi yang bersifat transaksional merupakan suatu bentuk hubungan yang didasarkan pada pertimbangan untung-rugi, jual-beli atau adanya timbal-balik. Seseorang berelasi karena saling membutuhkan atau karena ada kepentingan tertentu. Relasi transaksional biasanya tidak bertahan lama. Misalnya, relasi dalam bisnis akan berakhir saat tidak ada hubungan kerjasama bisnis lagi.
Berbeda dengan relasi relasional. Relasi ini merujuk pada hubungan antara sesama yang bersifat saling membutuhkan, saling memengaruhi, saling menguatkan, dan bukan sekadar interaksi sesaat. Relasi relasional bersifat personal, lebih dekat dan lebih kuat. Relasi ini berlangsung lebih lama, contohnya seperti relasi keluarga, persahabatan ataupun komunitas.
Cerita orang lumpuh yang disembuhkan merupakan gambaran dari pola relasi yang bersifat relasional. Relasi yang terjadi tidak memperhitungkan untung dan rugi, tetapi relasi yang didasarkan pada cinta kasih, persahabatan, dan kemurahan hati. Empat orang menggotong seorang lumpuh datang kepada Yesus supaya disembuhkan oleh-Nya. Cara mereka membawa orang lumpuh tersebut dengan penuh tekad, upaya dan usaha yang tidak mudah, yaitu dengan menurunkannya melalui atap rumah (ay. 4) agar bisa bertemu dengan Tuhan Yesus. Usaha mereka berhasil, Yesus menyembuhkan orang lumpuh tersebut (ay. 11). Yang menarik adalah respons Yesus, “Ketika Yesus melihat iman mereka, …” Yesus melihat bukan saja kualitas relasi yang ditunjukkan oleh keempat orang tersebut untuk menolong temannya, tetapi juga melihat iman mereka, yaitu keyakinan bahwa Dia dapat menyembuhkan temannya yang lumpuh.
Kisah ini menggambarkan dukungan sosial yang indah. Orang lumpuh bukan hanya ditolong keempat temannya, tetapi juga mendapatkan perasaan dikasihi dan diperhatikan, melalui tindakan nyata yang penuh totalitas. Sungguh berbahagia jika kita memiliki dukungan sosial seperti ini. Suatu relasi yang bukan hanya bersifat transaksional saja, tetapi juga bersifat relasional. Di era modern ini, memang sulit mendapatkan relasi yang bersifat relasional yang dapat memberikan dukungan dalam kehidupan ini. Untuk itu, mari memulainya dari diri kita sendiri yang mau menjadi penolong, pendukung bagi keluarga, sahabat atau komunitas kita. Bawalah mereka yang membutuhkan pertolongan, datang kepada Tuhan, dan percayalah pada kuasa Allah yang dapat menolong setiap pergumulan kita.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda memiliki dukungan sosial yang bersifat relasional? Apa yang Anda rasakan?
- Bagaimana Anda dapat memberikan dukungan sosial kepada keluarga, sahabat atau komunitas tempat Anda berkecimpung?
