Bagikan artikel ini :

Pilih Kasih

2 Tawarikh 11:18-23

Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
- Kolose 3:21

 

Kita telah melihat bagaimana Rehabeam bukanlah raja yang bijaksana. Namun, ketika beralih ke kehidupan keluarganya, Rehabeam sebenarnya adalah ayah yang cukup bijaksana. Ia bahkan lebih baik dari sebagian besar orangtua masa kini.

 

Rehabeam memiliki dilema. Sebagai seorang raja, ia perlu menentukan penerusnya. Ia memilih Abia karena ibunya, Maakha, adalah wanita yang paling dicintainya di antara segala istri dan gundiknya. Akan tetapi, ia tahu bahwa hal ini dapat menimbulkan perselisihan dan perang saudara di antara anak-anaknya. Jadi, ia melakukan tindakan yang bijaksana dengan memberikan masing-masing anaknya wilayah untuk dipimpin dan menempatkan mereka di luar Yerusalem. Hal ini dilakukannya guna menguatkan posisi Abia sebagai raja dan mencegah konflik internal dalam istana. Tak hanya itu, ia memberikan kehidupan yang berlimpah kepada anak-anaknya yang di luar Yerusalem. Dengan demikian, anak-anaknya tidak menganggapnya pilih kasih.

 

Jika Anda suka menonton film dinasti-dinasti Tiongkok yang penuh dengan segala intriknya, Anda akan mengerti ngerinya carut-marut perebutan takhta. Kengerian ini berhasil dihindari Rehabeam karena kebijaksanaan yang ia ambil. Coba bandingkan sikap Rehabeam dengan figur-figur ayah yang pilih kasih di dalam Alkitab, misalnya Yakub. Tindakan Yakub yang terang-terangan pilih kasih terhadap anak-anaknya membuat Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Anak-anak Rehabeam tidak berakhir demikian karena ia tahu cara memperlakukan anak-anaknya secara adil.

 

Seorang jemaat yang adalah ayah dari dua anak pernah mengatakan sebuah kalimat bijak kepada saya, “Kecocokan tidak bisa terhindarkan, tetapi mengasihi harus tetap adil.” Sebagai manusia, sangat wajar kita memiliki favorit tertentu. Kita mungkin lebih cocok dengan anak yang pendiam dan alim, sementara pasangan kita lebih cocok dengan anak yang aktif dan ekstrovert. Ini sangat manusiawi. Namun, hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk berlaku tidak adil. Keduanya harus mendapatkan kasih yang setara. Mengapa? Karena semua anak adalah anugerah dari Tuhan dan nilainya sederajat di hadapan-Nya.

 

Memang kita tidak separah generasi terdahulu yang membedakan anak berdasarkan gender dan urutan kelahirannya. Namun, bisa saja kita tetap memahitkan hati anak-anak kita dengan berlaku tidak adil. Jangan biarkan hal itu terjadi!


Refleksi Diri:

  • Bagaimana hubungan Anda dengan anak-anak Anda? Apakah Anda merasa ada anak yang lebih cocok dan dekat dengan Anda dibandingkan dengan yang lain?
  • Bagaimana cara Anda menjaga supaya kasih Anda dapat dirasakan secara adil oleh anak-anak Anda?