Bagikan artikel ini :

Rasa Tenteram Yang Palsu

Amos 6

Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!
- Amos 6:1

Manusia seringkali melupakan Tuhan ketika hidup mereka dalam keadaan baik-baik saja. Hal ini sering terjadi, apalagi jika hidup seseorang sedang menanjak. Dengan semua kelimpahan materi yang dimilikinya, ia merasa Tuhan memperkenan hidupnya, padahal kenyataannya belum tentu. Lebih parahnya lagi, ia memusatkan hidupnya hanya pada kenyamanan. Sesungguhnya, ia sedang menikmati rasa tenteram yang palsu. Alih-alih bertobat, ia malah tidak lagi memedulikan teguran Tuhan. Orang tersebut telah menjadikan segala kenikmatan sebagai tuhan atas dirinya.

Inilah yang terjadi pada orang-orang di zaman Amos. Mereka merasa aman dengan segala kelimpahan yang dimiliki, apalagi banyak orang yang mencari bantuan kepada mereka (ay.1). Mereka merasa lebih baik daripada orang lain. Mereka hidup hanya mencari kesenangan, dengan segala kenikmatan paling top yang ada di zaman tersebut, tanpa memedulikan orang lain (ay. 3-6). Tidak hanya itu, orang-orang tersebut mengklaim bahwa kemenangan-kemenangan mereka adalah karena kekuatan sendiri (ay. 13). Hidup mereka hanya berpusat pada diri sendiri, menganggap semuanya dari diri sendiri dan untuk diri sendiri. Namun, Tuhan tidak tinggal diam. Dia berkata bahwa mereka akan menjadi orang-orang yang pertama dihukum dan dibuang (ay. 7). Akhirnya, semua yang dikatakan Tuhan terjadi dan kenyamanan yang mereka agung-agungkan lenyap begitu saja.

Rasa tenteram palsu nikmatnya sesaat saja, rasa tenteram asli hanya di dalam Kristus dan bernilai kekal. Tanpa Kristus kita hanyalah orang-orang yang pada akhirnya tidak pernah puas dengan segala yang ada dan semuanya hanya akan dinikmati sementara waktu. Namun, saat Tuhan Yesus menjadi pusat hidup kita yang paling berharga, pusat kenyamanan dan keamanan hidup kita, maka kita mendapatkan rasa tenteram yang asli.

Karena itu, ingatlah saat dalam kejayaan dan keberhasilan, jangan tinggalkan persekutuan dengan Tuhan. Jangan keraskan hati ketika mendengarkan teguran Tuhan. Segeralah bertobat! Ingatlah segala yang kita dapatkan dan miliki bukan karena kehebatan kita. Jadi, jangan sombong di hadapan orang-orang karena di saat itulah kejatuhan sudah menanti. Muliakanlah Tuhan dengan segala yang kita miliki.


Refleksi Diri:

  • Apa yang selama ini menjadi pusat rasa tenteram yang Anda paling cari? Mengapa?
  • Cobalah melihat kembali hidup Anda hari ini, bagaimana relasi Anda dengan Kristus? Apakah semakin dekat atau semakin jauh?