Raja Rasa Preman Pasar
2 Tawarikh 25:17-28
Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.
- Amsal 2:6
Satu kebodohan mengiringi kebodohan yang lain, itulah Amazia. Ia telah merekrut pasukan Israel Utara yang tidak dikenan Tuhan. Amazia melakukan penyembahan berhala kepada allah bangsa Edom, bangsa yang ditaklukkannya. Ia mengancam akan membunuh nabi yang menegurnya. Di puncak segala kebodohannya, ia menantang raja Israel Utara untuk adu kekuatan. Ini raja atau preman pasar? Bukannya memerintah dengan bijaksana, malah pamer otot sana-sini, mentang-mentang sukses mengalahkan Edom.
Dalam hal ini, justru si raja Israel Utara-lah yang bersikap sedikit lebih bijaksana. Yoas, raja Israel Utara, tidak serta merta mengiyakan tantangan tersebut, melainkan memberikan perumpamaan sindiran untuk menghina sekaligus menghentikan niat Amazia untuk adu kekuatan. Ia mengibaratkan Amazia seperti onak yang kemudian diinjak binatang hutan, sementara dirinya seperti pohon aras. Ia menyadarkan Amazia bahwa tindakannya didorong oleh kesombongan karena sukses menaklukkan Edom. Sebagai penutup, ia dengan sarkastik mengatakan kepada raja yang tingkahnya seperti preman pasar ini untuk “tinggal saja di rumah” (ay. 19). Tentu perkataan ini sangat menghina, seharusnya Amazia sadar. Sayangnya, Amazia malah makin menjadi-jadi bertindak sok preman. Singkat cerita, ia dikalahkan (ay. 22), dipermalukan ketika masuk ke Yerusalem (ay. 23), dan segala harta bendanya diambil (ay. 24).
Bagaimana bisa seorang raja melakukan kebodohan seperti ini? Jawabannya ada di ayat 27, yakni karena ia “menjauhi Tuhan”. Ia melakukan perzinahan rohani dengan menyembah dewa-dewa palsu bangsa Edom. Tidak heran Amazia menjadi makin bodoh karena menjauhi Tuhan yang adalah Sumber Hikmat.
Di masa kini, kita tidak menjauhi Tuhan dengan bersembahyang kepada dewa-dewi lain. Akan tetapi, mungkin kita mendadak menyembah uang setelah merasakan kenikmatannya. Mungkin kita menyembah popularitas setelah merasakan banyaknya angka likes dan followers di media sosial kita. Hal-hal ini membuat kita jauh dari Tuhan dan melakukan hal-hal bodoh, seperti korupsi dan mengikuti tren-tren viral berbahaya. Segala hal bodoh ini akan membawa kita pada kehancuran, seperti yang dialami Amazia.
Biarlah kisah ini menjadi peringatan bagi kita semua. Kalau tidak mau menjadi bodoh, janganlah kita menjauhi Sang Sumber Hikmat, yakni Tuhan kita, Yesus Kristus.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah melakukan hal-hal bodoh ketika sedang jauh dari Tuhan karena terpikat hal-hal lain?
- Apa yang perlu Anda lakukan untuk dapat tetap hidup dengan berhikmat?
