Puasa Dan Kerohanian Kita
Yesaya 58:1-12
Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
- Yesaya 58:6-7
Berpuasa merupakan salah satu disiplin rohani yang sudah lama dikenal dan dipraktikkan umat Allah sejak Perjanjian Lama. Berpuasa menurut Alkitab adalah sebuah bentuk perendahan diri di hadapan Allah. Umat Israel biasa melakukan puasa untuk mempersiapkan diri menjelang Hari Raya Pendamaian sebagai simbol dari rasa insaf, serta permohonan belas kasih dan pengampunan atas dosa-dosa mereka kepada Tuhan.
Di dalam perikop bacaan, kita menemukan satu masalah yang terjadi di antara orang Israel zaman itu. Banyak orang Israel yang nampaknya secara fisik berpuasa, tetapi di saat yang bersamaan mengkhianati arti dari berpuasa. Mereka nampak menjalankan puasa secara jasmani, tidak makan tidak minum, tetapi di saat bersamaan menindas buruh yang bekerja kepada mereka dengan memaksanya bekerja tanpa henti. Mereka juga tidak memedulikan orang-orang miskin.
Akan tetapi, Tuhan melihat perbuatan seperti ini adalah kekejian di hadapan-Nya, bahkan sebuah pengkhianatan dari makna berpuasa yang sesungguhnya. Ironis, orang yang sedang merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta memohon belas kasih pengampunan, tetapi di saat yang sama tidak punya belas kasih kepada sesama. Ayat 3 menjadi kunci untuk memahami kegagalan orang Israel dalam berpuasa, yaitu menjadikan diri mereka sebagai pusat hidup, bukannya Allah.
Melalui kegagalan bangsa Israel dalam hal berpuasa, kita mendapatkan pelajaran berharga untuk melihat lebih ke dalam kerohanian kita. Jangan-jangan selama ini kita melakukan perbuatan-perbuatan yang nampaknya rohani, tetapi pada hakikatnya mengkhianati arti sesungguhnya dari kegiatan-kegiatan tersebut. Mari renungkan kembali, ujilah kerohanian kita dalam hal berpuasa ataupun kegiatan-kegiatan agamawi lainnya yang kita lakukan. Siapa yang menjadi pusat hidup kita? Apakah Allah atau diri kita sendiri?
Refleksi Diri:
- Siapa yang menjadi pusat dalam setiap keputusan dan perbuatan yang Anda lakukan? Apakah Anda menjadikan Kristus pusat dalam setiap tindakan tersebut?
- Apakah kerohanian Anda semata hanya untuk kepentingan diri Anda sendiri atau Tuhan?
