Bagikan artikel ini :

Pujian Di Saat Krisis

Mazmur 34:1-4

Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.
- Mazmur 34:2

Satu kali, seorang pelatih vokal melatih di gereja kami. Setelah mendengarkan khotbah saya, ia kemudian bercerita tentang anaknya yang sekolah di luar negeri menciptakan sebuah lagu. Ia memperdengarkan lagu gubahan anaknya, terdengar sangat indah sekali. Ia bercerita bahwa lagu tersebut lahir di titik terendah dalam hidup anaknya, ketika situasi begitu sulit dan terjepit, seperti khotbah Mazmur 34 yang baru saya sampaikan.

Mazmur 34 bukanlah Mazmur ratapan, melainkan Mazmur ucapan syukur. Mazmur yang begitu indah ini, justru lahir dari tempat yang paling tidak indah. Mazmur 34 ditulis setelah Raja Daud pergi dari Gat. Beberapa penafsir mengatakan kemungkinan ditulis di gua Adulam, tempat pelarian Daud dari pengejaran Raja Saul. Daud berpura-pura menjadi gila untuk menyelamatkan diri. Ia seperti kehilangan harga dirinya agar nyawanya tak hilang. Momen ini adalah salah satu titik terendah dalam perjalanan hidup Daud. Jika melihat kilas balik hidupnya, sewaktu ia diurapi dan mengkaitkan dengan apa yang terjadi selama hidupnya, semuanya tampak berantakan. Tampaknya, pengurapan Allah seperti tiada gunanya.

Namun, Mazmur 34 memiliki nuansa yang berbeda sekali dengan situasi mencekam yang Daud alami sebelumnya. Mazmur 34 dibuka dengan sukacita dan puji-pujian. Dalam situasi tertekan, Daud justru dapat memuji Tuhan. Ia tahu Tuhan hadir di tempat paling tidak aman sekalipun. Pujian Daud lahir bukan di dalam ruang ibadah yang tenang dengan suasana alunan musik yang memberikan kedamaian hati, melainkan di situasi paling mencekam. Daud justru berkata mau memuji Tuhan sepanjang waktu meski berada di situasi yang sangat sulit, sendirian, menekan, bahkan mengerikan. Daud memilih tetap terhubung dengan Tuhan, pandangannya tertuju kembali kepada Tuhan.

Waktu hidup Anda sedang berada di masa krisis, berhentilah sejenak, pandanglah Tuhan Yesus Kristus dan semua perbuatan-Nya, kasih-Nya, kedaulatan-Nya, dan keperkasaan-Nya. Kita akan dimampukan tetap memuji Tuhan, sekalipun situasi sedang tidak baik-baik karena kita tahu Tuhan tidak pernah membiarkan kita. Jangan tinggalkan ibadah dan persekutuan Anda di saat krisis, tetaplah bersaat teduh. Kita sering menyanyikan lagu-lagu himne lama yang lahir dengan latar belakang kisahnya. Tidak sedikit lagu-lagu indah tersebut lahir dari hati yang sedang hancur, di tengah situasi yang suram, sebab di sanalah Tuhan hadir dan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya.


Refleksi Diri:

  • Apa yang biasanya Anda lakukan di saat krisis, semakin jauh atau semakin dekat Tuhan Yesus?
  • Bagaimana Anda melihat Tuhan saat menghadapi masa-masa krisis? Apakah Anda sudah memuji Tuhan pada saat itu?